Pecel Lele Lela
Jalan Raya Kalimalang Blok A Nomor 5-7 Lampiri, Jakarta Timur
Telp. (021) 70463463

Terlena pada kreasi si hitam berkumis di Pecel Lele Lela: Kedai Lele Lela 
menyajikan berbagai masakan berbahan baku ikan lele

Oleh: Martina Prianti

Mencari kudapan ikan lele goreng atau bakar memang tak susah. Di Jakarta ada di 
mana-mana. Namun, ini peringatan bagi pecinta ikan lele: jangan merasa hobi 
makan lele sebelum menyantap aneka menu lele di Kedai Lele Lela.

Hanya ada pagi di Kedai Lele Lela. Tak peduli mentari ada di atas ubun-ubun 
kepala atau mentari sudah turun di kaki langit, tetap saja pagi di Kedai Lela.

Tak percaya? KONTAN merasakan "pagi hari" di tengah temaram menjelang malam 
itu. "Selamat pagi, selamat datang di Pecel Lele Lela," begitu pramusaji di 
situ menyapa KONTAN yang ingin mencoba kondangnya kenikmatan pecel lele di 
Lela, pada Senin (5/4) sekitar pukul 18.30 WIB.
Kedai pecel lele di Jalan Raya Kalimalang yang didominasi warna hijau ini 
memang sudah kondang di mana-mana. Karena di kedai ini, lele gorengnya tak 
sekedar dipecak sambal. Masakan lele di sini relatif beragam. KONTAN mencatat, 
setidaknya ada lima macam menu lele di situ.

Menu lele yang biasa adalah pecel lele orisinal, yakni lele goreng dipecak 
sambal plus lalapan. Menu ini tak ada bedanya dengan menu serupa yang banyak 
dijajakan di warung tenda pecel lele di pinggir jalan.

Sedangkan menu lele yang tidak biasa adalah lele filet, alias daging lele tanpa 
kepala dan buntut. Koki di Kedai Lela ini menyajikan masakan ini dalam potongan 
berbentuk dadu berukuran besar.
Kalau di daftar menu tak disebutkan sebagai lele filet, bisa jadi pengunjung 
bisa terkecoh itu bukan menu lele. Namun, cobalah celupkan potongan dadu 
berbalut tepung itu ke dalam saus padang atau saus tiram. Gigi akan bertemu 
dengan balutan tepung yang sedikit keras, setelah itu menyentuh lembutnya 
daging lele yang gurih.

Rangga Umara, sang pemilik kedai, menuturkan bahwa lele filet merupakan menu 
utama dan hasil kreasi Rangga yang pertama. "Menu ini terinspirasi karena 
banyak orang yang bilang takut sama kepala lele," ungkap Rangga.

Rupanya kreasi perdana ini langsung menjadi hits di kedai tersebut. Lantaran 
bentuk yang unik itulah, menu lele filet ini menjadi menu paling laris hingga 
sekarang.

Selain menu pecel lele dan lele filet, masih ada lagi menu lain hasil racikan 
Rangga. Racikan itu juga tak jauh-jauh dari hasil olahan daging ikan berkumis 
yang berkulit hitam nan licin itu. Lihat saja menu lele saus tiram, lele saus 
padang, dan lele goreng mentega.

Berbeda dengan lele orisinal atau lele filet, menu lele dalam beragam saus ini 
disajikan secara utuh alias satu ekor lele lengkap dengan kepala plus kumisnya. 
Namun, lele ini sudah berbaju tepung. Sajian lele ini kemudian disiram berbagai 
pilihan saus. Anda tinggal memilih sesuai selera.

Mari kita coba lele saus tiram. Rasanya cocok di lidah. Di situ ada perpaduan 
yang pas antara rasa manis, sedikit rasa asam, dan rasa asin.

Tak puas? Coba dengan saus padang. Warna saus yang merah menyala menjadikan 
sajian tampak semakin menggairahkan. Rangga menyediakan tiga tingkat kepedasan 
untuk menu yang satu ini: pedas biasa, sedang, dan pedas menyengat.

Pilihan itu jelas bergantung pada seberapa banyak keringat yang ingin Anda 
teteskan. Bagi penyuka bawang bombai, Kedai Lele Lela juga menyediakan lele 
saus mentega yang penuh dengan irisan bawang bombai.

Bicara soal harga, pengusaha muda asal Bandung ini tidak mematok harga 
selangit. Setiap porsi lele hanya seharga Rp 12.000.

Namun, buat yang tak suka lele, jangan keburu menjauhi kedai ini. Di sini juga 
menyediakan menu ayam. Mulai dari ayam bakar madu, ayam saus padang, hingga 
ayam kremes. Harganya juga bersahabat, cuma Rp 10.000 per porsi.

Berbiak di mana-mana

Tak kalah dengan menu-menu lele, menu ayam di Lela juga layak dicoba. Ayam 
bakar madu yang ditemani sambal terasi, misalnya, sangat menggugah selera. Rasa 
madu terasa. Bila menyantap ayam itu dengan sambal terasa, koalisi manis madu 
dengan rasa pedas benar-benar terasa nyambung. Sayang, Lela hanya menyediakan 
sayur ca kangkung.

Soal minuman, tersedia cukup banyak menu, mulai dari beragam jus hingga minuman 
ringan dengan harga standar warung makan. Coba saja menjajal teh stroberi. 
Begitu ditenggak, terasa manis kecut, tapi rasa segar pun datang.

Bisa jadi karena variasi menu lele yang kreatif ini membuat Lela cepat punya 
nama. Meski baru berdiri empat tahun dengan modal cuma Rp 3 juta, Lela sudah 
bercabang-cabang hingga sebanyak 18 kedai.

Rangga memang membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin membuka kedai Lela 
ini. Dia menerapkan sistem franchise. Kalau tak ada aral melintang, bulan 
depan, Lela akan menambah cabang lagi, empat di Jakarta dan empat di Bandung.

Dengan cabang sebanyak itu, tak heran kalau dalam sehari, Rangga perlu 
berbelanja ikan lele sebanyak satu ton. Bandingkan dengan ketika awal buka 
usaha ini, yang sehari cuma butuh lele sebanyak empat kilogram saja. 
"Sebenarnya, saya hanya menyajikan sesuatu yang sudah disukai orang banyak tapi 
dengan cara berbeda," ucap Rangga, merendah.

Rangga juga terus berkreasi untuk kedainya yang buka mulai pukul 11.00 dan 
tutup pukul 23.00 WIB ini. "Bulan-bulan berikutnya akan ada menu tambahan," 
ucap Yudha Manggala, Manajer Pecel Lele Lela Cabang Kalimalang.

Satu hal yang menarik lainnya dari Lela adalah promosinya yang unik. Promo 
pertama, memberikan makan gratis seumur hidup bagi pengunjung bernama Lela. 
Kedua, makan gratis bagi yang berulangtahun. Caranya gampang, cukup menunjukkan 
tanda pengenal.
Anda bernama Lela?

Sempat ditegur Starbucks

Mimpi Rangga itu akhirnya terwujud. Sebanyak 18 cabang Pecel Lele Lela saat ini 
telah berdiri dan tersebar di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi 
(Jabodetabek).
Pria kelahiran Bandung, 30 tahun silam, ini mengaku sempat jatuh bangun dalam 
membuka bisnis. Bisnis pertama yang dirintisnya sewaktu menjadi pegawai 
perusahaan swasta adalah usaha komputer. Nyatanya, "Baru bisa merasakan usaha 
ada hasilnya dari lele ini," kenang Rangga.

Perjalanan Lela juga tak selicin lele. Rangga mengaku, tepat setelah tiga tahun 
Lela berdiri, atau tepatnya tahun lalu, Starbucks melayangkan keberatan atas 
logo Lela. Syukur, mediasi dan langkah damai yang diajukan Rangga diterima dan 
gugatan pun batal dilayangkan.
Rangga menyatakan, sebenarnya logo kedai yang dia desain pada 2006 itu tidak 
sama persis dengan logo Starbucks. Selain gambar tengah yang berbeda, warna 
hijau yang digunakan sebenarnya berbeda. "Saya hanya terinspirasi dan 
menerapkan pola ATM: amati, tiru dan modifikasi," dalihnya.

Menurut Rangga, bila Lela tidak tumbuh dan berkembang seperti sekarang, 
barangkali keberatan Starbucks itu tidak akan ada.

Meski demikian, untuk menepis segala keberatan dari pihak manapun, Rangga 
memutuskan untuk mengubah logo usaha itu. Tidak lagi menggunakan lingkaran 
hijau bertuliskan Pecel Lele Lela bak logo Starbucks.

Logo baru Lela kini berupa gambar lele terlentang di atas piring sambil 
memegang sendok dan garpu, bibir tersenyum lebar, plus kerlingan mata nan 
genit. Sebelumnya, gambar ini berada dalam lingkaran hijau.

Rangga optimistis, perubahan logo tidak akan mempengaruhi penjualan. Alasannya, 
"Masyarakat kini telah tahu apa itu Lele Lela," yakin Rangga.

Kontan - 12-18 April 2010


Facebook:
Radityo Djadjoeri

Kirim email ke