Mengulang Kelezatan Pempek 89
Makanan khas Palembang yang terbuat dari ikan tenggiri dan adonan tepung sagu ini memang selalu jadi favorit. Teksturnya yang lembut, lentur dengan rasa ikan yang kuat memang paling pas saat dinikmati dengan siraman cuko yang huah huah... mantap pedasnya! Sejujurnya, saya sempat kapok makan pempek. Tentu ada alasannya, pasalnya beberapa waktu yang lalu saya bertugas di Palembang selama sebulan dan setiap malam selalu makan pempek. Pokoknya semua jenis pempek termasuk pempek panggang pernah dicoba. Sehingga sepulangnya dari Palembang saya berjanji untuk berhenti makan pempek selamanya. Ternyata, saya tidak dapat memenuhi janji sendiri ketika suatu siang teman mengajak makan di Blok S, Kebayoran Baru, tepatnya di Pempek 89. Saat itu tempatnya masih sempit hanya memiliki kapasitas 12 tempat duduk. Menu yang ditawarkan sebagian besar adalah makanan khas Palembang, seperti ikan patin goreng dan pindang ikan patin, mie celor, martabak kari, tekwan, model dan aneka pempek tentunya. Selain itu juga tersedia nasi goreng, mie dan kwetiau goreng dengan porsi cukup besar. Hampir semua jenis makanan pernah saya coba. Pindang ikan patinnya berkuah pedas, meskipun terkadang ikannya berbau tanah. Favorit saya banget adalah model, tekwan, pempek dan krupuk Palembang. Sebetulnya model dan tekwan nyaris sama, makanan berkuah kaldu udang dengan campuran bengkuang, bihun, jamur kuping dilengkapi taburan ebi halus, bawang goreng dan irisan ketimun. Bedanya jika tekwan menggunakan bola-bola ikan tenggiri sedangkan model berupa tahu isi adonan ikan tenggiri. Rasa kaldu udangnya segar banget, enak dimakan panas-panas ditambah sedikit cuko pempek yang pedas. Benar-benar melegakan hidung yang tersumbat karena flu berat. Rasa ikan tenggiri pada pempek yang kuat meyakinkan saya bahwa komposisi ikan tenggiri lebih dominan dibandingkan dengan tepung sagunya. Karena makan model atau tekwan saja belum cukup mengenyangkan, biasanya saya akan memesan 2 buah pempek ukuran kecil sebagai dessert. Dimakan dengan cuko pedas dan krupuk sebagai pairing, aduhai nikmatnya. Ngaku deh memang yang paling ngangenin di sini adalah cuko pedas yang rasanya khas, tidak terlalu encer dan manis namun pedasnya pas. Sedangkan kerupuk Palembang yang dibuat sendiri sedikit bantat tetapi tetap crispy. Makanya, terkadang stock kerupuk ini tidak selalu tersedia, apalagi di musim hujan. Untuk minumannya, selain jus buah yang khas tentu saja es kacang merah yang lebih nikmat apabila sedikit dikurangi es batunya. Kali ini saya lebih memilih jus jeruk segar untuk meredakan kepedasan cuko pempek tadi. Dengan harga cukup bersahabat, berkisar Rp 2.000,00 - Rp 25.000,00, tidak heran cukup banyak pegawai kantoran yang menghabiskan makan siang di sini. Saat ini rumah makan Pempek 89 telah menempati area yang lebih luas dan nyaman di lokasi yang sama dengan kapasitas sekitar 70 tempat duduk. Kabarnya pempek ini juga menjadi favorit Pak Taufik Kiemas lho! (Jakarta-Nama: Alvijanti Rahajuningsih Email: [email protected]/dev/Odi) Pempek 89 (Pinggir Jalan Raya) Blok S, Kebayoran Baru Jakarta Selatan Sumber: detikFood Kunjungi selalu BLOG BANGOMANIA di http://bango-mania.blogspot.com
