SORE itu habis hujan di Bromo dan kawasan pegunungan Tengger pada umumnya.Kabut melayang-layang mendekati tanah.Dalam hawa yang lumayan dingin, secangkir kopi yang disuguhkan di kafe yang merangkap galeri foto sungguh merupakan suatu kemewahan.
Di Java Banana, sebuah hotel butik yang tidak jauh dari bibir kaldera pegunungan Tengger yang belum beberapa tahun berdiri, secangkir kopi memang merupakan suatu kemewahan yang senantiasa tersedia. Secangkir kopi itu pun selalu disertai dengan pisang, entah goreng, rebus ataupun bakar, kesemuanya selalu disiapkan dengan taburan keju, cokelat ataupun mentega. Itu pulalah yang mengawali nama hotel tersebut, Java Banana, kombinasi kopi, yang dalam bahasa Inggris sering juga disebut "Java", dengan pisang. Secangkir kopi itu pulalah yang membekali kami pada subuh pagi berikutnya. Setelah dibangunkan menjelang subuh, menyeruput secangkir kopi sungguh menghangatkan tubuh. Di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, meminum kopi di subuh itu merupakan sensasi tersendiri. Pagi itu selain rombongan kami, rombongan turis Belanda juga bersiap menikmati pemandangan indah yang disuguhkan di daerah Penanjakan, dataran seluas beberapa ratus meter di ketinggian 2.700 meter dari permukaan laut. Kami bisa menyaksikan terbitnya matahari yang secara pelanpelan menyinari Gunung Batok, Kawah Bromo, dan di kejauhan Gunung Semeru yang sekali-sekali melepaskan asapnya ke langit biru. Di dataran inilah para penggemar fotografi banyak menemukan pengalaman menakjubkan.Perjalanan kami ke Penanjakan ternyata bersamaan dengan rombongan yang menginap di tempat lain, dengan jip Toyota yang menjadi ciri khas daerah tersebut, sehingga berjalan beriring-iringan menyeberang lautan pasir dan menyisiri punggung gunung layaknya sebuah safari. Kalau awal cerita ini terasa puitis, memang sepantasnyalah demikian. Keindahan Gunung Bromo memang sangat dikenal di seluruh dunia. Bahkan Raffles, yang menjadi penguasa Jawa dari Inggris pada tahun 1800-an, juga mengagumi keindahan Gunung Bromo dan masyarakat suku Tengger sebagaimana digambarkan dalam bukunya The History of Java.Goenawan Mohammad menggambarkan kawasan Gunung Bromo sebagai mystical majestic mountain. Itulah sebabnya Bromo menjadi bagian yang dikenal dengan "3 B", yaitu Borobudur, Bromo, dan Bali. Seperti sebuah sekuen, satu demi satu, dari barat ke timur. Di galeri hotel tersebut,kita bisa melihat foto-foto yang sangat indah. Foto-foto tersebut tidak hanya menyajikan pemandangan indah, tetapi juga gurat wajah para penduduk di perdesaan Tengger tersebut. Penduduk yang umumnya beragama Hindu merupakan kelompok masyarakat yang masih memelihara tradisi yang telah diwarisi turun-temurun dan senantiasa menjaga harmoni dalam kehidupan mereka di kawasan tersebut. Oleh karena itu, daya tarik Bromo bukanlah sekadar kawah yang masih aktif hingga hari ini,juga kawasan pegunungan Tengger secara keseluruhan dengan berbagai keistimewaan serta masyarakatnya. Mereka tampak makmur dengan pertanian palawija yang sangat subur memungkinkan memiliki kawasan perumahan yang tampak apik. Bahkan populasi jip Toyota yang banyak dipergunakan untuk melayani para turis di kawasan tersebut--sekarang ini berjumlah sekitar 350--jelas bukan suatu tanda kemiskinan. Di kaldera Tengger, selain Gunung Batok dan Gunung Bromo, kita juga bisa menyaksikan dan mengambil gambar hamparan pasir yang menjadi tempat pengambilan gambar film Pasir Berbisik.Lebih jauh lagi, kita akan menyaksikan pergantian suasana dari lautan pasir menjadi kawasan padang ilalang yang menampilkan bunga ungu bak lavender,juga pohon kembang adas kekuningan di kawasan yang dikenal sebagai savanna. Dari kawasan savannatersebut,kita bahkan bisa menyaksikan pemandangan alam sangat indah yang terbangun dari formasi bebatuan di dinding yang berlapis-lapis antara bebatuan warna hitam kelabu dengan tumbuhan warna hijau di antaranya. Jika kita naik ke dataran di atasnya yang merupakan bibir kaldera Tengger dari arah lain, kita akan menyaksikan pemandangan yang spektakuler.Sayangnya jalannya sangat sempit dan menanjak sangat tinggi sehingga jika kita berpapasan dengan kendaraan lain, pengalaman itu bisa saja mempercepat detak jantung kita. Java Banana akhirnya melengkapi keindahan pegunungan Tengger dengan kompleks vila dan penginapan yang ditata sangat asri. Bangunan-bangunan yang mengombinasikan berbagai corak,tradisional Manado maupun Denmark, yang kesemuanya disajikan dalam bentuk minimalis dengan nuansa kayu yang merata di banyak bangunan,pada akhirnya bagaikan menyatu dengan bumi pegunungan tersebut.Sementara itu,pegunungan yang menjulang tinggi seakan mengelilingi kawasan perhotelan tersebut. Hotel butik Java Banana dikemas dengan kamar-kamar sangat baik. Satu bangunan bahkan dipersiapkan sebagai tempat menginap sebuah rombongan dengan tiga kamar yang masing-masing berisi bunk bed (tempat tidur bertingkat) yang mampu menampung tiga orang sehingga pada akhirnya bangunan yang meniru vila di Denmark tersebut mampu menampung sembilan orang.Bangunan tersebut juga dipersiapkan dengan kamar tamu,kitchenette,dan kamar mandi yang bisa memanjakan rombongan yang menginap. Hotel tersebut sudah menjadi destinasi wisata para turis di seluruh dunia.Mereka bisa mengetahui kehadiran hotel tersebut melalui situs internet. Bahkan mereka yang pernah tinggal memberikan testimoni dan juga memberikan peringkat untuk hotel tersebut. Sungguh suatu cara promosi modern yang sangat efisien.Hotel tersebut juga mampu mengisi kekosongan hotel premium untuk kalangan kelas menengah kita. Kalau di Bali kita bisa mendapatkan butik hotel seperti itu dalam berbagai bentuknya, maka bisa dipahami bahwa kebutuhan akan tempat menginap yang mampu memanjakan para tamunya sudah banyak tersebar di Pulau Dewata tersebut. Dengan kehadiran Java Banana,kekosongan hotel di kelas seperti itu akhirnya terisi. Pada akhirnya, kita bisa memperkirakan para turis Jepang, yang sebelumnya mungkin menghindari Bromo karena kurangnya fasilitas yang mereka butuhkan, bukan tidak mungkin akan datang ke kawasan pegunungan tersebut. Pada akhirnya, kawasan Gunung Bromo dan pegunungan Tengger pada umumnya merupakan suatu kawasan yang nilainya tidak terkira. Itulah sebabnya kita perlu memeliharanya sehingga sebanyak mungkin anak cucu kita masih memiliki kesempatan untuk menikmati dan menghargainya.Jika para tamu dari Eropa,Amerika, Australia,dan Asia lainnya memerlukan waktu untuk mengagumi keindahannya,rasanya amat layak jika pemerintah, baik pusat maupun daerah, menjadikan kawasan tersebut sebagai alam yang harus dilestarikan. Sayangnya saya melihat jalan mendaki ke Penanjakan dari laut pasir dalam keadaan rusak, tidak terawat, dan sangat berbahaya. Ini sungguh kontras dengan kawasan Borobudur dan Bali yang dikelola secara profesional dan dengan sepenuh hati. Saya yakin, saya akan datang lagi lain kali menikmati keindahan kawasan tersebut dan penduduknya. Karena gunung Bromo ternyata bukan hanya untuk anak muda dan yang suka petualangan, Gunung Bromo dapat dinikmati oleh kita semua.(*) CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO Pengamat Ekonomi http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/320155/ Facebook: Radityo Djadjoeri YM: radityo_dj Twitter: @mediacare
