Laporan Akhir Tahun
Kemiskinan Memborgol Demokrasi

Simon Saragih

Mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela mengatakan,
pemberantasan kemiskinan merupakan pilar bagi tercipta dan
berkembangnya demokratisasi di Afrika. Benar juga! Bagaimana manusia
bisa bicara soal demokrasi jika perut keroncongan? Bagaimana manusia
bisa menyuarakan aspirasi jika ia sendiri tak berdaya secara fisik?

Tentu pernyataan itu juga berlaku untuk Amerika Latin, Timur Tengah,
dan Asia. Lebih dari itu, bebas dari kemiskinan juga menjadi hak legal
untuk siapa saja. "Setiap orang berhak atas standar hidup yang layak,
dengan akses yang memadai terhadap layanan kesehatan untuk dirinya dan
keluarganya, termasuk makanan...," demikian petikan dari Deklarasi
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) soal Hak Asasi Manusia 1948.

Bebas dari kemiskinan adalah bagian dari hak dan tentunya bagian dari
demokrasi. Namun, semua itu masih ilusi bagi mayoritas warga dunia.

Wajah kusam dan lusuh, tempat tinggal seperti kandang ternak,
merupakan pemandangan di banyak negara. Sejumlah gelandangan
tergeletak di tepian jalan, ada pula anak-anak di bawah umur yang
terpaksa bekerja untuk mencari nafkah. Dari Afrika hingga Jakarta,
misalnya, tak sulit menemukan warga yang hidup dari mengemis karena
miskin.

Memedihkan! Itulah kata yang paling tepat menggambarkan kehidupan dari
1,2 miliar penduduk dunia yang hidup di bawah garis kemiskinan, yakni
mereka yang hanya memiliki pengeluaran kurang dari 1 dollar AS.

Siapa yang peduli akan nasib mereka? Semua mengatakan peduli, mulai
dari negara miskin hingga para pemimpin G-8. Bahkan, setumpuk program
pemberantasan kemiskinan global sudah tersusun. Salah satu yang
ternama adalah Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), sebuah program PBB
soal pengurangan 1,2 miliar warga miskin menjadi setengahnya pada
tahun 2015. Namun, pesimisme mewarnai pencapaian target itu.

Banyak cara

Pertanyaannya kemudian, bagaimana menurunkan target-target itu. Apa
saja kendala yang dihadapi?

Salah satu cara adalah dengan pertumbuhan ekonomi. Asisten Sekretaris
Jenderal (Sekjen) PBB yang juga Direktur Program Pembangunan PBB
(UNDP) Hafiz Pasha mengatakan, untuk mengurangi kemiskinan, semua
negara wajib meraih pertumbuhan minimal 7 persen. Itu diperlukan untuk
menciptakan kesempatan kerja sebesar 1 persen.

China pada khususnya dan Asia pada umumnya tergolong paling sukses
menurunkan kemiskinan berkat pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, semua syarat untuk kelancaran pertumbuhan ekonomi harus
disiapkan. Celaka bagi negara berkembang. Banyak terjebak konflik,
yang justru semakin memperburuk kemiskinan. Ada politisi yang saling
sikut dan membuahkan politik yang tidak stabil.

Lepas dari itu, pertumbuhan ekonomi ternyata bukan pula cara paling
ampuh mengurangi kemiskinan. Mengapa? UNDP memperlihatkan pertumbuhan
ekonomi hanya menghasilkan peningkatan kemakmuran warga kaya dan tak
menetes ke bawah.

Bagaimana mengatasinya?

Peraih Nobel Perdamaian 2006 Muhammad Yunus mengatakan, pengurangan
kemiskinan harus dengan program yang menyentuh langsung mereka yang
terjerat kemiskinan. Sejak tahun 1974 sampai 2007, ia membuktikan
bahwa setidaknya 6 juta warga termiskin di Banglades bebas dari
kemiskinan, padahal Banglades bukan negara yang tergolong emerging
market (negara dengan perekonomian yang menggeliat) seperti banyak
negara Asia lainnya.

Peningkatan kredit mikro adalah salah satu andalan yang diusulkan
Yunus. Ia mengecam Bank Dunia, yang tidak fokus pada tugasnya, yakni
memberantas kemiskinan. Bank Dunia malah memberikan kredit kepada
perusahaan pertambangan lewat afiliasinya, International Financial
Corporation. "Tidak 1 persen pun dari 20 miliar dollar AS dana Bank
Dunia yang mengalir ke kredit mikro," kata Yunus.

Program kredit mikro sudah mulai mendapatkan perhatian besar, tetapi
implementasinya masih seperti hangat-hangat kuku dan tidak revolusioner.

Pola De Soto

Saran lain soal pengurangan kemiskinan adalah dengan pemberdayaan
sektor informal, usulan Hernando de Soto. Sebanyak 70 persen penduduk
dunia itu hidup di sektor informal, pada umumnya di negara berkembang.
Mereka tidak mendapatkan status hukum, terlunta-lunta, menjadi sasaran
pemerasan oleh aparat, preman, dan bahkan pejabat pemerintah.

Sektor informal tidak punya akses ke sektor modern, termasuk ke
perbankan. "Jangan beri belas kasihan pada rakyat kecil. Beri saja
mereka akses ke sektor modern dan pemberian status hukum, maka pelaku
sektor informal akan bergerak sendiri," kata De Soto.

Dengan status hukum, sektor informal menjadi bankable (layak diberi
pinjaman perbankan). Keberadaan status hukum adalah salah satu syarat
paling mendasar bagi perbankan untuk mengucurkan kredit ke dunia
usaha. Sudah ada 35 negara yang meminta nasihat De Soto.

Namun, jangan lupa, De Soto menegaskan bahwa pemberdayaan sektor
informal juga harus diiringi dengan kebijakan pemerintah yang berpihak
kepada kaum papa, tidak semata-mata pemberian status hukum, walau
status hukum merupakan syarat paling fundamental. Namun, belum banyak
yang serius menjalankannya.

Alternatif lain

Ada lagi alternatif lain untuk mengurangi kemiskinan. Ini terutama
berlaku bagi negara yang kaya minyak dan sumber daya alam lainnya.
Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair pada sebuah pertemuan dunia di
Johannesburg, Afrika Selatan, tahun 2002 mengusulkan The Extractive
Industries Transparency Initiative (IETI).

Program IETI ini bermakna luas, yakni bagaimana mengubah sumber daya
alam menjadi berkah dan bukan kutukan, dan sumber pertikaian, konflik
berdarah. Transparansi pengelolaan dan eksplorasi atas sektor
pertambangan sangat diperlukan. Tujuannya agar hasil sektor tambang
bisa dimanfaatkan untuk kepentingan mayoritas warga, pemilik sumber daya.

Norwegia merupakan salah satu negara kaya minyak dan ingin berbagi
pengalaman soal pengelolaan kekayaan alam bagi negara berkembang lainnya.

Namun, empat tahun setelah EITI dicanangkan, tak banyak perubahan
dalam transparansi pengelolaan sektor tambang. Itu hanya milik elite,
yang terdiri dari korporasi asing, dan elite pemerintahan. Rakyat
hanya penonton.

Venezuela, Rusia, Bolivia, dan kini Ekuador telah mencoba membalikkan
keadaan itu. Hasilnya adalah perbaikan besar dalam alokasi kekayaan
alam, yang dialokasikan kepada rakyat. Lagi, belum banyak negara lain
yang mengikutinya, termasuk Indonesia.

Alternatif lain untuk mengurangi kemiskinan adalah pengurangan beban
pembayaran utang luar negeri negara berkembang, oleh negara maju. UNDP
tak melihat semangat besar negara kaya untuk melakukan itu.

Pengurangan kemiskinan juga bisa dilakukan dengan pembukaan pasar
negara maju terhadap produk pertanian negara berkembang. Namun, semua
upaya itu masih mentok. Perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)
kini buntu karena negara maju belum mau membuka pasarnya untuk
komoditas pertanian negara berkembang.

Maka, tak heran jika pada pertemuan G-8 tahun 2005 di Gleeneagles,
Skotlandia, PM Blair mengutarakan bahwa keadaan di Afrika—dan tentunya
di negara lain—merupakan simbol dari nurani dunia yang terkoyak.

Para aktivis hingga Sekjen PBB Kofi Annan menyatakan, dibutuhkan
perhatian lebih besar untuk mengurangi kemiskinan. Pemberantasan
terorisme, penciptaan perdamaian global, antara lain harus juga
dilakukan dengan mengatasi akarnya, yakni kemiskinan.

Menurut Annan, adalah unsur kemiskinan yang justru membuat orang
gampang direkrut untuk menjadi teroris atau terdorong sendiri untuk
berbuat kriminal. Kemiskinan telah mempersulit stabilitas, yang juga
harus menjadi pilar demokrasi. Kesimpulannya adalah kemiskinan masih
memborgol demokrasi! 

Kirim email ke