Teu nyana, geuning timbEl teh bahaya nya? ;))RH

Meracuni Diri Sendiri
Oleh Otto Soemarwoto

BERITA utama Pikiran Rakyat edisi 26 April 2006, adalah "66% Siswa SD
Tercemar Timbal". Berita ini berasal dari makalah Dr. Pudji Lestari
dalam Lokakarya Raperda BPLHD-Jabar, 25 April 2006.

Berita ini bukan yang pertama kali, melainkan sudah berulang. Namun
para pejabat dan masyarakat cuek saja. Dianggap berita biasa saja.
Tidak ada gejala kekhawatiran ataupun keprihatinan. Padahal, dalam
makalah Dr. Pudji itu juga diungkapkan dampak pencemaran timbal (Pb)
terhadap penurunan IQ anak-anak sekolah tersebut.

Walaupun kadar Pb darah akan turun lagi jika anak tidak terpajan
(exposed) pada Pb, penurunan IQ tak terbalikan (nonreversible).
Berarti, meskipun Pb dihilangkan dari bensin, kita telah membuat 66%
anak SD mempunyai IQ yang lebih rendah daripada normal secara
permanen. Arti selanjutnya adalah SDM generasi yang akan datang IQ-nya
akan lebih rendah daripada generasi sekarang. Sampai hatikah kita
memberi warisan demikian kepada anak-cucu kita?

Dalam lokakarya yang sama, Prof. Juli Sumirat memaparkan, masalah
pencemaran udara tidak terbatas pada Pb. Banyak zat lain yang
membahayakan yang mengenai tubuh manusia mulai dari kulit dan mata
sampai pada organ dalam tubuh, seperti jantung, paru-paru, ginjal,
hati dan metabolisme manusia, seperti sintesis darah, sistem
reproduksi, dan pertumbuhan janin. Sungguh masalah yang berat. Kita
sedang meracuni diri sendiri, suami-istri dan anak cucu dengan dampak
yang serius dan berjangka panjang yang membahayakan hari depan anak
cucu kita. Eliminasi Pb dari bensin belumlah memecahkan masalah
peracunan itu.

Ke-cuek-an pemerintah dan masyarakat terhadap bahaya pencemaran udara
ialah karena kendaraan bermotor memang membawa banyak keuntungan.
Keuntungan itu berupa ekonomi, alat transpor yang menyenangkan, citra
modernitas, dan simbol status sosial tinggi. Industri otomotif mulai
produsen sampai pada dealer memanfaatkan keuntungan tersebut dengan
melobi pemerintah untuk membuat kebijakan yang menguntungkan industri
otomotif.

Industri juga melakukan usaha pemasaran yang sangat agresif melalui
media massa cetak dan elektronik serta kredit murah. Hasilnya ialah
kebijakan transpor pemerintah yang sangat berpihak pada kendaraan
bermotor dan laju pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang tinggi,
terutama kendaraan pribadi.

**

PENGGUNAAN kendaraan bermotor tidak efisien, karena banyak yang hanya
mengangkut 1-2 orang penumpang. Lagi pula digunakan untuk jarak
pendek, karena Bandung adalah kota kecil. Jarak dari pinggiran kota ke
pusat kota kurang dari 10 km.

Sementara itu, transpor nonotomotif yang ideal untuk jarak pendek,
yaitu delman, becak, sepeda dan berjalan kaki terpinggirkan. Transpor
nonotomotif hampir-hampir tidak mempunyai hak jalan, suatu hal yang
tidak adil, karena jalan dibangun dari pajak rakyat, termasuk mereka
yang tidak dapat berkendaraan bermotor.

Laju pertumbuhan kendaraan bermotor yang tinggi mengakibatkan
terjadinya kemacetan lalu lintas. Apalagi karena Bandung memang tidak
dirancang untuk transpor cepat. Untuk mengatasi kemacetan pemerintah
memperlebar jalan serta membuat jalan baru dan jalan layang. Kebijakan
ini lebih memacu laju lagi pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor,
sehingga laju pelebaran dan pembuatan jalan baru makin jauh
ketinggalan dari laju pertumbuhan jumlah kendaraan.

Maka, dalam waktu yang pendek kemacetan pun kembali terjadi, sering
lebih parah daripada sebelumnya. Contohnya adalah kemacetan di Jln.
Dr. Junjunan setelah keluar dari jalan layang Pasupati. Masalah
kemacetan diperparah karena adanya kebijakan parkir di tepi jalan yang
diperlebar, misalnya di Jln. Naripan.

Kebijakan lain ialah pengaturan lalu lintas satu arah. Tetapi
kemacetan tidak teratasi. Contohnya Jln. Cihampelas. Lalu lintas satu
arah juga membingungkan, terutama bagi orang luar kota, termasuk para
turis. Kebijakan ini memperbesar jarak tempuh perjalanan.

Kemacetan dan jarak tempuh yang lebih besar mengakibatkan pemborosan
BBM dan kenaikan pencemaran udara. Sebuah perkiraan menyebutkan
kerugian di Bandung akibat pemborosan adalah Rp 1,8 miliar/hari dan di
Metro Bandung Rp 7 miliar/hari. Belum terhitung lagi kerugian akibat
gangguan kesehatan. Di Jakarta kerugian itu diperkirakan oleh Bank
Dunia sebesar 220 juta dolar AS/tahun.

Jalan keluarnya adalah membuat kebijakan yang meningkatkan efisiensi
transpor dengan mengoptimalkan penggunaan semua moda transpor sesuai
dengan keperluannya dan mengelolanya dalam sebuah sistem yang bersifat
antarmoda, antarkoneksi dan antar-operasi.

Insentif diberikan kepada moda transpor yang sesuai dan yang ramah
lingkungan hidup. Untuk jarak sampai 1 km berjalan kaki dan sampai
5-10 km bersepeda. Insentif berupa trotoar dan jalur sepeda yang aman
dan nyaman disertai fasilitas penyeberangan yang gampang dan aman.*** 

Penulis, guru besar emeritus, pencinta Bandung.





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




SPONSORED LINKS
Spanish language and culture Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke