Bangsa Tak Berakhlak
Sarlito Wirawan Sarwono

Akhlak adalah jargon agama untuk budi pekerti (istilah
sekolahan), atau Moral atau Etika (istilah ilmiah).
Ilmu Filsafat membedakan etika (baik-buruk), dari
estetika (indah-jelek) dan logika (benar-salah).

Sesuatu yang benar belum tentu indah, yang indah belum
tentu baik, yang baik belum tentu benar, dan
seterusnya. Namun, idealnya, hidup ini merupakan
keseimbangan antara ketiganya. Misal, meski benar
secara logika bahwa badan istri bertambah berat,
tidaklah etis kalau mengatakan, Kamu kok makin gendut,
sih? Bukankah lebih estetis, lebih manis, jika
berkata, Yuk, ke butiknya Dewi Hughes. Rasanya ada
baju yang lebih pas, buat kamu.

Tak berakhlak

Saat pesawat Mandala jatuh di Medan belum lama ini,
dan setelah mengaitkan dengan banyaknya kecelakaan dan
petaka yang sebenarnya tidak perlu terjadi, saya
beranggapan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang
teledor.

Namun, seorang teman mengingatkan, keteledoran
mengandung unsur ketidaksengajaan. Meninggalkan kompor
menyala sehingga terjadi kebakaran, atau alpa mengecek
rem sehingga mobil masuk jurang, atau lupa mengunci
pintu sehingga si kecil masuk saat ayah sedang
bercinta dengan ibu, itu namanya teledor.

Jika membakar kampung tetangga gara-gara ada cewek
kena colek, atau mengeroyok pencopet sampai mati
padahal belum tentu berdosa, atau korupsi miliaran
rupiah tetapi tidak mau dipenjara meski sudah diputus
pengadilan, atau sengaja berselingkuh atau berjudi,
itu namanya bukan teledor, tetapi tidak berakhlak,
kata kawan saya. Dalam perilaku tidak berakhlak ada
niat, atau kesengajaan untuk berbuat buruk, atau
melanggar etika, atau immoral.

Waduh... kalau begitu banyak perbuatan bangsa kita
yang tidak berakhlak. Sengaja melanggar lampu merah
sehingga lalu lintas macet, sengaja menaikkan harga
untuk keuntungan sendiri, sengaja membeli ijazah palsu
untuk mengelabui calon mertua, meminta pungutan liar,
menebang hutan lindung, menyuap calo DPR, menggelapkan
barang bukti, merusak sekolah karena tidak lulus
ujian, dan seterusnya, itu contoh, ribuan bahkan
jutaan. Pantas jika Indonesia mendapat julukan salah
satu negara paling korup di dunia, bahkan paling
munafik, karena kemaksiatan berjalan seiring makin
maraknya hidup keagamaan bangsa ini.

Tidak berdampak

Masalahnya, menurut logika, tidak seharusnya maksiat
berjalan seiring agama. Bagaimana mungkin agama tidak
berujung kepada akhlak yang baik, seperti yang selalu
diteorikan? Tentu ada yang salah. Beberapa pakar
berpendapat, agama kita di Indonesia baru sebatas
upacara, belum memengaruhi sikap mental sehingga tidak
ada dampaknya pada perilaku. Tetapi, kok bisa,
pendidikan dan pelajaran agama yang sudah masuk
kurikulum sejak TK sampai mahasiswa tidak berdampak
pada sikap?

Jika pertanyaan ini dijawab dari teorinya para ustadz
dan khatib, tidak akan ketemu penjelasannya. Karena
dalil yang selalu dikemukakan pemuka agama adalah jika
kita melaksanakan ajaran Tuhan dan Rasul, ujungnya
pasti akhlak (dunia) dan surga (akhirat). Padahal
dalil inilah yang justru diterapkan dalam praktik
pendidikan agama di sekolah-sekolah Indonesia: sejak
TK murid diwajibkan menghafal ayat-ayat kitab suci dan
doa-doa. Ulangan dan ujian juga seputar ayat-ayat dan
doa-doa itu.

Sementara itu, menurut teori psikologi, khususnya
teori belajar, yang terjadi sebaliknya. Dalam teori
belajar dikatakan, seseorang harus berbuat dulu
(psiko-motorik), baru timbul pemahaman (kognitif),
akhirnya timbul sikap (afektif). Dengan demikian,
untuk belajar akhlak, anak TK-SD seharusnya disuruh
belajar praktik budi pekerti dulu, misal, bagaimana
mengucap terima kasih, mengapa orang harus meminta
maaf, apakah hari ini sudah mencium tangan mama-papa,
apakah sudah memberi makan kucing kesayangan? Dan
seterusnya.

Melalui praktik budi pekerti timbul empati, yaitu
kemampuan menyayangi binatang, mengagumi keindahan,
menghargai dan berempati pada orang lain, dengan
sendirinya akan terhindar dari sikap arogan atau mau
menang sendiri. Ketika anak belajar ayat atau doa-doa,
ia akan paham apa yang dimaksud ayat dan doa itu
sehingga ia tidak akan menghujat atau membunuh orang
lain sambil kerongkongannya meneriakkan nama Tuhan.

Sarlito W Sarwono Guru Besar Psikologi UI

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/08/opini/2073148.htm

Baktos,

Rahman, Wassenaar/NL


                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now.
http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke