BAHASA Selamat Natal Makna natus (Latin) berhubungan dengan lahir, maka kelahiran paling agung bagi orang Kristen dirayakan pada Hari Natal. Hari lahir siapa saja sebetulnya bisa disebut hari natal, apa lagi yang bernama Natalia. Kita pun kenal dies natalis, hari ulang tahun, yang lazim hanya untuk universitas.
Lahir itu menjadi ada dan semua yang ada itulah alam, kodrat. Maka alam pun disebut natur atau nature. Jangan bilang natura sebab artinya ialah (pembayaran) bukan dengan uang, misalnya ubi atau telur yang diterima petugas kesehatan dari pasiennya di pelosok. Salah satu tugasnya yang lain ialah mencatat natalitas, laju kelahiran. Kalau obat pasokan Depkes habis, mungkin akan dia coba naturopati, metode pengobatan alami untuk mendorong proses penyembuhan natural. Kalau punya bakat alami, dia bisa mengisi waktu luangnya dengan mengembangkan kemampuan seni naturalistik yang mengagungkan alam, lantas dengan bangga dia boleh menyebut diri naturalis. Orang yang sampai dewasa tinggal di tempat dia lahir disebut native, pribumi, penghuni asli. Di negeri ini kata nativisme tidak begitu dikenal, tapi nativis banyak, yaitu mereka yang mendukung kebijakan mendahulukan kepentingan atau budaya pribumi. Kalau banyak natives di satu wilayah dengan sadar memutuskan untuk punya pemerintahan sendiri, lahirlah nation, bangsa. Hal-hal yang khas pada bangsa itu disebut national. Jadi, bisa ada bahasa nasional, bisa juga utang nasional. Kalau ada orang yang lahir di tempat lain ingin masuk jadi bagian nation itu, dia harus "di-native-kan" lewat proses naturalisasi. Semangat menjunjung bangsa sendiri, yang biasanya berlebih-lebihan, disebut nasionalisme. Dalam bahasa Inggris dikenal Nativity, tapi lebih umum dipakai Christmas, Misa Kristus, Mass of Christ. Biasanya keluarga merayakan dengan berkumpul makan bersama dan saling memberi hadiah di bawah Pohon Natal sebab Kristus dianggap hadiah istimewa dari Tuhan untuk umat manusia. Semangat memberi yang menggebu-gebu ini, bergabung dengan jiwa kapitalisme, membuat pedagang sangat mencintai Musim Natal. Sinterklas atau Santa Claus yang mulanya tidak berhubungan dengan Natal kini mendapat tempat terhormat di pusat-pusat belanja seluruh dunia sebagai pembagi hadiah dan pembawa sukacita par excellence. Tanggal 25 Desember sebetulnya tidak punya kaitan historis dengan kelahiran Yesus bin Yusuf. Tiada seorang pun tahu hari ulang tahun Putra Maria itu. Tanggal itu diambil-alih dari Dies Natalis Solis Invicti Hari Lahir Surya Jayaperayaan riang gembira orang Romawi menandai awal berakhirnya musim dingin. Tidak semua yang berkaitan dengan Natal berisi kesukacitaan. Nelayan-nelayan Peru selalu waswas pada hari-hari di seputar Natal karena kadang-kadang suhu permukaan Samudra Pasifik naik dan ikan-ikan sumber mata pencaharian bermatian. Bila itu terjadi, mereka dengan sedih mengatakan bahwa El Niño (Sang Putra) telah tiba. Kita di Indonesia pun ikut kalang kabut karena itu alamat kemarau kering panjang di Asia Tenggara. Moga-moga saja tahun ini gejala meteorologis yang bikin sengsara itu tidak datang bersama El Niño Pembawa Damai Sejahtera untuk seluruh muka bumi. SAMSUDIN BERLIAN Pengamat Bahasa
