Yasraf Amir Piliang
Aneka persoalan bangsa menyangkut ekonomi (ketenagakerjaan, perusahaan
asing), politik (pemilihan kepala daerah), hukum (penyusunan aneka
rancangan undang-undang), keagamaan (keberadaan "ajaran sesat"), dan
kebudayaan (pornografi, seni) hampir selalu diselesaikan melalui
demonstrasi, kekerasan, dan huru-hara.
Kegagalan negara dalam menciptakan sebuah "ruang dialog" telah menutup
rapat "pintu komunikasi" di atas tubuh bangsa ini sehingga amarah
menjadi model psikologis dalam penyelesaian setiap masalah dan
kekerasan menjadi strategi politik dalam mencapai setiap tujuan.
Dalam konteks proses demokratisasi yang tengah berlangsung,
dikuasainya setiap diri oleh nafsu amarah dan politik kekerasan
menunjukkan ketidakmampuan bangsa ini membangun "ruang publik"
demokratis, tempat aneka persoalan bangsa dibicarakan, didiskusikan,
dan diperdebatkan secara terbuka, jujur, adil, dan kreatif. Tidak
mampu membangun sebuah "tindak komunikatif" bersama sehingga
menyebabkan pintu komunikasi tertutup rapat dan saluran penyampaian
pesan tersumbat, yang menyisakan manusia-manusia yang berbicara dengan
dirinya sendiripolitics of monologism.
Ruang kehidupan berbangsa kini dibangun oleh ruang, kotak, dan
pagar-pagar "eksklusivisme", yang di dalamnya setiap kelompok (sosial,
politik, ekonomi, kultural, keagamaan) merayakan ruang-ruang eksklusif
sebagai tempat mereka membangun rasa aman dan nyaman secara
eksistensial (ontological security), namun dengan cara menutup diri
dari bahkan meniadakan pihak-pihak lain (the others). Ini secara
paradoks menciptakan sebuah ruang kehidupan berbangsa dan bernegara
yang dibangun oleh prinsip "fundamentalisme"the politics of
fundamentalism.
Politik hiperproteksi
Demokrasi dibangun secara internal oleh komponen-komponen bangsa
melalui hasrat kelompok (collective desire) yang menggelora tak
terbendungdisebabkan kegagalan negara membangun ruang publiksehingga
memuncak pula rasa fundamentalisme, baik fundamentalisme politik,
keagamaan, ekonomi, kesukuan, maupun kebudayaan.
Eksklusivisme dibangun di atas dasar fondasi esensialisme sempit yang
antidialog, antiperubahan, dan antinegosiasi sehingga menciptakan
pandangan buruk terhadap pihak luar yang mengancam. Eksklusivisme
merupakan sebuah cara untuk menciptakan semacam Umwelt, sebuah tempat
yang di dalamnya setiap orang merasa mendapatkan rasa aman secara
eksistensial, khususnya dari ancaman dominansi, ketidakadilan,
kesewenangan, dan kekerasan pihak luar, dengan mengembangkan proteksi
diri yang berlebihanhyperprotection.
Esensialisme-sebagai sebuah kecenderungan pemisahan kelompok-kelompok
manusia berdasarkan genealogi budaya dan sifat biologisnyamerupakan
salah satu fondasi hiperproteksi tersebut, yang melaluinya rasa
ketidakamanan ontologis, krisis identitas dan kultural yang akut,
ketidakberdayaan akibat represi kultural, serta penderitaan panjang
akibat ketidakadilan negara menyebabkan orang menoleh pada akar-akar
kultural dan keyakinannya yang dianggap dapat memberikan rasa aman itu.
Esensialisme yang berkembang ke arah ekstrem menggiring pada
fundamentalisme dalam pengertian yang luas. Jurgen Habermas di dalam
The Inclusion of the Others (1999) menjelaskan "fundamentalisme"
sebagai gerakan dalam membangun dunia kehidupan ultrastabil
(ultrastability) dengan cara merestorasi aneka cara, keyakinan, dan
nilai-nilai fundamental dengan merayakan praktik-praktik intoleransi,
eksklusivisme, dan esensialisme. Dalam hal ini, fundamentalisme tidak
hanya milik negara-negara terbelakang atau "Timur Tengah", tetapi
negara-negara supermaju seperti Amerika Serikat.
Selain itu, tidak hanya ada fundamentalisme agama, tetapi juga aneka
fundamentalisme politik, ekonomi, kesukuan, dan kebudayaan.
"Fundamentalisme ekonomi ultrakapitalistik" seperti "pasar bebas"
berhadap-hadapan dengan "fundamentalisme kesukuan ultra-etnisitas",
yang berujung dengan konflik, kekerasan, bahkan kematian (seperti
kasus Freeport). "Fundamentalisme keagamaan ultradogmatis" bertemu
dengan "fundamentalisme kultural ultraliberalis" yang menimbulkan
konflik dan ketegangan dalam aneka persoalan sosial-kebudayaan.
Kelompok fundamentalis yang berhadap-hadapan face to face dengan
kelompok-kelompok fundamentalis lainnya menciptakan kantong-kantong
"eksklusivitas" (politik, sosial, ekonomi, kultural) dalam demokrasi,
yang dihuni oleh orang-orang yang anti-adaptasi, perubahan, dan
transformasi; yang tidak berkehendak untuk berbagi, bekerja sama,
beraliansi, atau berdialog dengan pihak-pihak lain (partai, agama,
suku, kelompok), dengan membangun sikap "pengiblisan" terhadap sang
lainthe demonized others.
Demokrasi multikultural
Proses demokratisasi (dan otonomi) yang tidak didukung fondasi
kultural yang memadai (toleransi, keterbukaan, dialogisme,
inklusivisme) telah mengubah watak demokrasi dari sebuah ruang
komunikatif tempat aneka persoalan bangsa diperdebatkan secara
terbuka, adil, dan bertanggung jawab, ke arah "ruang fundamentalis",
tempat segala persoalan bangsa diselesaikan melalui gejolak amarah dan
strategi kekerasan. Terciptalah demokrasi fundamentalisthe
fundamentalist democracy.
Fundamentalisme di dalam sistem demokrasi tentu adalah sebuah
paradoks. Sebab, fundamentalisme bertentangan dengan prinsip demokrasi
itu sendiri. Akan tetapi, kegagalan sistem demokrasi dalam membangun
ruang publik, ruang dialog atau ruang komunikasi terbuka, bebas tetapi
bertanggung jawab menjadi penyebab utama dari hidupnya "demokrasi
fundamentalis" itu.
Dengan perkataan lain, demokrasi telah gagal membangun masyarakat
sebagai masyarakat multikultural disebabkan kegagalan dalam menegakkan
prinsip "demokrasi multikultural" (multicultural democracy) itu
sendiri, yang diperlihatkan oleh ketidakmampuan membangun ruang
dialog, toleransi, dan komunikasi yang cerdas dan produktif di antara
berbagai kelompok mayoritas dan minoritas sehingga di satu pihak
kekuatan dominasi kelompok masih digunakan dalam aneka kebijakan dan
tindak sosial; di pihak lain, cara-cara kekerasan masih menjadi
satu-satunya senjata kelompok-kelompok minoritas dalam perjuangan haknya.
Kegagalan demokratisasi juga tampak pada tingkat normatif. Dalam
wacana pembangunan landasan normatif-hukum, yang mengatur aneka ruang
kehidupan (sosial, politik, ekonomi, kultural), ketimbang mampu
membangun iklim komunikasi yang bebas, terbuka, tetapi bertanggung
jawab, yang dominan justru iklim "pertengkaran" (dispute) tak sehat,
tak konstruktif, dan tak kreatif.
Setiap pihak secara keras kepala mempertahankan prinsip fundamentalnya
masing-masing yang hampa toleransi. Misalnya, dalam mempertahankan
keyakinannya, kaum "fundamentalisme agama" dituduh oleh seniman tidak
mau toleran terhadap "kebebasan ekspresi" seni; sebaliknya, dalam
merayakan "kebebasan ekspresi" itu, kaum "fundamentalisme seni" juga
dituduh tidak mau toleran terhadap keyakinan orang-orang beragama
tertentu.
Fundamentalis berhadap-hadapan dengan fundamentalis lainnya face to
face, yang menggiring pada situasi "ketakmungkinan aturan bersama"
(incommensurability), dalam pengertian aturan formal sebuah
kelompokyang secara keras kepala dipertahankantidak mungkin
digunakan sebagai aturan kelompok lain yang berbeda.
Satu-satunya jalan keluar dari "ketidakmungkinan aturan bersama" ini
adalah menumbuhkan kesadaran dan keterbukaan terhadap prinsip
pluralisme dan multikulturalisme yang transformatif. Dalam pengertian
bahwa "keamanan eksistensial" yang diinginkan setiap kelompok sosial,
politik, ekonomi, dan kultural hanya dapat dibangun apabila dalam
membangun rasa aman itu "kemanan eksistensial" pihak lain juga
dihormati dan diberi tempat melalui sebuah prinsip toleransi, rasa
kebersamaan, dan keadilan (justice) sehingga rasa aman eksistensial
itu menjadi "rasa aman bersama"multicultural democracy.
Yasraf Amir Piliang Ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD Institut
Teknologi Bandung
http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]
SPONSORED LINKS
| Spanish language and culture | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Baraya_Sunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
