*Mengunjungi Penyu "Indah" Bersisik di Pramuka*

ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Kom

(fotografer & penulis)







“Kamu sempat ketemu Mentri nggak ?”, tanyanya ketika baru saja langkahku
memasuki halaman depan penangkaran itu.

“Nggak”, jawab ku singkat sambil terus melangkah.

“Saya baru saja ngelepas Penyu Nih liat saya masih basah,” ujarnya setengah
berteriak, berhenti lalu memamerkan celana sepertiganya yang masih tampak
basah.

“Baguslah masih ada mentri yang mau mampir kesini”, jawabku sambil menoleh
dan tersenyum kearahnya

“Masa iya kamu gak ketemu ?”, tanyanya untuk kesekian kali sambil tetap
berdiri.

Mau tidak mau aku berhenti juga.

“Saya jauh-jauh kesini mau ketemu Bapak, bukan pengen ketemu Pak Mentri”,
ujarku sambil merangkul pundaknya, lalu setengah mendorong Si Bapak kearah
bangunan berkawat itu.

“Coba kalau kamu gak telat…khan Saya punya foto sama Pak Mentri”, gerutunya.

Oh itu toh…persoalannya. Aku menggeleng-geleng sambil tersenyum.

“Kamu wartawan ?”

Aku menggeleng.

“Saya fotografer”

“Orang milis ?”, tanyanya sambil menunjuk kearah papan,” tuh ada milis yang
sempat datang kesini”

(wah rupanya Si Bapak tahu milis juga)

“Saya dan temen-temen punya milis juga..saya salah satu moderator disana”,
jawabku, “*THE PROFEC*..pernah dengar ?”

Kini ganti ganti dia yang menggeleng.

*(wah kayanya Bu Lies perlu create outbond ke Pramuka nih **J)*

“Yah sudah nanti saya tulis deh..semoga milis-milis yang lain pada
mengerahkan anggotanya untuk berkunjung kesini..biar Bapak dan “anak-anak
angkatnya” nggak kesepian ha..ha..ha..”, gurau ku. “Jadi fotonya gak cuma
sama teman-teman di milis National Geographic Indonesia aja”



Pertama kali mendengar caranya bicara, pasti kita menganggap ia sedang
marah-marah. Tetapi memang seperti itulah cara ia berbicara, yang jelas ia
tidak sedang marah. Pak Salim, Sang Penjaga Penangkaran, memang lelaki yang
unik dan baik. Seunik binatang-binatang langka yang menjadi tanggung
jawabnya. Berbagai penghargaan telah ia terima, di papan dalam salah satu
ruang penangkaran itu bahkan terpajang foto Pak Salim sedang menerima
penghargaan dari SBY (presiden).



Bagi Anda yang belum tahu, Pulau Pramuka (salah satu pulau di Kepulauan
Seribu) adalah tempat penangkaran Penyu Bersisik. Berkunjung ke penangkaran
itu tidaklah mahal ataupun sulit. Kapal-kapal motor di Muara Angke (dalam
waktu-waktu keberangkatan sekitar jam 6-7 pagi) siap mengantar kita kesana.
Biayanya pun tidak mahal perkepala sekitar Rp. 30.000. Hanya dalam waktu 2,5
jam (sambil menikmati pemandangan indah lautan), maka Anda akan segera tiba
di Pulau Pramuka.



Setidaknya ada empat spesie penyu yang cukup dikenal luas. Penyu Hijau
(Chelonia Mydas), Penyu Belimbing (Dhermochelys Coriacea), Penyu Lakang
(Lepidochelys Olivacea) dan Penyu Bersisik (Eretmochelys Imbricata). Di
Pulau Pramuka kita dapat menjumpai penangkaran Penyu Bersisik. Hewan yang
indah berstatus : “dilindungi”. Ukuran cangkangnya bisa mencapai 70-90 cm
dengan bobot berat badan hingga 75 kg. Cukup besar dan lumayan berat
tentunya. Berparuh mirip burung elang berwarna kuning, bermata belok, dengan
sisik-sisik indah berwarna kecoklatan menghiasi rumah cangkang nya. Dengan
penampilan seperti itu Penyu Bersisik pantas menjadi sasaran para pemburu
yang terobsesi pada mereka. Diburu untuk diawetkan dan dijual sebagai
pajangan. Meskipun bisa bertelur hingga 90-120 biji, bahkan ada yang lebih,
populasi Penyu Bersisik segera menurun tajam, sebagian besar akibat
perburuan. Betapa tidak meskipun bisa bertelur sebanyak itu Penyu Bersisik
punya keterbatasan alamiah dalam perkembangannya. Pertama, siklus bertelur
yang hanya 2-8 tahun sekali. Kedua, dari sekian banyak telur yang
dihasilkan, yang menjadi tukik (anak penyu) dan berhasil hidup hanya
berjumlah belasan. Untunglah langkah-langkah konservasi segera diambil oleh
pemerintah lewat Peraturan Pemerintah (PP) No 7 Tahun 1999.



Namun betapapun usaha itu tidak akan efektif, tanpa peran serta kita,
orang-orang Indonesia ini. Jadi urusan konservasi bukan hanya urusan Pak
Salim, tetapi juga urusan Si Ketut, Ucok, Upik, Joko, Neneng dan semua orang
Indonesia.



Tidak akan terbayangkan bagaimana jika akhirnya kita akan kehilangan Penyu
Bersisik, sama seperti kita kehilangan Harimau Putih Bali. Begitu juga
dengan Burung Cendrawasih, Komodo, Harimau Jawa dan hewan-hewan luar biasa
istimewa lain yang merupakan kekayaan yang dianugerahkan TUHAN pada
Indonesia. Peran serta kita bersama pasti berdampak signifikan bagi
pelestarian hal-hal tersebut. Jadi ada baiknya jika kita memperkenalkan
kesadaran dan kebanggaan akan konservasi pada anak-anak kita sejak dini. Dan
pastikan mereka menjumpai hewan-hewan luar biasa itu di Indonesia, di
habitat mereka masing-masing, bukan di ruang tamu sebagai pajangan, atau di
museum dalam bentuk patung, foto atau film dokumenter. ***





-- 
*what a wonderfull world !
what an abundance life !!
what an exciting journey !!!*
Made Teddy Artiana, S. Kom

Saya di Majalah SWA sembada (agustus 5-19 2009)
http://www.swa.co.id/swamajalah/siapadia/details.php?cid=1&id=9583

[ My Photography PORTFOLIO ]
# Commercial Photography #
http://companyprofile.multiply.com
http://withbobsadino.multiply.com

# Wedding Special Photography #
Pernikahan Agung Puteri Sri Sultan Hamengku Buwono X
GRAJ Nurkamnari Dewi & Jun Prasetyo MBA
http://nurkamnaridewi.multiply.com

# Prewedding Photography #
http://theanonymouslove.multiply.com/
http://loveforallseasons.multiply.com/
http://outdoorprewedding.multiply.com
http://prewedding.multiply.com
http://prewedding1.multiply.com
http://prewedding2.multiply.com
http://prewedding3.multiply.com

# Wedding Photography #
http://candidwedding.multiply.com
http://weddingcandid.multiply.com

Kirim email ke