Memang ini bukan pesan sampah, saya pernah beberapa lama menulis intens
tentang pertanian dan berapa banyak anggaran yang dihabiskan untuk mengimpor
tepung gandum yang sebenarnya sangat bisa disubstitusikan dengan
tepung-tepung buatan dalam negeri sendiri.

Selain itu, petani juga masih kesulitan untuk mengolah pangan segar produksi
mereka menjadi tepung-tepungan, supaya bisa lama disimpan dan bernilai jual
tinggi. Jadi kalau pesan ini disikapi dengan wajar, maksudnya tidak dengan
emosional menyebut sebagai sampah, saya pikir akan ada jalan keluarnya.

Salam


>  [image: Yahoo! 
> Groups]<http://groups.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTJlbXIwOWxkBF9TAzk3NDc2NTkwBGdycElkAzE5NjcxMDQ5BGdycHNwSWQDMTcwNzU4OTAwNgRzZWMDZnRyBHNsawNnZnAEc3RpbWUDMTI3OTYzMzcyNg-->
> Switch to: 
> Text-Only<[email protected]?subject=change+delivery+format:+Traditional>,
> Daily 
> Digest<[email protected]?subject=email+delivery:+Digest>•
> Unsubscribe <[email protected]?subject=unsubscribe>• 
> Terms
> of Use <http://docs.yahoo.com/info/terms/>
>    .
>
> 
>

Kirim email ke