Poligami Tentu bukan salah Pollycarpus yang belum lama ini dibebaskan dari tuduhan dalam kasus pembunuhan pahlawan Munir bahwa hari-hari ini poligami dihakimi, walaupun secara harfiah kedua-duanya bisa dengan nakal saling dikaitkan. Polycarpus, nama seorang martir Kristen abad pertama, secara harfiah berarti 'banyak buah', sedangkan poligami berarti 'banyak kawin'.
Dengan lebih serius, segala dosa bisa ditimpakan pada ketiadaan reseptor hormon oxytocin dan vasopressin dalam otak. Ilmuwan yang meneliti semacam tikus padang, yang dari sononya sangat setia pada satu pasangan (lihat The Economist, 12/2/2004), menemukan, apabila reseptor kedua hormon itu diganggu, tikus itu lantas jadi liar kawin sana-sini. Sebaliknya, tikus yang lahir tanpa reseptor tetap gemar gonta-ganti pasangan biarpun disuntik sampai kembung dengan kedua hormon itu. Dengan kata lain, biologi menentukan ada yang nikmat berpoligami, ada yang nyaman bermonogami. Ada tidaknya reseptor itu bergantung pada gen. Nah, pada manusia, jumlah reseptor ini bervariasi. Ada yang cenderung setia pada satu orang dan siap sedia mati berdua menerjang badai menuju rumah tangga sejahtera. Ada yang suka obral gombal cari muka dan sensasi baru mengarungi samudra berlimpah kerling aduhai dan jantan testosteron. Bagaimana wujud sosial perilaku ini selanjutnya bergantung pada selera masyarakat. Dalam masyarakat yang mengirim poligamis ke penjara, pengejar cinta uptodate akan dengan enteng berselingkuh kanan kiri, biasa disebut promiskuitas (campur-baur), alias ini boleh itu suka. Dalam masyarakat penentang hubungan romantis di luar nikah, poligami adalah jalan keluar yang agak mahal. Dalam masyarakat yang mati-matian menolak keduanya, pelacuran adalah penyaluran yang agak murah. Dalam masyarakat yang menentang ketiganya, perbudakan seksual bisa jadi jalan keluar karena budak tidak dianggap orang. Poligami sendiri sebetulnya tidak hanya berarti banyak istri. Baik laki-laki maupun perempuan bisa berpoligami, punya banyak pasangan. Seorang laki-laki punya banyak istri, namanya poligini (banyak perempuan). Seorang perempuan punya banyak suami, sebutannya poliandri (banyak laki-laki). Dalam sejarah masyarakat manusia, poligini lebih bisa diterima daripada poliandri. Ini karena sudah fitrahnya laki-laki lebih mudah tertarik terhadap kemudaan dan kecantikan, sedangkan perempuan lebih kesengsem terhadap uang, pendidikan, dan posisi sosial. Untuk mencari ganti kulit mulus dan lekuk lengkung yang cepat hilang, laki-laki melembagakan poligini; sedangkan uang dan kekuasaan bisa bertahan seumur hidup, jadi poliandri biasanya tidak begitu mendesak bagi perempuan. Bagaimana supaya adil? Kata ini rajin dikutip pendukung dan penentang poligami tapi jarang didefinisikan dengan komplit. Yang adil seadil-adilnya ialah: bila poligini boleh, poliandri juga oke. Sama seperti monogami (satu kali kawin) untuk laki-laki dan perempuan hukumnya sama. Begitu pula halnya dengan bigami (dua kali kawin). Bila poliandri dilarang, poligini juga harus diharamkan. Debat kusir tentang keadilan di dalam poligami tidak ada artinya dalam menentukan adil tidaknya lembaga poligami bagi masyarakat manusia, bila posisi perempuan memang dianggap setara dengan laki-laki. SAMSUDIN BERLIAN Pengamat Bahasa
