Sajian Kuliner
30 Maret 2010, 15:18:33| Laporan Manda RoosaNostalgia Sepotong Rangin
suarasurabaya.net|
Jajanan yang satu ini selalu membawa romatisme ke masa lalu. Di
masa-masa sekolah dasar. Penjualnya mudah ditemui mangkal di sekolahan.
Memanggul pikulan yang berisi panggangan sederhana.
Cara masaknya unik, mengandalkan alat jutik
sederhana untuk mengangkat rangin. Ditaburi gula pasir di atasnya dan
disajikan di atas selembar kertas bekas. Ah, itu penjual rangin jaman
dulu.
Kalau sekarang, mencari bakul rangin ternyata bukan pekerjaan mudah,
karena selalu berkeliling dan rute berjualannya juga tidak bisa
ditebak. Jarang ada bakul rangin yang menetap di satu tempat, kalaupun
ada biasanya nongkrong di sudut pusat perbelanjaan, toko atau di
sekolahan. Itu pun sudah jarang.
Wajar jika banyak orang yang kangen dengan rangin, perpaduan beras dan
kelapa ditambah taburan gula di atasnya membuat banyak yang jatuh hati.
Harganya, juga murah meriah dengan uang dua ribu, bisa dapat 10 buah.
Rasanya gurih, dan paling pas dimakan selagi hangat, karena jika
dingin, rangin berubah menjadi lembek.
Rangin, sebenarnya berasal dari Jawa Barat, kue berbahan parutan kelapa
tersebut dikenal dengan Bandros, di Jakarta jajanan ini disebut dengan
nama kue Pancong. Tapi di Surabaya lebih populer dengan kue rangin.
Tampilan rangin kini sudah moderen dan mewah. Setelah dipanggang,
rangin tidak sekedar ditaburi gula, tapi ada tiga pilihan taburan di
atasnya, yaitu keju, kacang dan cokelat.
Foto :ANTON KUSNANTO, M-comm
function fbs_click()
{u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u=http://kuliner.suarasurabaya.net/?id=13fd74fcb061b61bec35cffe19b6c354201075045&t='+encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');return
false;}Share on Facebook