Belut sawah di Warung Pak Sabar
Oleh Budi Suwarna

Warung Welut Pak Sabar itu letaknya menyempil di Kampung Dokaran, Banguntapan, 
Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, nama dan rasanya melintas batas 
kampung dan terdengar hingga ke kota.

Dari jalan kampung, warung itu tidak kelihatan. Pengunjung harus masuk kampung 
di Kelurahan Tamanan, dulu beberapa puluh meter untuk menemukan warung 
tersebut. Seperti rumah di kampung, bangunan warung itu sederhana saja. Dinding 
terbuat dari kayu dan atap tanpa plafon. Sore itu, kami datang ke warung 
tersebut. Suasana lebih mirip rumah nenek dalam dongeng kanak-kanak ketimbang 
warung.

Pemilik warung, Sabar (47) dan istrinya, Sri Umidah (45), menyambut kami dengan 
hangat dan menyilakan kami duduk di kursi-kursi kayu. Tidak lama kemudian, Sri 
menyodorkan dua gelas teh hangat. Ah, kami terkesan dengan kehangatan Sabar dan 
Sri. Warung itu tiba-tiba seperti sebuah rumah sendiri yang nyaman.

Ketika tiba waktu makan, Sri menyodorkan sepiring belut goreng, keripik tulang 
belut, sambal belut, lalapan, dan nasi hangat. Dalam hitungan menit, semua 
hidangan langsung tandas. Sambal belut buatan Sri lumayan nikmat. Daging belut 
yang lembut dan gurih berpadu pas dengan pedasnya cabai rawit.

Sambal itu dibuat dari campuran daging belut yang telah dihancurkan ditambah 
bawang putih, cabai rawit merah, kencur, dan daun jeruk purut. Dua bumbu 
terakhir membuat sambal ini terasa segar dan tidak bikin enek.

Goreng belutnya tidak kalah gurih. Aroma bawang putih dan kunyit masih terasa 
jejaknya di lidah. Goreng belut itu enak disantap dengan cocolan sambal belut. 
Sabar juga menyediakan sambal tomat, terasi, dan bawang.

Kita boleh memesan sambal atau goreng belut sesuai selera. Mau belut goreng 
setengah matang oke. Mau belut goreng garing, monggo. "Tinggal bilang, nanti 
saya buatkan," ujar Sabar yang juga ikut memasak menu belut.

Sabar hanya menggunakan belut yang diambil dari sawah. "Saya tidak memakai 
belut hasil ternak. Rasanya tidak akan seenak belut sawah," katanya. Memasak- 
nya pun menggunakan tungku tanah berbahan bakar kayu. Alami kesannya.

Warung ini mendapat pasokan belut dari pengepul belut di Kulonprogo, dan 
Klaten. Dua kali seminggu, mereka mengirim belut hidup masing-masing sekitar 40 
kilogram. Belut itu baru disiangi jika ada pesanan.

Selain belut, pada musim-musim tertentu, warung makan ini menyediakan hidangan 
ikan gabus. Seperti belut, ikan gabus itu juga diolah secara sederhana, yakni 
digoreng atau dibuat sambal penyet.

Boleh ketok pintu

Belut hidangan Pak Sabar membuat kangen orang yang pernah menikmatinya. 
Pelanggan, kata Sabar, kebanyakan justru datang jauh dari luar Kampung Dokaran. 
Ada yang dari Kota Yogyakarta, Sleman, Magelang, Tasikmalaya, bahkan Jakarta. 
"Asal telepon dulu, jam berapa pun kami layani," ujar Sabar.

Warung buka dari pukul 10.00 hingga 22.00 malam. Namun, kata Sabar, pembeli 
dari daerah lain kadang datang di luar waktu buka warung. Suatu ketika ada 
pelanggan yang datang pukul 02.00 dini hari. Setelah makan, mereka nongkrong 
sampai subuh. "Kalau tidak dilayani, saya kasihan. Mereka kan datang dari jauh. 
Ini juga risiko saya buka warung di rumah. Jam berapa saja, orang bisa mengetuk 
rumah," katanya.

Para pelanggan yang datang tak kenal waktu. Namun, toh membawa rezeki, kata 
Sabar. Pasalnya, pelanggan model begini biasanya datang rombongan. Sekali 
datang mereka bisa menghabiskan uang Rp 500.000.

Satu piring belut goreng atau sambal belut dipatok harga Rp 5.000. Gabus goreng 
dihargai Rp 4.500 per piring. "Kebanyakan orang beli kiloan. Satu kilo belut 
dihargai sekitar Rp 50.000," ujarnya.

Dari sawah turun ke warung

Sabar mulai jualan nasi belut tahun 1977. Awalnya, dia diajak temannya mencari 
belut di persawahan di sekitar Bantul tahun 1997. Dia mendapat tuhgas memasak 
belut hasil buruan. Ternyata masakan belut buatan Sabar disukai teman-temannya. 
"Katanya sambal belut saya enak," ujar Sabar.

Sabar yang saat itu berjualan angkringan memasukkan belut sebagai lauk Nasi 
Kucing. Ini adalah nasi bungkus dalam porsi mini ditambah satu sendok lauk atau 
sambal. Hasilnya, Nasi Kucing dengan lauk belut banyak peminatnya. Dia sampai 
kewalahan memenuhi permintaan pelanggan.

Awal tahun 2000-an, dia memutuskan membuka warung nasi belut di depan rumahnya. 
Hingga empat tahun kemudian, warung nasi belutnya belum terlalu ramai. Saat itu 
dalam satu hari, Sabar paling hanya bisa menjual dua kilogram belut. Namun, 
kini Sabar rata-rata bisa menjual 15 kilogram belut dan belasan kilogram ikan 
gabus setiap hari.

Warung Welut Pak Sabar
Kampung Dokaran, Banguntapan, Bantul, DIY
Kompas - 6 Juni 2010


Facebook: Radityo Djadjoeri
YM: radityo_dj
Twitter: @mediacare
4sq: http://foursquare.com/user/mediacare

Kirim email ke