Mencari Pribadi yang Agung

Dunia terus berubah dan berbagai tantangan muncul. Setiap orang
berusaha untuk menghadapi tantangan ini dengan berbagai cara dan
upaya. Stephen R Covey dalam buku terbarunya mengajak orang untuk
mengatasi turbulensi kehidupan bukan hanya dengan berperilaku efektif,
tetapi juga menjadi pribadi yang agung.

Buku terbaru Covey, The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness,
mengajak kita untuk mulai memerhatikan kebutuhan orang-orang di
sekitar kita, untuk melampaui efektivitas dan meraih keagungan diri kita.

Selama ini Covey telah menancapkan eksistensi publiknya, antara lain
sebagai begawan kepemimpinan, ahli keluarga, guru, penulis, dan
konsultan organisasi.

Dunia mengenal Covey terutama lewat karyanya The 7 Habits of Highly
Effective People. Puluhan juta orang di seluruh dunia, secara pribadi
maupun dalam konteks profesional, belajar menjadi manusia efektif
dengan melakukan tujuh kebiasaan yang dipaparkan dalam buku itu.

Tujuh kebiasaan tersebut adalah menjadi proaktif, memulai dengan akhir
dalam pikiran, mendahulukan yang utama, berpikir menang, berusaha
mengerti terlebih dahulu baru dimengerti, mewujudkan sinergi, dan
kebiasaan pembaruan diri.

Dalam buku The 8th Habit, kebiasaan ke-8 bukan sekadar penambahan satu
kebiasaan lagi dari 7 kebiasaan yang sudah ada. Kebiasaan ke-8 adalah
menemukan suara panggilan jiwa kita dan mengilhami orang lain untuk
menemukan suara kemerdekaan jiwa mereka.

Di awal buku ini digambarkan ilustrasi mengenai keagungan yang
diangkat dari kisah nyata Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank,
organisasi unik yang didirikan dengan tujuan tunggal menyalurkan
kredit mikro bagi kaum miskin di Banglades.

Yunus menceritakan, semua ini bermula 25 tahun yang lalu. Dia mengajar
ekonomi di salah satu universitas di Banglades. Negeri itu dilanda
kelaparan. Yunus merasa ngeri sekali. Di situlah dia mengajarkan teori
ekonomi yang muluk-muluk di ruang kelas dengan antusiasme seorang
doktor yang baru lulus dari Amerika Serikat.

Tetapi, begitu selesai mengajar, dia keluar kelas dan langsung melihat
kerangka hidup berkeliaran di sekelilingnya, yaitu orang-orang yang
sekarat tinggal menuju ajal. Yunus merasa, apa pun yang telah dia
pelajari, apa pun yang dia ajarkan hanya merupakan khayalan, tak punya
arti bagi kehidupan orang-orang itu.

Akhirnya Yunus mulai belajar untuk mengetahui kehidupan orang-orang
kampung yang tinggal di sekitar kampusnya. Yunus ingin mengetahui
apakah ada sesuatu yang dapat dia lakukan sebagai sesama manusia untuk
menunda atau menghentikan kematian walaupun hanya menyangkut satu
orang saja.

Singkat cerita, Yunus mulai membiayai seorang ibu pembuat dingklik
bambu di satu desa. Lama kelamaan, semakin banyak ibu yang dibiayai
dan Yunus meminjam uang dari bank di kampusnya. Yunus bisa meyakinkan
bank tersebut bahwa orang-orang desa itu pasti sanggup mengembalikan
uang yang dipinjamnya. Dan benar, akhirnya semua pengusaha kecil yang
diberi pinjaman sanggup mengembalikan uang yang dipinjamnya. Akhirnya
dari satu orang menjadi ratusan yang dibiayai Yunus.

Dari satu desa berkembang jadi ratusan desa. Akhirnya, tanggal 2
Oktober 1983, Yunus mendirikan sebuah bank resmi yang independen.
Grameen Bank kini bekerja di 46.000 desa lebih di Banglades melalui
1.267 cabangnya dengan lebih dari 12.000 anggota staf. Bank ini
meminjamkan lebih dari 4,5 miliar dollar AS.

Muhammad Yunus merupakan contoh pribadi yang agung. Dia merasakan
adanya kebutuhan orang-orang di sekitarnya, lalu menanggapi bisikan
nuraninya dengan memanfaatkan bakat dan gairah hidupnya untuk menjawab
kebutuhan banyak orang tadi.

Empat peran

Covey mengatakan, keagungan bisa diraih dengan melakukan empat peran
kepemimpinan. Peran pertama adalah menjadi panutan. Bila kita melatih
diri untuk tekun melakukan tujuh kebiasaan manusia yang efektif, siapa
pun kita akan menjadi panutan yang hebat.

Peran kedua adalah menjadi perintis jalan, dalam arti mengarahkan
hidup dengan visi. Ini dimulai dengan diri sendiri dan kemudian
mengilhami orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Peran ketiga ialah menjadi penyelaras. Dalam konteks organisasi, hal
ini nyata sekali, yaitu diperlukan pengaturan agar sistem dan struktur
organisasi serta pelaksanaannya selaras dengan visi yang sudah
ditetapkan. Dalam fungsi kepemimpinan kita, entah formal maupun
informal, bisa menghidupi hal itu, mulai dari diri sendiri. Peran
keempat adalah menjadi pemberdaya, yaitu membantu orang lain mencapai
potensi dirinya.

Dalam konteks Indonesia, dengan turbulensi yang begini hebat, keempat
peran tersebut digarisbawahi Presiden Direktur Kelompok Kompas
Gramedia Jakob Oetama ketika diwawancarai oleh Managing Director
Dunamis Nugroho Supangat, dalam rangka menyambut kedatangan Stephen
Covey di Jakarta pada 30 November 2005.

Secara khusus, Jakob Oetama menunjuk peran yang bisa disumbangkan oleh
dunia usaha, dengan perintisan yang dia sebut sebagai social corporate
responsibility, yaitu suatu tanggung jawab sosial yang mestinya
mewarnai sepak terjang dunia usaha.

Nilai dasar di balik itu adalah suatu paham, yang ternyata juga
diajarkan agama apa pun, bahwa hak milik itu berdimensi sosial.

Pada tataran mikro, ditunjukkan pula bahwa semua peran itu bisa
dilakukan oleh setiap orang dari kita, mulai dari diri kita, dalam
lingkup pengaruh kita masing-masing. Pendeknya, menghidupi panggilan
hati dan mengilhami orang lain untuk hidup berdasarkan panggilan hati
terdalam mereka.

Dalam konteks ini, Covey menyebutkan berbagai anugerah yang dimiliki
setiap orang sejak kelahirannya, yaitu kemampuan untuk memilih, hukum
alam, dan prinsip-prinsip serta kecerdasan jamak. Dengan menundukkan
ketiga kecerdasan yang pertama pada kecerdasan yang terakhir, yang
sering disebut hati nurani, kita akan hidup dengan penuh makna dan
keagungan.

Turbulensi yang terjadi di Indonesia dapat dikatakan berawal dari
persoalan ekonomi yang menjadi semakin lengkap dengan persoalan
politik dan sosial. Di tengah persoalan ekonomi yang terasa mengimpit,
dibutuhkan Muhammad Yunus-Muhammad Yunus lain yang mau melakukan
sesuatu untuk lingkungan sekitarnya.

Dimulai dari suatu yang kecil, lingkaran yang kecil, kemudian dapat
menjadi lingkaran yang besar dan akhirnya bisa mengubah sesuatu secara
signifikan. Apa yang dilakukan Yunus sangat sederhana, namun akhirnya
membawa dampak yang luas.

Inilah yang diperlukan untuk mengatasi semua persoalan negara saat
ini. Memulai sesuatu dari diri sendiri. Menemukan suara dan membantu
orang lain untuk menemukan juga suaranya.

Bunda Teresa pernah berkata, hanya sedikit di antara kita yang bisa
melakukan hal-hal besar, tetapi semua orang di antara kita dapat
melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.(Tiur Santi Oktavia)





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/wlSUMA/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke