Papan Catur Timur Tengah

Broto Wardoyo

Kebuntuan proses gencatan senjata dalam konflik Israel-Hezbollah
membuat Amerika Serikat dan Israel menjadi tertuduh utama dan sasaran
kecaman.

Namun, jika AS bersikap keras dalam menekan Israel, akankah gencatan
senjata mudah dilaksanakan? Belum tentu.

Proses resolusi konflik dalam kasus Israel-Hezbollah membutuhkan
banyak langkah, gencatan senjata hanyalah awal. Hingga kini, ada empat
syarat yang diajukan Israel untuk gencatan senjata, yaitu perlucutan
persenjataan milik Hezbollah, Hezbollah keluar dari Lebanon selatan,
pembebasan dua tentara Israel yang ditahan Hezbollah, dan pemutusan
mata rantai Hezbollah-Damascus-Teheran.

Adapun Hezbollah menghendaki penarikan mundur Israel dari Lebanon
selatan dan pertanian Shebaa sebagai syarat utama gencatan senjata.
Israel juga harus ditarik mundur dari seluruh wilayah pendudukan.
Berbagai permintaan itu membuat gencatan senjata deadlock bahkan
sebelum usaha gencatan senjata dimulai.

Konstelasi politik kawasan

Kompleksitas konflik tidak dapat dilepaskan dari konstelasi politik
dan pengaturan keamanan Timur Tengah. Konflik ini bukan hanya antara
Israel versus Hezbollah, tetapi juga melibatkan berbagai kekuatan
utama di kawasan.

Untuk bisa melakukan gencatan senjata, dibutuhkan peran aktif berbagai
kekuatan utama kawasan itu. Dengan demikian, gambaran mengenai
konstelasi politik kawasan dan pengaturan keamanan regional Timur
Tengah mutlak dibutuhkan. Untuk menghentikan konflik, atau gencatan
senjata, ada banyak kartu yang harus diperhatikan dan bisa saling
dipertukarkan.

Ada dua hal utama untuk konstelasi politik kawasan. Pertama,
konstelasi intra- Arab. Pada pertengahan 1940-an, ide dasar hubungan
intra-Arab adalah pan-Arabisme. Kesatupaduan negara-negara Arab
melawan Israel dalam perang 1948-1973 dianggap sebagai tanda kesolidan
Arab, meski kohesi pan-Arabisme itu kian menurun, ditandai kian
sedikitnya negara yang terlibat perang.

Rusaknya pan-Arabisme bukan hanya disebabkan faktor AS. Benar, AS
melakukan lobi terhadap negara-negara Arab tertentu seperti Mesir,
Arab Saudi, atau negara-negara Teluk. Namun fakta sejarah menunjukkan,
dari awal, pan-Arabisme hanya isapan jempol. Arsip-arsip perang 1948
yang sudah mulai dibuka menunjukkan, masing-masing negara Arab yang
terlibat perang memiliki niat berbeda-beda. Dasar keterlibatan mereka
terhadap perang bukan hanya membela saudara Arab mereka, Palestina,
atau mengusir Israel. Kalangan neo-historian banyak menjelaskan hal
ini (Avi Shlaim dalam Collusion Across Jordan atau Benny Morris dalam
Righteous Victims).

Belum lagi masalah kesetiaan publik Arab yang lebih terbatas pada
tribe, kelompok, atau keluarga. Konflik Hamas-Fatah memberi gambaran
betapa sulitnya usaha membangun kesatuan Palestina, apalagi kesatuan
Arab. Contoh lain, perbedaan, bahkan permusuhan, antara Baath Suriah
dan Baath Irak pada 1990-an.

Hal penting kedua adalah perpecahan Islam. Dalam kasus Timur Tengah,
secara spesifik, Islam tidak bisa dilihat sebagai unit tunggal.
Kuatnya perbedaan Syiah-Sunni menciptakan gap dalam realitas politik.
Ketika terjadi revolusi Islam di Iran tahun 1979, persepsi ancaman
rezim-rezim di Timur Tengah, terutama Teluk, bergeser dari Israel ke
Iran. Ketakutan akan gelombang Syiah membuat negara-negara Teluk
bersatu padu mendukung Irak untuk berperang melawan Iran.

Ketakutan serupa ditengarai muncul dalam kasus Israel-Hamas dan
Hezbollah. Munculnya poros Hezbollah-Suriah-Iran memperburuk peta
intra-Arab (meski Suriah didominasi oleh Alawite tetapi secara politis
memiliki aliansi dengan Iran).

Pengaturan keamanan kawasan

Selain konstelasi politik kawasan, juga ada dua hal penting dalam
pengaturan keamanan regional: pola pertemanan-permusuhan dan
perimbangan kekuatan.

Pola permusuhan-pertemanan di Timur Tengah amat fluktuatif. Misalnya,
perubahan radikal Mesir dari memusuhi Israel lalu berdamai pada masa
pemerintahan Anwar Sadat. Atau sikap Presiden Irak Saddam Hussein yang
sebelumnya berkoalisi dengan tetangga-tetangga Sunni Teluk dalam
perang Iran-Irak, berperang dengan mereka.

Persepsi masing-masing negara akan ancaman beragam. Israel bukan lagi
dilihat sebagai musuh bersama. Beberapa negara yang masih melihat
Israel sebagai persepsi ancaman antara lain Suriah dan Iran
(Hezbollah). Namun, bagi Arab Saudi, Iran lebih merupakan ancaman,
bukan Israel. Berbagai perubahan atas persepsi ancaman ini tidak bisa
dilepaskan dari dinamika pertemanan-permusuhan.

Bangunan pola pertemanan-permusuhan itu akan dibakukan dalam
perimbangan kekuatan di Timur Tengah. Kini, pola utama yang terbentuk
adalah poros Saudi-Mesir-Jordan yang pro-AS dan Iran-Suriah-Hezbollah
yang anti-AS. Meski secara langsung tidak ada garis hubungan imajiner
antara kelompok Arab Saudi dan Israel, tetapi saat dihadapkan pada
realitas, Arab Saudi akan lebih memerhatikan tingkah Iran dibanding
Israel.

Dua kaki

Peta-peta semacam itulah yang tergambar dalam konflik Palestina dan
penyelesaiannya. Solusinya, kini ada dua kartu utama yang bisa saling
dipertukarkan, yaitu gencatan senjata Lebanon dan krisis nuklir Iran.
Upaya penyelesaian bisa dilakukan di antara dua kaki ini.

Tuntutan Israel dan Hezbollah yang saling mematikan satu sama lain
bisa disiasati dengan membuka kartu kedua. Tekanan terhadap Israel
akan lebih efektif jika dibarengi tekanan terhadap rencana
pengembangan teknologi nuklir Iran. Ketakutan utama Israel adalah
manakala ada suplai persenjataan nuklir Iran ke Hezbollah, itu
sebabnya mengapa syarat penghentian mata rantai Suriah muncul.

Dalam teori diplomasi, jika terjadi deadlock salah satu pilihan yang
bisa diambil adalah mengangkat masalah secara lebih luas atau
menggunakan prinsip-prinsip umum yang lebih bisa disepakati.
Keterlibatan aktor-aktor kuat di kawasan dibutuhkan secara aktif guna
menyelesaikan konflik di Lebanon. Kehadiran AS dan Iran, yang kini
menjadi raja masing-masing kubu, mutlak dibutuhkan.

Apa pun pilihannya, dunia internasional harus satu suara: katakan
tidak untuk perang! Apa pun alasannya, perang adalah kejahatan
terhadap kemanusiaan.

Broto Wardoyo
Pengajar di Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas
Indonesia; (Pendapat Pribadi) 






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke