Orang Nomor Satu Oleh DIDI SUHANDI JUDUL di atas adalah sebutan populer saat ini terhadap mereka yang memiliki jabatan atau berpredikat sebagai pemimpin daerah atau ketua sebuah komunitas. Seperti nama sebutan untuk Gubernur Jawa Barat, "Jabar 1" , Wali kota Bandung; "Bandung 1". Begitu halnya sebutan untuk presiden, di kenal dengan nama "RI 1".
Darimana asalnya sebutan itu muncul serta apa maksud dan tujuan sebutan tersebut. Jawabannya, hanya insan pers yang mengetahui. Mengapa insan pers, karena, menurut para ahli bahasa, bahasa surat kabar, seperti singkatan, istilah atau bahasa plesetan sangat berpengaruh terhadap perilaku tata bahasa yang dipergunakan masyarakat sehari-hari. Mungkin ini adalah bagian dari efek komunikasi massa. Selain menambah pengetahuan, juga bagaimana surat kabar dan televisi berpengaruh mengubah sikap dan perilaku. Munculnya nama sebutan, "Jabar 1" atau "RI 1" , mungkin berasal dari asumsi plat nomor kendaraan yang dipergunakan gubernur atau presiden. Misalnya, kendaraan dinas Gubernur Jabar bernomor polisi D.1 , presiden dengan plat nomor RI.1 . Melihat kebelakang, saat rezim orde baru berkuasa, mendengar nama sebutan orang (nomor satu) seakan miris mendengarnya. Saat itu, sebutan penguasa tunggal (orang nomor satu) untuk seorang penguasa, begitu populer. Mulai dari tingkat pusat, hingga ke tingkat desa. Walaupun, ada perbedaan prinsip antara predikat sebagai penguasa tunggal dengan orang nomor satu. Predikat orang nomor satu, lahir dan dimunculkan oleh insan pers dan semata-mata sebagai rekaan jurnalistik. Bukan atas kehendak atau permintaan dari yang bersangkutan. Berbeda dengan predikat penguasa tunggal, semasa rezim orde baru. Predikat itu lahir dan dinyatakan oleh mereka yang menjadi pemimpin sebagai legitimasi kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki. Apakah pada era reformasi masih ada pemimpin yang menempatkan diri sebagai penguasa tunggal dan bersikap kumaha aing dalam menentukan kebijakannya. Apa yang membuat atau menjadi miris oleh predikat orang nomor satu (penguasa tunggal). Dengan predikat penguasa tunggal, ada tipe pemimpin yang memiliki kecenderungan dihinggapi penyakit mental dalam menjalankan roda manajemen kepemimpinannya. Yaitu penyakit kumaha aing, arogan , reaktif dan tak tahan kritik. Jika, ia seorang birokrat, dalam kedudukannya serta tampilannya bisa berubah, bukan sebagai abdi masyarakat sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang. Tetapi sebaliknya, berperan dan tampil sebagai penguasa yang harus dilayani oleh masyarakat.Pada era reformasi, mental kaum birokrat seperti ini tampaknya masih ada. Dominasi dan arogansi kepemimpinannya mendorong tumbuh suburnya praktik-praktik KKN (korupsi, kolusi, nepotisme). Dengan semakin terbukanya kebebasan pers, di antaranya dalam menyuarakan kepentingan rakyat dan mengkritisi kebijakan pemerintah, mudah-mudahan insan pers (pers yang bertanggung jawab) benar-benar menjadi juru penerang dalam membangun bangsa Indonesia ke arah yang subur makmur, tidak lagi ada yang kelaparan serta terbebas dari KKN dan mental penguasa tunggal.*** Penulis, pengamat masalah sosial. http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
