Merajut Solidaritas Taktis

Haryatmoko

Globalisasi mengusung kemenangan pemikiran tunggal, ekonomi. Yang
mengglobal adalah pasar, promiskuitas semua pertukaran, semua
produksi, dan aliran uang.

Pada tataran budaya, proses ini merupakan promiskuitas semua tanda,
semua nilai, karena penyebaran mendunia dalam jaringan. Jaringan
budaya yang kuat adalah budaya pemenang, meski pembelaan pluralitas
budaya tak pernah surut.

Pluralisme, keberagaman dan keberbedaan semula menjanjikan, lalu
menjadi benih diskriminasi. Dewasa ini, tiap budaya dan tiap agama
cenderung menjadi apologi yang tidak bisa dikritik oleh rasionalitas
apa pun karena klaim akan kebenaran dan kekhasannya. Kebenaran
seharusnya menjadi sumber kebebasan dan kepedulian pada liyan menjadi
ancaman.

Emansipasi identitas

Pencarian kebebasan yang semula adalah asal-usul semua emansipasi
manusia, dalam budaya dan agama saat ini berubah menjadi emansipasi
identitas. Mistik ini menyebarkan fiksi yang merusakkan, manusia
direduksi pada akar budayanya, pada kepemilikan agamanya. Fiksi ini
dianggap merusakkan karena seakan memberi jaminan, tak akan mendapat
sanksi dalam kekejamannya. Wacana keberbedaan yang seharusnya membuat
orang perhatian terhadap liyan justru memacu kebutuhan identitas diri
(Beji, 2004:56). Lalu menjadi kerentanan psikologis, terutama karena
pecahnya sistem perlindungan individu. Jadi, identitas diri merupakan
pencarian rasa aman, pencarian skema sosial baru yang memberi struktur.

Individualisme tidak menghilangkan mekanisme kontrol sosial. Hanya
mekanismenya tidak lagi direktif, memaksa, atau mengancam, tetapi
dengan komunikasi. Struktur sosialisasi kehilangan kewenangan dan
arena sosial menjadi perpanjangan lingkup privat, lingkup sosial dan
individual diorganisasi menurut logika konsumsi (Lipovetsky, 2004:41).

Paradoksnya, individualisme ini merupakan ideologi massa, bukan
singularitas kreatif. Ia mengisi keputusasaan dan ketidakpastian akan
masa depan yang dirasakan kian tidak manusiawi. Maka bisa dipahami
kebutuhan akan identitas menggeser kebutuhan akan kebebasan. Lalu
budaya dan agama tidak lagi dipahami dalam kerangka penyempurnaan diri
yang bebas, tetapi dihayati sebagai kesetiaan pada kesadaran akan
keunggulan yang sudah ditentukan sejak awal (Beji, 2004:58). Maka
semua bentuk yang mempertanyakan keunggulan atau yang dianggap
melecehkan memicu kekerasan.

Individualisasi yang tak terkontrol ini diperparah komersialisasi gaya
hidup. Logika mode mengarahkan budaya, konsumsi, dan penampilan.
Kebahagiaan pribadi menggantikan tindakan kolektif, pemujaan masa kini
dan kekaguman terhadap yang selalu baru mengganti harapan akan masa
depan (Lipovetsky, 2004:85).

Individualisasi juga diterapkan dalam hubungan kerja: target yang
harus dicapai, evaluasi individual, sistem gaji atas dasar prestasi
individual, kompetensi individual. Persaingan menjadi penggerak
efisiensi. Segala bidang kehidupan menekankan persaingan tanpa ada
yang menengahi. Bahkan negara kian tidak berdaya menghadapi PHK oleh
perusahaan, ancaman penutupan pabrik, delokalisasi perusahaan, kontrak
terbatas, dan outsourcing yang merugikan tenaga kerja.

Tenaga kerja dibuat patuh oleh situasi tak menentu dan ancaman
sewaktu-waktu menganggur (Bourdieu, 1998). Jadi, dasar tatanan ekonomi
yang mengagungkan individu ini ternyata adalah kekerasan struktural
(ancaman pengangguran). Besarnya jumlah penganggur selalu siap
menggantikan siapa saja. Kelompok penganggur sulit bersatu karena
pengangguran membuat orang terisolasi, individualis, dan jauh dari
solidaritas. Menurut Bourdieu, semua ini konsekuensi sistem ekonomi
neoliberal yang mau memisahkan logika ekonomi (persaingan untuk
mendorong efektivitas) dari logika sosial (menekankan aturan
keadilan). Utopia pasar murni mau menyingkirkan semua struktur
kolektif yang menjadi hambatannya (negara, kelompok sindikat, asosiasi
pekerja, dan koperasi). Ketakutan tersingkir atau tidak mendapat
pekerjaan menyebabkan kegelisahan dan konformisme. Manusia
menyesuaikan diri dengan budaya yang tidak manusiawi untuk bisa
bertahan hidup sehingga tidak peka lagi terhadap penderitaan orang
lain dan juga terhadap penderitaan dirinya.

Solidaritas taktis

Menghadapi komersialisasi gaya hidup, individualisasi yang tak
terkontrol dan penghancuran struktur kolektif perlu dibangun
solidaritas taktis dan kohesi sosial. Solidaritas taktis ini bukan
pertama-tama uluran sukarela mereka yang berkecukupan, tetapi proses
negosiasi tiada henti dalam kolektivitas agar terjadi redistribusi
kekayaan demi menguntungkan yang paling tidak beruntung. Misalnya,
bila suatu perusahaan harus mem-PHK 25 karyawannya, bisakah PHK itu
dibatalkan dengan mencari pemecahan melalui solidaritas taktis, yaitu
dengan mengurangi gaji anggota direksi sebesar 10 persen?

Upaya membangun kohesi sosial dilakukan agar interaksi ekonomi menjadi
perekat sosial. Setiap kolektivitas entah atas dasar geografi,
profesi, lintas agama bisa mengusahakan koperasi simpan pinjam dengan
bunga kecil untuk kepentingan anggotanya. Kohesi sosial bisa terjadi
jika komunitas, terutama kelompok yang berkecukupan, mampu membantu
anggotanya mengatasi kebutuhannya. Distribusi kekayaan antarkelompok
menuntut kita memiliki budaya untuk mau mengurangi konsumsi kebutuhan
diri kita. Inilah tugas pendidikan dan kebudayaan untuk menyiapkan dan
menumbuhkan dalam psikologi kolektif apa yang disebut tanggung jawab
publik. Hal ini dituntut pragmatisme, artinya harus dilakukan meski
merupakan pilihan sulit. Bila kelompok kecukupan tidak peduli terhadap
penderitaan kaum miskin, gaya hidup mereka akan selalu ada dalam
bahaya menghadapi risiko ketidakamanan permanen seperti diderita
Israel. Bantuan akan mengintensifkan hubungan sosial.

Peristiwa pemberian melahirkan rasa utang budi, kewajiban, dan
keterikatan kepada komunitas. Ketiga hal ini mendorong tumbuhnya
solidaritas dan kepedulian terhadap kesejahteraan bersama. Dengan
demikian, kegilaan logika ekonomi masih bisa dikendalikan karena
dicegah terpisah dari logika sosial. Tatanan sosial harus dibangun
untuk memberi tempat kepada kolektivitas dan diarahkan ke pencarian
rasional tujuan-tujuan yang dirumuskan dan disetujui secara kolektif.

Haryatmoko Dosen Pascasarjana Filsafat UI dan Universitas Sanata
Dharma Yogyakarta






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke