Genealogi Gerakan Islam di Indonesia
Oleh Umdah El-Baroroh
17/01/2006

Kelengahan Yudi melihat dinamika internal ini juga telah menjebaknya
dalam melihat fenomena anak muda NU di akhir abad 20. Ia dengan serta
merta memasukkan mereka dalam barisan liberalisme Islam. "Kalau ada
Rumadi atau Baso di sini, pasti mereka akan keberatan untuk dimasukkan
dalam Islib"


Baru-baru ini dosen muda Universitas Paramadina,Yudi Latif, kembali
meluncurkan sebuah buku yang cukup menarik, "Inteligensia Muslim dan
Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim Abad ke-20". Buku setebal 700-an
halaman ini konon merupakan buah karya doktoralnya yang ia sabet dari
Australian National University, Australia. Buku inilah yang menjadi
bahan diskusi Jaringan Islam Liberal (JIL) Rabu, 21/12 lalu. Sebagai
pembicara, dihadirkan dua tokoh muda, Burhanudin, aktivis Jaringan
Islam Liberal sekaligus calon mahasiswa Australian National
University, serta Edwin Arifin dari Reform Institute yang juga
merupakan alumni dari Universitas yang sama.

Menurut Edwin karya Yudi ini merupakan sumbangan pemikiran yang sangat
berarti dalam bidang sosiologi politik dan sejarah. Ia telah berhasil
memetakan corak pemikiran ke-Islaman di Indonesia dalam rentang waktu
kurang lebih satu abad (abad XX). Aktivis Reform Institute ini juga
menilai buku Yudi mempunyai kekuatan teoritis yang sangat bagus.
Melalui metode genealogis ala Foucault, Yudi berusaha memerhatikan
gerak perkembangan diakronik dan rantai intelektual antar-generasi
dari intelegensia muslim Indonesia. Tujuan metode genealogis bagi
Edwin adalah mencatat kekahasan (singularity) peristiwa-peristiwa di
luar maklumat yang itu-itu saja (monotonous finality). "Karena
sejarah, mengutip Foucault, tidak hanya melaporkan apa yang sebenarnya
terjadi di masa lampau, tetapi yang lebih penting adalah mendiagnosa
situasi sekarang serta menawarkan kritik dan preskripsi penyakit masa
kini dengan melongok masa lampau", tegasnya lebih lanjut.

Di samping membaca sejarah, metode ini juga digunakan oleh penulis
buku untuk melihat relasi kuasa yang terjadi pada domain pendidikan,
ruang publik, praktek wacana, dan permainan kuasa. Penulis merasa
perlu untuk melongok wilayah pendidikan. Karena wilayah ini baginya
merupakan ruang kontestasi kekuasaan dan sumber legitimasi
intelegensia. Sementara praktek wacana mentransmisikan dan memproduksi
kuasa yang akan diekspresikan dalam arena publik.

Selain keunggulan metode yang diungkapkan oleh pembicara awal,
pemetaan intelegensia muslim di Indonesia serta pembedaan terminologi
intelektual dan intelegensia juga menjadi perhatian kedua pembicara
malam itu. "Bagi Yudi intelegensia itu merujuk pada sebuah strata
sosial dan mengindikasikan suatu `respon kolektif' dari sistem nilai,
habitus dan ingatan kolektif tertentu", jelas aktivis JIL, Burhanudin.
"Sementara intelektual pada awalnya adalah merujuk pada
`individualitas' dari para pemikir dan mengindikasikan respon
indiviual dari para pemikir terhadap sebuah `panggilan' historis atau
fungsi sosial tertentu."

Bagi calon mahasiswa ANU ini, definisi Yudi atas dua term di atas
tampak berlawanan dengan definisi Dawam Raharjo atas keduanya. Menurut
cendekiawan yang membidani lahirnya Lembaga Studi Agama dan Filsafat
(LSAF) ini, sebagaimana ditulis dalam bukunya "Intelektual
Inteligensia dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim",
intelektual adalah golongan terpelajar yang sekolahan atau bukan (drop
outs), yang peranannya tidak mesti berkaitan dengan ilmu yang
dipelajari atau profesi yang ditekuninya. "Mereka biasanya berperan
sebagai kritikus sosial, bersikap emansipatoris, dan kerapkali
bersifat politis", lanjut Burhan mengutip tulisan Dawam. Sementara
inteligensia adalah kaum terpelajar yang menggunakan disiplin ilmunya
secara profesional, dan karena itu peranan yang mereka jalankan selalu
berkaitan erat dengan disiplin ilmu yang mereka pelajari.

Terlepas dari perbedaan term yang diusung, Yudi dengan cukup cerdas
juga memetakan arah gerakan intelegensia muslim di Indonesia.
Modernisasi pemikiran Islam yang dihembuskan oleh Abduh di Mesir,
banyak memengaruhi arah gerakan Islam saat itu. Masuknya modernisme
Islam ke Indonesia, disinyalir berasal dari para mahasiswa Indonesia
yang belajar ke Timur Tengah pada masa itu.

Di samping modernisme, ada pula wacana lain yang saat itu menjadi tren
gerakan anak-anak muda. Yudi secara lebih singkat membagi orientasi
pemikiran ini ada pada tiga kelompok besar. Pertama, mereka yang
berorientasi Barat yang saat itu biasa disebut sebagai kaum terpelajar
atau kemadjoean. Kedua, adalah mereka yang masih berpegang teguh pada
khazanah agung. "Mereka ini diwakili oleh kaum
tradisionalis-konservatif", jelas Burhan. Ketiga, mereka yang
berhaluan pembaharuan atau modernisme Islam.

Berangkat dari tiga orientasi besar ini, Yudi kemudian membagi-bagi
cendekiawan muslim itu berdasar masanya. Paling tidak ada enam
generasi intelegensia muslim yang berkembang hingga sekarang. Masa
pertama diawali oleh generasi Agus Salim, Cokroaminoto dan
kawan-kawan. Disusul oleh generasi kedua dengan tokohnya Wahid Hasyim,
Kafrawi, dari kelompok tradisional. Sementara generasi ketiga diwakili
oleh generasi Mukti Ali, Deliar Noer, Zakiah Darajat dll. Generasi
ketiga ini disinyalir oleh Yudi telah mempelopori lahirnya organisasi
semacam HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PII (Pelajar Islam Indonesia),
dan GPII (Gabungan Pelajar Islam Indonesia).

Selanjutnya disusul generasi ke empat dengan tokohnya Imadudin Abdul
Rahim, Ismail Hasan Metareum, dan Cak Nur. Generasi kelima diwakili
oleh angkatan Azyumardi Azra, Fahri Ali, Masdar F. Masudi dan Marwah
Daud Ibrahim. Sementara dari sayap aktivis dakwah ada Hidayat
Nurwahid, Nurmahmudi Ismail, Ismail Mutammimul Ula. Generasi empat dan
lima ini telah berhasil melahirkan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim
Indonesia).

Dari seluruh generasi yang telah dipaparkan, yang menarik perhatian
peserta diskusi malam itu adalah generasi terakhir. Mereka adalah para
aktivis yang selama ini aktif menyuarakan liberalisme Islam, seperti
Ulil Abshar-Abdalla, Hamid Basyaib, Saiful Mujani, Burhanudin, dan
Nong Darol Mahmada. Mereka bukan saja mewakili generasi ke enam,
tetapi gerakan liberalisme yang mereka usung juga dinilai paling
mewarnai generasi Intelegensia Muslim pada saat ini. Sementara di
sayap kanan fundamentalisnya terdapat nama, seperti Anis Matta dan
Adian Husaini.

Pemetaan intelegensia muslim ini mampu menjelaskan gelombang sejarah
pemikiran dan intelektual di Indonesia yang tidak monofonik dan tidak
satu arah. Namun menurut Burhan, Yudi masih lebih banyak melihat aspek
eksternal yang berpengaruh pada pembentukan embrio intelegensia muslim
Indonesia. "Sementara dinamika internal customary Islam yang terjadi
di tanah air pada saat itu cenderung dilupakan oleh Yudi", ucap
Burhan.Hal itu tampak ketika Yudi lebih banyak melihat aspek gerakan
reformisme di Timur Tengah dan politik etis Hindia Belanda yang
dinilai telah mendorong tumbuhnya gerakan modernisme dan reformisme
Islam di Indonesia. "Padahal gerakan reformis-revivalis Islam di
Indonesia, seperti Muhamadiyah atau Persis, bukan semata-mata hasil
injeksi oleh pengaruh jaringan internasional semata, tetapi juga
karena kejengahan sebagian ulama atas praktek lokal yang dianggap
masuk dalam TBC (Takhayyul, Bid'ah, dan Khurafat)."

Kelengahan Yudi melihat dinamika internal ini juga telah menjebaknya
dalam melihat fenomena anak muda NU di akhir abad 20. Ia dengan serta
merta memasukkan mereka dalam barisan liberalisme Islam. "Kalau ada
Rumadi atau Baso di sini, pasti mereka akan keberatan untuk dimasukkan
dalam Islib", seloroh Burhan.

Meski alumni UIN Jakarta ini banyak mengkritik buku Yudi, tetapi ia
tetap apresiatif atas karya monumental Yudi. "Sulit untuk menampik
kenyataan bahwa buku ini dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Bahkan
ketika membaca buku ini saya merasa kesulitan untuk mencari celah.
Karena hampir semuanya telah dibahas tuntas", paparnya.

Diskusi yang berlangsung di padepokan Teater Utan Kayu ini juga
dihadiri oleh penulis buku, Yudi Latif. Pada sesi akhir, oleh
moderator, ia diberi kesempatan untuk memberikan komentar. Dalam
komentarnya, ia berterima kasih pada Burhan yang telah membaca
karyanya dengan sangat kritis, termasuk juga membuat resensinya di
Media Indonesia.[] 





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke