Unpad dan Pengembangan Kebudayaan Sunda
                 Oleh US TIARSA R.SEOLAH-olah                 merupakan syarat 
mutlak, calon sarjana paripurna atau doktoral wajib melakukan penelitian        
         kepustakaan di Universitas Leiden di Negeri Belanda. Sebut saja nama 
Prof. Dr. Yus                 Rusyana, almarhum Prof. Dr. Ayatrohaedi, almarhum 
Prof. Eddy Eka Djati, Prof. Dr. Fatimah                 Idat, Prof. Dr. Nina 
Herlina Lubis, dan sejumlah cerdik pandai negeri ini. Mereka pernah             
    jadi ”indekost student” di negeri kelom tersebut. Bergaul dengan enon, 
sinyoh                 atau meneer en vrouw. 
                 Di sana banyak Belanda totok yang tahu papantunan, paparikan, 
hafal tentang                 adat Baduy, cerita Rawa Lakbok, dan Buyut 
Cikuray. Di kalangan perguruan tinggi ada pemeo,                 "bila ingin 
bertemu dengan karuhun Sunda, nganjang we ka Leiden. Hampir                 
semua naskah kuno, karya sastra, sejarah, dan masalah sosial orang Sunda baik 
secara                 antropolis maupun etnologis, tersedia di Leiden.
                 Dilihat dari segi ini, seyogianya kita orang Sunda, bersyukur. 
Di samping kekejaman,                 dan kelicikannya, Belanda punya 
kepedulian sangat besar terhadap ilmu pengetahuan,                 terutama 
sejarah, bahasa, dan sastra etnik di tempat jajahannya. Begitu banyak 
kepustakaan                 yang "terselamatkan" dan sampai hari ini masih 
terpelihara dengan baik. Bangsa                 kita, khususnya orang Sunda, 
dapat menyusun sejarah kunonya berdasarkan sumber sejarah                 yang 
ada di Leiden. Sampai sekarang, Leiden tetap menjadi "kiblat" dan sumber        
         penelitian ilmiah yang sangat kaya tentang kesejarahan dan etnologi 
Hindia Belanda atau                 Indonesia. Semuanya ada dan lengkap. Konon, 
arsip kebudayaan yang ada di Leiden itu bila                 disambung-sambung 
akan mencapai 1,7 km.
                 Ada dua pusat dokumentasi dan pengkajian tentang Indonesia di 
negeri Belanda itu,                 Leiden dan Utrech. Leiden menjadi pusat 
dokumentasi dan pengkajian etnologi, Utrech punya                 spesifikasi 
kajian hukum Hindia Belanda. Semua hukum adat hukum agama, dan hukum formal     
            Indonesia dari Sabang hingga Mereauke, di Utrech ada.
                 Memang banyak orang Indonesia, termasuk pemerintah sejak zaman 
Soekarno-Hatta yang                 menginginkan semua milik bangsa kita 
dikembalikan oleh Belanda ke sini. Akan tetapi,                 banyak pula 
orang Indonesia yang skeptis. Biarkan saja semua harta karun milik kita itu     
            berada dalam pemeliharaan para profesional di sana. Masalahnya, 
bangsa kita belum memahami                 teknik memelihara barang bernilai 
historis itu. Masyarakat golongan kedua ini justru                 
mengkhawatirkan, andai naskah dan barang bernilai sejarah itu diboyong ke sini, 
akan cepat                 hancur atau hilang.
                 Harus kita akui, ketelatenan bangsa kita masih jauh di bawah 
bangsa lain. Kita harus                 mengakui, orang Belanda dan kebanyakan 
orang Eropa sangat menjunjung tinggi ketelatenan.                 Dokumentasi 
dan kearsipan, termasuk perpustakaan, merupakan bidang yang membutuhkan         
        ketelatenan. Itu semua belum kita miliki. Kebanyakan orang kita tidak 
memiliki kepedulian                 terhadap nilai-nilai sejarah. Historical 
instink-nya belum peka. Jangankan barang                 kuno, naskah 
supersemar saja bisa raib.
                 Kebanyakan orang kita enggan melaporkan apalagi menyampaikan 
barang bernilai sejarah                 sebagai bahan penelitian. Masih banyak 
barang kuno, termasuk artefak, naskah, prasasti,                 senjata, 
perhiasan kuno yang ada dan dimiliki masyarakat secara tersebar. Banyak di      
           antaranya yang justru beranggapan, barang tersebut merupakan azimat 
yang bertuah. Barang                 kuno tersebut tidak dijadikan alat bantu 
penelitian sejarah, tetapi dipusti-pusti.                 Dipajang hanya pada 
bulan Mulud setelah dimandikan dengan upacara ritual.
                 Itu baru yang berkaitan dengan sejarah. Begitu pula halnya 
peralatan yang berkaitan                 dengan kesenian. Lebih dari 400 jenis 
kesenian Sunda yang punah nyaris tak                 terdokumentasikan. Banyak 
alat kesenian atau waditra yang kemudian beralih fungsi akibat                 
ketidakmampuan masyarakat memaknai media kesenian tersebut. Wayang kulit, 
wayang golek,                 gong, kecapi, dan sebagainya, bahkan gamelan 
lengkap yang berusia di atas satu abad, sudah                 tidak 
dimanfaatkan lagi sebagai alat kesenian tetapi disimpan menjadi medium ketika 
orang                 ingin berhubungan dengan dunia gaib.
                 Masyarakat Sunda disebut sebagai etnik tanpa warisan 
kebudayaan yang berwujud (physically).                 Orang Jawa Tengah, Jawa 
Timur, Bali, dan sebagainya diberi warisan oleh leluhurnya                 
berupa candi, patung, situs, dan sebangsanya. Hirarki ritual, bentuk kesenian, 
dan                 kerunutan budayanya juga sangat jelas karena ada makom atau 
pusat pemeliharaan dna                 penyebarannya yakni keraton. Sedangkan 
masyarakat Sunda serba temaram, karena tidak                 memiliki pusat 
pemeliharaan dan penyebaran kebudayaan. Pertumbuhan kesenian terkesan           
      sporadis.
                 Memang seperti etnik lain, masyarakat Sunda juga memiliki 
kekayaan budaya luar biasa.                 Justru karena sporadis itulah, 
orang Sunda punya spora budaya yang bisa tumbuh dan                 tersebar di 
mana-mana. Semuanya memiliki ciri masing-masing. Kelemahannya, ketika terjadi   
              pergesesan budaya, produk budayanya ikut tergusur. Masyarakat 
penerusnya mengalami                 kesulitan ketika hrus mendeskripsikan 
kekayaan budaya tersebut. Wilayah cakupannya terlalu                 luas, 
karena masyarakat Sunda tidak memiliki pusat pemeliharaan dan pengembangan,     
            sekaligus benteng kebudayaan, yakni--sekali lagi--keraton. Selain 
itu, masyarakat Sunda                 punya mobilitas sangat tinggi sehingga 
pemusnahan kebudayaan sama cepatnya dengan pengaruh                 budaya luar.
                 Seorang peneliti kebudayaan Jawa, akan mendapat masukan sangat 
banyak bila ia datang ke                 keraton. Sedangkan peneliti kebudayaan 
Sunda harus bekerja keras mendatangi tiap wilayah                 budaya yang 
tersebar dari Ujungkulon ke Kali Opak. Bahkan agar hasil penelitiannya lebih    
             lengkap, ia harus melakukan studi komparasi dengan kebudayaan 
etnik di Madagaskar,                 Thailand, Vietnam, Melayu, dan wilayah 
budaya lain yang aboriginitas (kehidupan purba)-nya                 runut dan 
terdokumentasi secara baik.
                 Lingkaran budaya
                 Jawa Barat juga memiliki peta perkembangan kebudayaan. Namun, 
karena kurang                 terkomunikasikan kepada publik, masyarakat Sunda 
tidak begitu mengenal titik-titik                 perkembangan kebudayaan 
miliknya. Memang agak sulit membaca peta perkembangan kebudayaan                
 Jawa Barat, terutama pascarevolusi.
                 Titik awal dan penyebaran kebudayaan tidak selalu berupa 
lingkaran berjari-jari sama                 panjang. Penybaran kebudayaan lebih 
mirip teori tinta tumpah. Hal itu dapat dilihat dari                 
perkembangan kesenian. Cianjur merupakan titik awal pertumbuhan Tembang Sunda 
tersebut.                 Seyogianya Tembang Sunda Cianjuran menyebar ke segala 
arah, membuat lingkaran kebudayaan.                 Pada kenyataannya, 
Cianjuran justru menyebar terlebih dahulu secara horizontal ke arah             
    timur sampai ujung wilayah Priangan. Begitu pula bahasa dialek (wewengkon) 
yang                 membentuk lingkaran kecil-kecil. Bahasa Cirebon berbeda 
dengan bahasa Indramayu. Bahasa                 Sunda Haurgeulis berbeda dengan 
bahasa Lelea, padahal secara geografis dan administratif,                 masih 
satu wilayah. Bahasa Betawi berbeda dengan bahasa Bekasi.
                 Meskipun lingkaran kebudayaan secara geografis tidak terlalu 
jelas, beberapa tempat                 sebagai titik awal perkembangan 
kebudayaan sangat bermanfaat terutama bagi para                 peneliti. 
Pendokumentasian, pelestarian, dan pembinaan, kemudian pengembangan kebudayaan  
               bisa dimulai dari beberapa titik tersebut. Ke mana arah 
penyebarannya dapat segera                 dipetakan kembali. Kita butuh peta 
kebudayaan yang mutakhir dengan akurasi tinggi.
                 Karena Jawa Barat, katakanlah orang Sunda, tidak memiliki 
pusat pengembangan                 kebudayaan, sebaiknya yang berfungsi dan 
berperan sebagai keraton itu pemerintah. Akan                 tetapi--seperti 
juga di negara maju--universitaslah yang justru harus lebih berperan.           
      Perguruan tinggi paling kompeten melakukan kajian ilmiah, melakukan       
          pendokumentasian, pemetaan, serta pengembangan kebudayaan. Betapa 
pun, PT                 memiliki segalanya, sejak SDM hingga ilmu terapan, 
pertanggungjawaban ilmiah, dan                 keabsahan serta fasilitas.
                 Seperti Leiden dan Utrech, yang terletak di kota kecil yang 
mudah dijangkau dari                 Amsterdam dengan kereta api, Unpad yang 
terletak di Jatinangor mengambil alih fungsi dan                 peranan 
keraton. Unpad merupakan PT negeri, Leiden juga universitas negeri yang secara  
               konsisten membangun dirinya sebagai pusat pengkajian sejarah, 
sastra, bahasa, dan kajian                 etnologis lainnya. Mengapa Unpad 
tidak?
                 Universitas negeri kebangsaan Jawa Barat itu memiliki potensi 
luar biasa dibandingkan                 dengan Disbudpar atau bahkan pemprov 
sebagai pusat pengkajian kebudayaan. Segala sesuatu                 yang 
berkaitan dengan kajian ilmiah kebudayaan Sunda, Unpad-lah tempatnya. 
Dokumentasi                 berupa skripsi, desertasi, transkripsi, notulis, 
buku, dan hasil penelitian tentang                 kebudayaan terhimpun di 
lembaga kajian yang secara formal didirikan oleh Unpad. Begitu                 
pula pemeliharaan dan pengembangan kesenian Sunda. Unpad pulalah yang kelak 
menjadi                 "kiblat" kesenian Jawa Barat. Satu repertoar akan punya 
nilai lebih bila                 dipentaskan di atau oleh Unpad.
                 Itu tidak berarti PT lain tidak berperan. Semua PT yang 
berdiri di Jawa Barat secara                 otomatis menjadi pemangku 
kepentingan yang berkewajiban menyebarkan kebudayaan Sunda.                 
Peyebaran, melalui pementasan, diskusi, ceramah, misi kesenian ke luar 
merupakan tugas PT                 di luar Unpad.
                 Secara bilateral, Unpad bisa menjalin kerja sama konkret 
dengan Leiden dan beberapa                 universitas di London dan Paris 
dalam upaya penggandaan semua naskah, arsip, dan katalog                 yang 
berkaitan dengan Sunda. Pada suatu saat kelak, hasil penggandaan itulah yang 
disimpan                 di Leiden dan universitas lain, sedangkan aslinya, 
justru berada di Unpad.
                 Kalau keinginan ini sesuai dengan kehendak Allah SWT, para 
calon doktor cukup melakukan                 penelitian kepusataan di Unpad, 
universitet van Jatinangor, tidak usah wawalandaan.                 Bisakah 
rektor baru mengarahkan cita-citanya ke sana? Bergantung sepenuhnya kepada 
minat,                 kepedulian, daya apresiasi, serta kecintaannya terhadap 
kebudayaan Sunda. Wilujeng                 pancen, Pa Rektor!*** 
                 Penulis, wartawan senior yang jatuh cinta pada kebudayaan 
Sunda.
 



[Non-text portions of this message have been removed]



http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke