Kicauan Sang Influencer

Fenomena influencer di jejaring micro-blogging kian marak. EFektif untuk 
pemasaran model baru.

Narablog Enda Nasution berkicau di Minggu pagi pekan lalu. Kicauan pria yang 
dikenal sebagai Bapak blogger Indonesia ini lain dari biasanya. Enda dengan 
terang mengampanyekan sebuah brand lewat situs jejaring sosial Twitter. Begini 
isinya: "[Ini adlh iklan hihihi] Dah tau #vaselinemen amazing journey? Blum? 
Lgsg follow...." Dua hari berselang kicauan serupa ditampilkannya kembali 
dengan cara yang berbeda. "Bantuin mencet jerawat dong. Biar bisa nonton bola 
di Afrika! #vaselinemen."

Enda tidak melakukannya cuma-cuma. Adalah Unilever, perusahaan multinasional 
asal Belanda, yang meminang Enda untuk mengangkat produk perawatan tubuh khusus 
pria itu dikenal di ranah maya. Di sini Enda berperan sebagai influencer atau 
pemberi pengaruh. Kredibilitas Enda sebagai tokoh narablog, penulis, dan 
penggiat di Twitter memungkinkan apa yang dituliskannya di jejaring sosial 
mendapat perhatian khalayak dalam dan luar negeri.

Tugas Enda tidak sulit. Lulusan Institut Teknologi Bandung ini cukup 
melemparkan kicauan yang ada kaitannya dengan perawatan tubuh pria. Para 
pengikutnya otomatis akan digiring mengenal lebih banyak perihal suatu produk 
lewat account brand. Biasanya promosi dengan cara ini disertai hadiah, seperti 
tiket nonton Piala Dunia di Afrika atau gadget model terbaru. "Tidak semua 
brand saya bantu, paling sepersepuluh kegiatan saya di Twitter untuk klien," 
katanya.

Belakangan ini memang banyak brand mulai melirik Twitter sebagai alternatif 
komunikasi. Kehadiran #vaselinemen menambah panjang daftar brand ternama yang 
membanjiri situs micro-blogging sepanjang 2010. Misalnya #bukasemangatbaru dari 
Coca-Cola, #50persen dari Anlene, #soimpressive dari Vios, dan 
#Soyjoyhealthylicious. "Semua terkit dengan aktivitas brand di Twitter," kata 
Prita Satvika, pengelola blog Media-Ide. Tanda pagar (#) yang disematkan di 
depan tulisan adalah untuk memudahkan melacak percakapan tentang suatu hal di 
Twitter.

Promosi ini tergolong baru. Kini perusahaan terus bergerilya memasarkan 
produknya di semua lini. Selain membuka accout brand di Twitter, mereka 
berpikir untuk menghidupkannya. Nah, caranya, ya itu tadi, memanfaatkan 
pengaruh penggiat aktif dunia maya seperti Enda -yang dikenal sebagai 
influencer- untuk menghidupkan account brand itu. Tujuannya agar pangsa pasar 
meluas, citra brand mengkilap, dan laba perusahaan berlipat. "Kami lakukan 
promosi di mana pun atau 360 derajat," kata Rio Kaunang, Media Relations PT 
Unilever Indonesia Tbk.

Twitter adalah layanan micro-blogging yang memungkinkan penggunanya mengirimkan 
pembaruan status atau informasi berupa tulisan teks. Sesuai dengan namanya, 
Twitter yang artinya berkicau, pengguna hanya bisa menuliskan teks maksimal 140 
karakter, lebih sedikit dibanding jumlah karakter pesan pendek pada telepon 
seluler sebanyak 160 karakter. Sisa karakter adalah kuota untuk nama pengguna 
(user) yang diletakkan di awal pesan. Aplikasi yang mempunyai konsep blog mikro 
ini diluncurkan pada Maret 2006 oleh perusahaan rintisan Obvious Corp. di 
Amerika Serikat.

Berbeda dengan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter lebih sederhana dan 
interaktif karena hanya berupa pesan pendek yang bisa dibaca semua pengguna 
yang terhubung dengan pengguna lainnya, atau disebut pengikut (follower) dan 
yang diikuti (following). Demi kesederhanaan itu pula, Twitter dilengkapi 
fasilitas penyingkat link (short-link) bagi pengguna yang ingin merujuk pada 
halaman artikel di situs lain.

Fenomena penggunaan influencer untuk promosi brand di Twitter tak lepas dari 
semakin pesatnya penggunaan blog mikro ini. Kini pengguna Twitter di Indonesia 
mencapai 5,5 juta tweps (sebutan pengguna Twitter atau pekicau). Dua tahun 
silam masih ratusan ribu saja. Untuk Asia, Indonesia dinobatkan sebagai 
pengguna Twiiter nomor wahid setelah Jepang (3,5 juta tweps) dan India (2,3 
juta tweps). Untuk kategori dunia, Indonesia di urutan keenam. Pengguna Twitter 
di dunia telah mencapai 240 juta lebih. Mereka dari berbagai kalangan, mulai 
pelajar, artis, sampai pejabat negara.

Melonjaknya lalu lintas pesan pengguna Twitter di Indonesia memicu apa yang 
disebut trending topic. Misalnya ketika penyanyi Mbah Surip meninggal pada 
Agustus lalu. Topik di Twitter tidak jauh membahas soal #MbahSurip. Peristiwa 
ledakan bom di JW Marriott dan Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, serta Koin 
Peduli Prita pun memicu trending topik Gerakan #IndonesiaUnite dan #freeprita. 
Nah, salah satu tugas influencer adalah membuat yang berhubungan dengan brand 
menjadi topik populer.

Menurut Rio Kaunang, kehadiran para influencer sangat berguna agar kampanye 
sebuah produk sukses di dunia maya. "Efektif," katanya. Para influencer 
memiliki penggemar fanatik yang memungkinkan perilaku mereka selalu diikuti. 
Pola promosi yang dilakukan influencer pun disesuaikan dengan kapasitasnya 
sebagai penulis independen. "Tidak dipaksakan, mereka memberikan testimoni 
sesuai dengan pengalaman mereka." Biasanya, untuk promosi sebuah produk, pihak 
pemasar menggunakan lebih dari satu influencer, disesuaikan dengan bidang 
masing-masing.

Penulis ternama sekaligus penggiat Twitter, Raditya Dika, mengaku selalu 
selektif memilih brand yang ingin menggunakan jasanya secara komersial sebagai 
influencer. "Saya harus bertanggung jawab, ada 200 ribu lebih following di 
belakang saya," kata lajang 25 tahun yang memiliki pengikut di Twitter 
terbanyak kedua di Indonesia itu. Tapi Raditya dipastikan akan membantu sebuah 
brand yang sesuai dengan visi dan misinya.

Bergunakah para influencer? Malcolm Gladwell, penulis buku laris The Tipping 
Point, menjelaskan sebuah tren akan muncul jika dipicu segelintir orang 
berpengaruh. Gladwell mencontohkan perusahaan sepatu Hush Puppies -hampir pasti 
bangkrut pada 1994- yang mendadak bangkit. Hanya dalam dua tahun, penjualannya 
naik 5.000 persen tanpa sepeser pun mengeluarkan biaya iklan. Semua itu, 
menurut Gladwell, karena ada "segelintir superinfluential types" yang 
mempengaruhi orang lain untuk meniru memakai sepatu Hush Puppies.

Dalam pemasaran, fenomena yang dialami Hush Puppies disebut sebagai word of 
mouth marketing (WOM). Konsepnya, dengan mendekati segelintir orang yang amat 
berpengaruh untuk memakai produk, orang-orang yang mengagumi mereka akan 
tertarik membeli produk yang sama, tanpa harus melihat iklan.

Ed Keller dan Jon Berry, penulis buku The Influentials, mengatakan peran 
influencer sangat besar. "Influencer bisa membuat atau bahkan merusak sebuah 
brand," kata mereka. Betapa pentingnya seorang influencer, berdasarkan catatan 
stasiun televisi VOX, Amerika, setiap tahun lebih dari US$1 miliar dibelanjakan 
untuk kampanye WOM dengan pertumbuhan 36 persen per tahun.

Pendapat berbeda datang dari Duncan Watts, saintis teori jejaring lulusan 
Columbia University yang membuat model komputer penyebaran rumor dalam tempo 
singkat. "Tren bisa meledak, tidak bergantung pada siapa yang memulai, tapi 
bergantung pada kesiapan seluruh masyarakat untuk menyambutnya," katanya.

Apa pun teorinya, konsultan kehumasan Radityo Djadjoeri mengatakan dunia 
kehumasan sudah memasuki era Public Relations 2.0. Artinya, aktivitas kehumasan 
tak lagi melulu di ranah media konvensional, melainkan sudah memasuki new 
media. "Merambah ke berbagai jejaring sosial," katanya.

Di Amerika, profesi influencer bisa memperoleh bayaran menggiurkan, mencapai 
US$ 10 ribu per bulan. Di Indonesia, negara dengan pengguna Internet yang terus 
bertambah (kini 25 juta orang), para penulis, narablog, atau artis yang 
berperan sebagai influencer memang masih menjadikannya sebagai sampingan. Tapi 
bayarannya tak kalah menggiurkan juga. Seorang influencer ternama dengan jumlah 
umat berjubel bisa dibayar Rp 1 juta untuk sekali kicauan di Twitter.

Ke depan, fenomena ini kelihatannya masih bisa mengarah ke mana saja 
-barangkali juga honor yang berlipat-lipat.

Rudy Prasetyo

Tempo - 12-18 April 2010

Facebook: Radityo Djadjoeri
YM: radityo_dj
Twitter: @mediacare

Kirim email ke