Tungku Kebudayaan Keindonesiaan

Oleh: Garin Nugroho

Sejarah kebudayaan bangsa-bangsa mencatat bahwa daya
hidup kebudayaan suatu bangsa di masa krisis
digantungkan oleh kemampuan suatu bangsa mengelola
tiga aspek produk kebudayaan. Yang pertama adalah
merawat dan memberi hidup produk kebudayaan yang
mengandung aspek kesejarahan di berbagai bidang.
Sebutlah bangunan kuno, musik klasik, musik etnik,
sastra kuno, hingga penemuan sains dan teknologi.
Sejarah membuktikan, mereka yang mampu mengelola
sejarah diri, justru kemudian mempunyai daya hidup
panjang, berkualitas, dan terbuka dengan berbagai
kemungkinan.

Sebutlah, contoh kecil, kemampuan bangsa-bangsa Eropa
merawat dan mengelola peninggalan sejarah di tengah
masa krisis pasca-PD II. Terbukti, kini, bangunan
sejarah, karya seni klasik, hingga literatur dan
penemuan masa lalu menjadi sejarah diri yang
dihidupkan oleh investasi turisme dan menjadi muara
karakter berbangsa, pendidikan dan pengembangan seni,
sains, dan teknologi baru. Simaklah desain-desain
teknologi Jepang yang sederhana dan praktis namun
genial. Inilah sebuah kuantum masa kini dan masa depan
yang bermuara dari budaya Zen, yang bisa dilacak
metamorfosanya dalam seni rias, rupa, pertunjukan, dan
kriya tradisi Jepang. Simak pula, plaza-plaza di
kota-kota besar dunia, yang mengambil referen kearifan
dan genialitas plaza-plaza era megalitikum seperti
plaza di Nias.

Aspek kedua daya hidup kebudayaan adalah kemampuan
mengelola produk kebudayaan yang bersifat umum,
industrial, dan ekonomis. Sebutlah, produk kebudayaan
populer yang genial dan kompetitif, seperti fashion
hingga musik pop. Inilah kebudayaan serba cepat
berubah, terbuka, massal, dan berelasi dengan gaya
hidup, teknologi baru, dan ruang publik kaitannya
dengan waktu senggang dan ruang komunal bersama.
Jangan lupa, muara ekonomi maupun karakter berbangsa
dan kebudayaan Amerika dikelola dari investasi ekspor
kebudayaan populernya, seperti musik hingga film dan
televisi. Jangan heran, kebudayaan populer Amerika
menjadi investasi ke dua terbesar setelah investasi
alat-alat militer, dan berada di atas investasi
produk-produk lainnya, seperti mobil.

Aspek ketiga, daya hidup bangsa digantungkan oleh
kemampuan bangsa-bangsa mengelola produk kebuyaan yang
bersifat alternatif, ataupun garda depan, atau juga
kontemporer. Yang terpenting dari daya hidup aspek ini
adalah kemampuan melakukan penemuan dan penjelajahan.
Sebutlah karya-karya musik Supanggah, Sadre, Tony
Prabowo, hingga koreogafi Sardono W Kusumo, ataupun
juga karya Dwiki Dharmawan dengan kelompok
Krakataunya.

Tungku api

Yang harus dicatat, ketiga produk kebudayaan tersebut,
baik kesejarahan, populer maupun alternatif, adalah
sebuah tungku api, yang saling bergantung,
memengaruhi, dan berelasi menghidupi peradaban baru.
Sebutlah karya-karya perupa Soenaryo yang membawanya
ke Bianalle, bermuara dari warna, garis, bentuk dan
produk patung asmat. Ataupun sebaliknya, tari-tari
Saudati Aceh menjadi tontonan populer dan pertunjukan
sekolah ketika awalnya dikelola sebagai tarian
kontemporer oleh Sardono dan rekan-rekannya. Oleh
karena itu, kematian dan kemunduran dari salah satu
aspek tersebut sesungguhnya memundurkan peradaban
suatu bangsa. Di sisi lain, kemampuan mendialogkannya
di ruang-ruang publik baru akan mampu memberi muara
pengembangan apresiasi yang terbuka dan beragam serta
memberi inspirasi tentang keindonesiaan yang
multikultur.

Dalam perspektif di atas, maka Megalitikum Kuantum
menjadi menarik karena ia menjadi salah satu medium
momen kreasi dan apresiasi mendialogkan ketiga aspek
kebudayaan tersebut dalam sebuah ruang publik panggung
massa, yang mengalami percepatan kuantum, melahirkan
revolusi dunia panggung dengan penontonnya, yang
mengalami percepatan pasca-lima tahun krisis ini.
Sebuah kuantum dunia panggung, yang memetamorfosa
pusat-pusat kebudayaan, tidak saja hanya di Taman
Ismail Marzuki ataupun komunitas, namun di kafe hingga
di ruang publik seperti stadion sepak bola, maupun
panggung-panggung bergerak yang direnovasi dari bis
ataupun truk.

Haruslah dicatat, persoalan utama massa krisis,
terletak pada kecenderungan ruang anomali yang hanya
diisi oleh kebudayaan massa yang vulgar dan penuh
kekerasan. Sebuah dampak dari politik sebagai panglima
yang serba massa dan uang, serta ekonomi memecahkan
krisis yang penuh konsumerisme tanpa etika. Maka, bisa
diduga, kebudayaan etnik ataupun alternatif Indonesia
kehilangan daya hidup dan dialognya dengan masyarakat.
Simaklah, di satu sisi maraknya tontonan panggung
massal selama lima tahun terakhir ini, dan di sisi
lain, sepinya penonton dan sponsor terhadap seni-seni
alternatif dan tradisi di berbagai ruang publik.

Dialog budaya etnik

Pertunjukan Megalitikum Kuantum adalah salah satu
perjalanan membuat tungku api kebudayaan, yakni dialog
produk budaya etnik, populer dan alternatif, maupun
dialog antara seni, pengetahuan dan teknologi serta
industri. Inilah salah satu tawaran kreatif
menciptakan medium dekonstruksi dan konstruksi
keindonesiaan yang multikultur dalam ruang publik dan
masyarakat yang terus bermetamorfosa.

Saatnya, setelah lebih dari lima tahun krisis, beragam
dialog kreatif untuk mendekonstruksi sekaligus
konstruksi keindonesiaan ditawarkan dan dikerjakan!

Garin Nugroho, Direktur Yayayan SET (Sains Estetika Teknologi)

Baktos,

Rahman, Wassenaar/NL


                
____________________________________________________
Start your day with Yahoo! - make it your home page 
http://www.yahoo.com/r/hs 
 


Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke