Saleresna tulisan SOEROSO ini cukup kumplit,sagala
matra aya disebat..tapi..nyusun logika rasionalnya
amburadul..rada hese naon anu dipikahayang sang
panulis......ngan tungtungna ..."mari merenung" !
Sayah mah percaya pisan kana prinsip kasaimbangan
dimna sagala hal anu sok disebatkan hakekat dina
ajaran Islam ...ulah "kaleuwihan"....Kumaha atuh nasib
buruh tiasa diperbaiki.. ari..aya 41 juta pengangguran
? Konflik..saderek..! man heula anu rek ditulungan
nasib buruh anu kagencet tapi gaduh
padamelan...atanapi panganggur anu kagencet masalah
sosial...? Seueur deui perkawis nu sanes anu ngait
kana masalah seueurna panganggur ieu....sapertos
masalah TKI&TKW di mancanagara,Narkoba,PSK,
kajahatan,........

--- Rahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Negeri Bertaburan Demo
> Oleh H. SOEROSO DASAR
>
>     GEGAP gempita aksi demo buruh belakangan ini,
> mengingatkan kita
> bahwa buruh merupakan salah satu kekuatan dan fungsi
> dalam proses
> produksi. Kekuatan ini tidak bisa dilihat sebelah
> mata. Bahkan,
> tingginya tingkat investasi di Indonesia dahulu,
> karena harga (upah)
> buruh yang murah sehingga pada gilirannya harga jual
> menjadi rendah.
>
> Dengan rendahnya harga jual inilah, maka produk
> sektor industri dari
> Indonesia mampu bersaing di dalam dan luar negeri.
> Padahal, pada saat
> yang sama berbagai pungutan liar merebak, yang
> seharusnya harga tidak
> bisa bersaing. Semuanya bisa terjadi karena
> keuntungan atau tertutupi
> oleh elemen buruh.
>
> Namun belakangan ini harga jual tidak mampu bersaing
> dengan produk
> dari Cina dan negara lain, walaupun
> regulasi-regulasi dimunculkan.
> Adam Smith penullis buku "An Inquiry into the Nature
> Causes of the
> Wealth of Nation" tahun 1776, yang kemudian dikenal
> sebagai "nabinya"
> sistem kapitalisme, lahir dan berkembang sebagai
> reaksi terhadap
> sistem yang lahir sebelumnya. Sistem terdahulu yang
> dilandasi kepada
> campur tangan pemerintah secara berlebihan, sistem
> monopoli dan
> oligopoli, serta sistem feodalisme dianggap
> merupakan pembelengguan
> kebebasan individualisme.
>
> Ekonomi liberal sebenarnya bermula dari pembagian
> pekerjaan, di mana
> pembagian pekerjaan tidak saja memperbesar
> produktivitas, tetapi
> dengan pembagian pekerjaan diharapkan, akan tercapai
> sekaligus
> spesialisasi menurut kecakapan dan pembawaan rakyat
> serta menurut
> pemberian alam. Teori yang dikupas dalam alam
> abstraksi, meyakini
> bahwa suatu negara yang makmur adalah negara yang
> mengembangkan
> produksinya melalui perdagangan. Negara bukan suatu
> alat yang berusaha
> untuk menghambat perdagangan, sehingga campur tangan
> pemerintah
> dianggap bertolak belakang dengan doktrin ekonomi
> kapitalis.
> Kemakmuran dan kekayaan negara hanya bisa dicapai
> dengan manjalankan
> prinsip laissez-faire di dalam negeri dan prinsip
> perdagangan bebas
> dengan negara lain. Tetapi kenaikan produksi yang
> berlipat itu
> ternyata telah menyeret sekian banyak buruh ke
> lembah derita yang
> menyayat hati.
>
> Tahun 1867 lahirlah "Das Kapital Kritik der
> Politschen Ekonomie",
> karya emas Karl Marx yang mengecam sistem
> kapitalisme yang
> individualistis itu. Kapitalisme telah
> menginjak-injak derajat
> manusia, termasuk di dalamnya hak-hak buruh. Kritik
> terhadap sistem
> kapitalisme juga dilancarkan atas ketidak mungkinan
> sistem
> perekonomian kapitalis untuk mempertahankan suatu
> tingkat perekonomian
> yang relatif stabil. Pencetus ekonomi sosialis
> melihat bahwa tingkat
> upah sistem kapitalis adalah tingkat minimal, dengan
> demikian tidak
> memungkinkan perekonomian atau produksi berkembang,
> karena dibatasi
> oleh daya beli masyarakat yang rendah.
>
> Maka disodorkanlah sebuah sistem perekonomian yang
> dilandasi kaidah:
> (a) perekonomian berdasarkan perencanaan; (b)
> pemilikan faktor
> produksi oleh pemerintah; (c) pembagian pendapatan
> nasional lebih
> merata. Sistem ini membuat perorangan tunduk
> semata-mata kepada
> kolektifitas dan hanya berhasil sebagai alat
> kolektifitas itu. Buruh
> yang tidak hanya dianggap sebagai alat produksi,
> ternyata juga tak
> mampu mengangkat ekonomi, sehingga nasib buruh pun
> tidak ikut terkait.
>
> Serikat buruh yang lahir di zaman revolusi industri,
> terutama di
> Inggris dan Prancis, seiring dengan tumbuhnya
> sosialisme dan ideologi
> ekstrim, seperti sindikalisme, anarkhisme disusul
> dengan marxisme.
> Semuanya tumbuh sebagai reaksi terhadap ekses
> industrialisme
> kapitalisme. Serikat buruh dicurigai oleh rezim
> kapitalis, terlebih
> pemerintahan konservatif. Buntutnya, lahirlah
> undang-undang "Loi Le
> Chapelier" di Prancis dan "Combination Act" di
> Inggris, yang
> mengantarkan serikat buruh ke liang kubur.
> Organisasi buruh dilarang
> dan dianggap ilegal. Disini merupakan masa masa
> suram serikat buruh.
>
> Pemerintah totaliter (marxisme dan fascisme) tak
> kalah sengitnya
> mendakwa organisasi buruh, karena dianggap
> pembangkang anti doktriner.
> Kalau dalam rezim kapitalis serikat buruh
> memperjuangkan kepentingan
> sosial ekonomi kaum buruh, maka dalam rezim
> totaliter serikat buruh
> memperjuangkan hak yang paling asasi dari fitrah
> manusia, yakni
> kebebasan berorganisasi dan berekspresi. (Bunyamin
> Hasan Ilyas,
> Serikat Buruh dalam Era Pembangunan). Mudahlah
> difahami bahwa justru
> dalam rezim totaliter terlihat paling banyak gejolak
> perburuhan,
> sebagaimana terjadi di Amerika Latin dan Polandia.
>
> Indonesia tidak menganut salah satu sistem di atas.
> Karena apabila
> diintrodusir sistem diatas, maka akan membuat
> masalah buruh menjadi
> buah simalakama. Republik ini mempunyai sistem
> ekonomi pancasila, yang
> dianggap sesuai dengan nafas dan denyut nadi UUD 45
> serta Pancasila.
> Namun walaupun demikian bukan berarti masalah
> perburuhan tidak pernah
> bergejolak di republik ini. Bahkan sebaliknya,
> secara berturut-turut
> gelombang demo buruh terus mengalir, sebagai
> refleksi dari kekecewaan
> buruh terharap berbagai kebijakan yang diambil oleh
> pihak penguasa.
>
> Kini rencana undang undang yang menyangkut
> perburuhan dan masih begitu
> pagi dalam bentuk draft undang undang, sudah memicu
> kemarahan buruh
> yang mulai mengarah ke anarkis di Jakarta. Demo demo
> penolakan draft
> bermunculan hampir diseluruh pelosok tanah air,
> terutama kota kota
> yang berbasis industri. Buruh memang sudah sangat
> terjepit
> kehidupannya selama ini, karena berbagai kebijakan
> yang diambil
> pemerintah. Pukulan telak terakhir kepada buruh
> adalah dengan kenaikan
> harga BBM sehingga daya beli (efektif demand) buruh
> begitu merosot
> tajam. Dalam perspektif kacamata buruh, rancangan
> undang undang yang
> sedang didiskusikan itu, akan lebih menyengsarakan
> buruh.
>
> Persoalan hak-hak buruh dan kesejahteraannya, memang
> sering dihadapkan
> pada sesuatu yang dilematis. Disatu sisi kebijakan
> diambil bisa
> menguntungkan buruh namun merugikan para pengusaha.
> Pada sisi lain
> bisa juga merugikan buruh tapi menguntungkan
> pengusaha. Yang paling
> penting adalah dalam persoalan dilematis ini, kita
> jangan sampai
> mematikan ayamnya. Yang dimaksud dengan ayam disini
> pengusaha atau
> investor. Yang perlu disimulasikan dan difikirkan
> bagaimana caranya
> ayam tersebut bertelur besar-besar. Sehingga buruh
> menjadi sejahtera
> dan ayampun sehat. Karena kalau tidak, para investor
> dan calon
> investor akan lari ke negara lain untuk menanamkan
> dan mengembangkan
> usahanya.
>
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke