Anggaran Seni Budaya

BERULANG-ULANG kepala digoyang dan sesekali mangut-manggut. Namun,
posisi kepala dimiringkan ke sebelah kiri hingga nyaris menyentuh
pundak dan kedua tangan dilipat lebih sering diperlihatkan. Ekspresi
seperti ini terekam jelas dari sejumlah pelaku seni dan budaya serta
pemerhati seni dan budaya yang tergabung dalam "Forum Diskusi Seniman,
Budayawan, dan Pemerhati Seni dan Budaya Jawa Barat" saat melakukan
pembicaraan yang sebenarnya tidak dalam suatu forum resmi karena
digelar begitu saja di salah satu warung sate dan gule di bilangan
Pasar Kosambi.

Pemberitaan di sejumlah media cetak, jadi pangkal masalah yang membuat
suasana menjadi serius. Dalam berita tersebut dinyatakan bahwa
anggaran tahun 2007 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat untuk
kesenian dan kebudayaan turun sebesar 45 persen. Semula untuk seni
budaya tahun 2006 diterima Rp 7,5 miliar. Angka tersebut hanya
diperuntukkan bagi kegiatan yang sudah terprogram atau diajukan oleh
Disbudpar Jabar sebagai program kegiatan selama satu tahun ke depan.
"Penurunan ini sangat wajar terjadi dan harus dimaklumi karena setiap
ada kegiatan atau pegelaran khususnya seni tradisi, jarang ada anggota
DPRD Jabar khususnya di Komisi E yang membidangi seni budaya hadir.
Mungkin juga anggota Komisi E tidak paham dan mengerti terhadap
kondisi seni budaya saat ini," ujar Mas Nanu Muda, S. Sen., M. Hum.,
pelaku seni tradisi yang juga akademisi.

Bahkan kalau diambil polling dari rekan seniman dan budayawan yang
pernah tampil di Taman Budaya Dago Tea House atau Anjungan Jawa Barat
Taman Mini Indonesia Indah, pasti akan mengatakan tidak pernah merasa
dihadiri oleh orang dari DPRD Jawa Barat. Memang hal ini sangat
memprihatinkan, di satu sisi anggota dewan yang terhormat menjadi
penentu dan pengambil kebijakan bahkan mengetuk palu pertanda setuju.
Tetapi, di sisi lain tidak pernah terjun ke lapangan untuk mempelajari
dan mengumpulkan data untuk bahan mengambil keputusan.

Terlepas dari turunnya anggaran untuk seni budaya sebesar 45 persen
tersebut, yang pasti seni budaya di Jawa Barat yang jumlahnya tidak
kurang dari 300 jenis dari hampir 8 rumpun, semakin nyata di ambang
kepunahan. Demikian pula halnya dengan 49.023 seniman, seniwati, dan
juga budayawan dari 4.269 kelompok yang tercatat di Disbudpar Jabar,
dipastikan akan semakin mandek dalam menggelar hasil karyanya. Bahkan
bisa jadi berhenti sama sekali karena kekurangan biaya. Demikian pula
halnya dengan 283 jenis upacara adat yang 24 jenis di antaranya
bersifat religi dan kemasyarakatan, kemungkinan tahun depan tidak akan
kembali diselenggarakan. Kalaupun ada mungkin dalam suasana prihatin
dan alakadarnya. (Retno HY/"PR")***

Kirim email ke