Apakah Manusia Purba Terkubur di Gua Pawon? Oleh Dr. EKO YULIANTO MASIH ingatkah anda dengan Gua Pawon, sebuah gua di perbukitan batu gamping Padalarang tempat di mana fosil manusia purba pertama di Jawa Barat ditemukan? Bahwa Gua Pawon adalah situs manusia purba sudah tak terbantahkan lagi dengan ditemukannya fosil manusia purba dan alat-alat budayanya di gua tersebut. Namun gua ini ternyata masih menyimpan banyak sekali misteri menyangkut keberadaan fosil manusia purba yang ada di dalamnya.
Salah satu misterinya adalah tentang runtuhnya atap salah satu ruang gua yang paling luas yang berada tepat di depan Gua Kopi yaitu sebuah ruang gua tempat ditemukannya fosil manusia purba. Pertanyaan yang mengemuka bukan hanya mengenai sebab-musabab tapi juga tentang waktu runtuhnya atap itu. Mungkinkah pada saat atap gua itu runtuh manusia purba sudah menghuni Gua itu? Seperti apakah lingkungan yang ada di sekitar gua pada saat itu? Adakah bukti-bukti yang dapat digunakan untuk menjelaskan hal-hal diatas? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut rupanya telah terekam dalam lapisan-lapisan tanah yang ada di lantai Gua Pawon. Seperti apakah lapisan tanah yang ada di Gua Pawon? Seperti apa pula rekaman yang tersimpan di dalamnya? Hasil penelitian-penelitian awal yang dilakukan di Gua Kopi memperlihatkan bahwa lantai gua itu tersusun atas tiga lapisan tanah yang dapat dibedakan dengan jelas. Lapisan-lapisan tanah tersebut diendapkan diatas batu gamping yang serupa dengan batu gamping yang membentuk perbukitan batu gamping Padalarang. Lapisan tanah paling bawah berupa lapisan tipis, berwarna putih atau cokelat muda keputihan. Di dalam lapisan ini terdapat lapisan fosfat lunak, berwarna putih. Beberapa serpihan batu berwarna hijau yang tajam di bagian tepinya ditemukan di lapisan ini. Di samping itu ditemukan juga pecahan-pecahan arang. Adanya fosfat pada lapisan paling bawah menunjukkan bahwa pada saat lapisan itu terendapkan, di atap Gua Kopi masih bergelantungan kelelawar. Kotoran kelelawar (guano) yang teronggok di lantai gua inilah yang kemudian berubah menjadi lapisan fosfat tersebut. Keberadaan kelelawar menunjukkan bahwa pada saat lapisan tanah ini terbentuk Gua Kopi masih berupa ruang gua yang gelap. Kondisi gelap ini hanya mungkin terjadi jika atap ruang di depan Gua Kopi yang luas itu belum runtuh. Ini tentu saja berbeda dengan kondisi saat ini di mana Gua Kopi yang hanya berukuran sekira 25 meter persegi ini senantiasa terang-benderang di siang hari. Tidak ada satu ekor kelelawar pun tinggal di dalamnya. Keadaan terang-benderang ini terjadi karena ruang gua yang luas yang berada tepat di depan Gua Kopi sudah runtuh. Akibatnya sinar matahari mampu menerangi ruangan ini dan ruangan sekitarnya termasuk Gua Kopi. Pada sisi lain dengan ditemukannya serpihan batu hijau dan pecahan-pecahan arang di lapisan tanah paling bawah ini menunjukkan bahwa manusia purba telah ada di Gua Pawon pada saat atap Gua Pawon belum runtuh. Batu hijau ini yang dalam ilmu geologi disebut chert, sudah pasti dibawa oleh orang masuk ke dalam gua. Asal dari batu hijau ini pun belum diketahui dengan pasti. Batu ini kemungkinan besar sengaja dibawa oleh manusia purba dan diambil dari luar daerah Padalarang karena tidak terdapat sumber batu hijau ini di daerah Padalarang. Adanya pecahan-pecahan arang menjadi bukti yang memperkuat argumentasi bahwa Gua Pawon sudah dikunjungi manusia purba pada saat itu. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa komunitas awal manusia purba penghuni Gua Pawon sudah mengenal budaya api. Pertanyaan yang menarik untuk dicari jawabannya adalah mungkinkah ada manusia purba yang terkubur reruntuhan atap Gua Pawon? Mungkin saja karena ruangan gua yang atapnya runtuh merupakan ruangan yang sangat luas. Di samping itu, sebelum atapnya runtuh ruangan ini pun kemungkinan berupa ruang yang cukup terang karena memiliki dua "jendela" terbuka yang sangat lebar yang masih tersisa hingga saat ini. Namun untuk menjawabnya dengan pasti tentunya memerlukan usaha yang sangat besar karena harus membongkar bongkah-bongkah batu gamping runtuhan atap gua lebih dahulu. Lapisan tanah bagian tengah berwarna merah bata. Pada lapisan inilah fosil manusia purba, berbagai jenis peralatan batu dan peralatan dari tulang serta fosil-fosil binatang yang sangat melimpah ditemukan. Di lapisan ini, pecahan arang didapatkan dalam jumlah yang relatif lebih banyak dari yang terdapat di lapisan pertama. Kandungan fosil manusia purba dengan berbagai peralatan batu dan tulang serta ribuan fosil binatang pada lapisan tanah bagian tengah menunjukkan bahwa lapisan ini adalah lapisan budaya. Pada saat lapisan tanah ini diendapkan, Gua Pawon pasti sedang dihuni oleh sekelompok manusia purba. Kelompok ini bisa jadi adalah keturunan kelompok manusia purba yang telah menghuni Gua Pawon sebelum atap gua runtuh, atau bisa jadi juga kelompok manusia purba lainnya. Yang jelas pada saat itu gua ini digunakan secara intensif oleh manusia purba. Warna merah bata dari lapisan tanah bagian tengah ini menunjukkan bahwa material yang menyusun lapisan ini mengalami proses-proses oksidasi atau pelapukan kimiawi yang cukup intensif. Proses oksidasi hanya bisa terjadi kalau material tersebut berada di ruang terbuka sehingga dapat berinteraksi dengan oksigen secara intensif. Pada kondisi demikian seandainya material penyusun lapisan ini adalah material yang berasal dari ruang Gua Kopi itu sendiri maka jelas bahwa pada saat itu ruangan ini tentunya telah terbuka. Artinya atap ruangan gua di depan Gua Kopi kemungkinan besar sudah runtuh pada saat lapisan ini diendapkan. Lapisan paling atas berwarna cokelat muda agak putih. Meskipun alat-alat batu masih didapatkan di lapisan ini, namun jumlahnya lebih sedikit daripada yang ada di lapisan tengah. Pecahan-pecahan arang juga ditemukan di lapisan ini. Bagian atas dari lapisan dari permukaan tanah hingga kedalaman sekira 60 cm sudah tercampur aduk kemungkinan akibat penggalian liar dengan tujuan mencari fosfat. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya pecahan botol dan tutup botol pada kedalaman tersebut. Lapisan tanah paling atas mengandung lebih sedikit alat batu dan tulang-tulang binatang jika dibandingkan dengan lapisan tanah bagian tengah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pada saat lapisan ini terbentuk Gua Pawon masih digunakan oleh manusia purba namun penggunaannya kemungkinan tidak seintensif seperti ketika lapisan tanah bagian tengah terbentuk.*** Penulis, anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung dan berafiliasi di Puslit Geoteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
