Tingkatkan EWS
William Chang

Tragedi kemanusiaan yang merenggut nyawa dan
mencederai manusia kembali menodai upaya perdamaian
dan keadilan.

Bom Bali II (1/10/2005) mengingatkan betapa pentingnya
Early Warning System (EWS) menghadapi kemungkinan
peledakan bom-bom baru di hari-hari mendatang. Alarm
keamanan negeri kita berlampu kuning. Calon wisatawan
akan berpikir ulang sebelum berlibur ke Indonesia.
Mereka yang ingin mencari ketenangan dan istirahat
malah dihadiahi ledakan bom.

Selain meninggalkan trauma, rasa aman dan damai dalam
negeri mulai memprihatinkan. Sikap hospitalitas dan
saling percaya di masyarakat mulai sirna. Rasa curiga
terhadap orang tak dikenal meningkat. Kepercayaan
dunia akan kesanggupan negeri menjamin keamanan,
guncang.

Citra negeri sebagai negara cinta damai tercoreng.
Sendi-sendi keamanan sedang dirongrong dengan tindak
kekerasan yang merugikan semua pihak (orang tak
bersalah, rakyat kecil, tamu, usahawan, dan negara).
Tampaknya upaya perbaikan citra bangsa melalui situs
www.indonesiafocus.org (14/12/2004) oleh mantan Menlu
Ali Alatas dan Menteri Komunikasi dan Informatika
Sofyan A Djalil terpukul oleh kasus bom-bom bunuh
diri.

Mengurai fanatisme

Kawat-kawat yang dirajut di balik peledakan bom bunuh
diri adalah fanatisme in sensu lato. Marciano Vidal
(1937-…) dalam Etica civile e società democratica
(1992: 181) memandang fanatisme sebagai salah satu
penyakit paling berbahaya yang dapat melemahkan,
menimbulkan trauma dalam hidup seseorang dan kematian
hidup bersama. Individu dan kelompok yang terbakar
fanatisme akan menjadi pengancam langsung dan tak
langsung bagi hidup demokratis.

Dalam proses sekularisasi, kawat-kawat fanatisme tidak
hanya terbatas di bidang agama, tetapi merembes ke
bidang-bidang hidup lain, seperti ideologi, politik,
kultur, bahkan moral. Fanatisme ini dipandang sebagai
patologi perilaku manusia yang menganut tiga unsur:
(1) yakin diri yang berlebihan sebagai pemilik segala
kebenaran; (2) menghidupi keyakinan sebagai kekuatan
mistik; (3) merasa seakan-akan berkewajiban memaksakan
keyakinan dalam diri orang lain.

Kawat-kawat fanatisme ini memuat misi khusus yang
seolah wajib dilaksanakan tanpa mempertimbangkan
lingkungan, dampak positif dan negatif. Onggokan
pendapat keliru dan dilebih-lebihkan yang belum diolah
secara obyektif ditemukan dalam kawat ini. Keyakinan
irasional lebih diutamakan daripada penyelidikan atas
kebenaran. Praduga-praduga negatif berkembang pesat.
Kebenaran sulit dilihat karena fanatisme menyangkal
kenyataan multidimensi. Tindak kekerasan apa pun akan
ditempuh demi misi khusus. Tak heran jika fanatisme
umumnya berakhir dengan tindak kekerasan.

Rasionalitas politik

Kasus bom bunuh diri (kekerasan), fanatisme,
kekerasan, dan kerugian-kerugian material termasuk
paket PR bersama. Menghadapi fanatisme, menurut
Voltaire, perlu dicurahkan ”roh filosofis” yang
dapat mengubah pandangan hidup dan perilaku manusia di
masyarakat. Tiga nilai hakiki ini dinantikan
masyarakat kita: (1) nilai rasionalitas yang terbuka
dan berdasar dialog hidup dalam kejujuran; (2) nilai
hidup bersama dalam masyarakat multikultur; (3)
mengembangkan pikiran, pandangan dan kebijakan
inklusivisme.

Jaringan fanatisme dan kekerasan ini, antara lain,
dihadapi dengan meningkatkan rasionalitas politik di
negara kita. Batu sendi pendirian negara mengupayakan
kemanusiaan yang adil dan beradab melalui jalur
pendidikan dan kesejahteraan rakyat menjadi prioritas
perjuangan politik bangsa. Kedamaian akan lahir dari
iklim sosial-politik yang menjunjung kebenaran hukum
di atas siapa dan golongan apa pun.

Rasionalitas politik ini mencakup pengaktifan kembali
jaringan sel terkecil di masyarakat agar keadaan
sosial dapat terpantau dari waktu ke waktu. Terjadinya
peledakan bom-bom bunuh diri termasuk akibat kelalaian
pihak keamanan dan warga dalam menghadapi iklim sosial
sekarang. Sudah waktunya pemerintah (termasuk
pemerintah daerah) dan masyarakat meningkatkan sistem
EWS dengan mengurai kawat-kawat fanatisme sosial dalam
rangka menghadapi aneka kemungkinan aksi terorisme,
seperti bom bunuh diri atau aksi-aksi destruktif lain.

William Chang Pemerhati Masalah-masalah Sosial
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/06/opini/2106619.htm

Baktos,

Rahman, Wassenaar/NL


                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke