Membaca Budaya Sunda
Oleh JAKOB SUMARDJO

    SELAMA saya mencoba memahami artefak-artefak budaya Sunda sebagai
simbol sosialnya, terutama artefak-artefak seninya, kesimpulan
sementara yang dapat saya ambil adalah betapa kayanya kebudayaan ini
dengan varian-variannya. Kita tidak dapat menyatakan bahwa budaya
Sunda itu begini dan begitu akibat variannya yang banyak.

Kalau pernyataan seperti itu diungkapkan, mungkin cocok untuk beberapa
varian, namun tentu ada melesetnya untuk varian-varian yang lain.
Antropolog Amerika, Robert Wessing, dalam Konferensi Kebudayaan Sunda
bertaraf internasional di Bandung, mengatakan bahwa Sunda sebagai
kesatuan adalah sebuah abstraksi, kenyataannya Sunda itu beragam,
namun Sunda juga adanya.

Realitas paradoks seperti ini segera terbaca ketika saya membaca
transkripsi beberapa pertunjukan pantun Sunda dari berbagai daerah di
Pasundan ini. Semua pantun Sunda adalah pantun Sunda, namun ada
perbedaan antara pantun Cisolok dengan pantun Situraja, dengan pantun
Kuningan, dengan pantun Bogor, dengan pantun Baduy. Begitu pula
beberapa seni pertunjukan Sunda hanya ada di satu daerah, misalnya
Garut, tetapi tidak ada di daerah Karawang, tidak di daerah Sumedang,
dan lainnya. Topeng Betawi hanya ada di sekitar masyarakat Sunda di
Jakarta dan Bekasi, Topeng Cisalak hanya ada di Bogor, Topeng Banjet
hanya ada di Karawang, Topeng Cirebon hanya ada di Cirebon yang
berbeda dengan Topeng Priangan.

Mereka yang ahli bahasa tentu akan menemui gejala varian yang serupa.
Bahasa Sunda itu jelas bahasa Sunda, namun ada perbedaan antara bahasa
di Priangan dengan di Bogor dan tempat lain. Benda yang sama oleh
beberapa dialek Sunda disebut dengan nama yang berbeda-beda. Atau
sebutan yang sama ternyata menunjuk pada kenyataan yang berbeda di
beberapa daerah. Semua ini menunjukkan bahwa budaya Sunda itu amat
kaya, amat beragam, amat bervarian, namun menunjukkan kesundaan yang
sukar dirumuskan. Mungkin ini bukan hanya gejala budaya Sunda, namun
realitas itu ada.

Inilah sebabnya orang harus berhati-hati untuk tidak terjebak dalam
pers pro toto, yakni menyebut suatu varian Sunda sebagai milik seluruh
budaya Sunda yang nomor dua besarnya setelah budaya Jawa itu. Tidak
mengherankan apabila artikel M. Rosihan Anwar, Ph.D., "Negara Pasundan
Versi Kartalegawa" ("PR" Selasa 12 Desember 2006) dapat menimbulkan
salah baca karena "versi" tersebut tidak berarti "seluruh Sunda".
Artikel itu dengan jelas menyebut bahwa masyarakat Sunda yang lain
justru menentangnya. Menyebut bagian untuk keseluruhan tidak dapat
diberlakukan begitu saja terhadap realitas budaya ini.

Dr. Nina N. Lubis menulis menulis dan mengedit buku berjudul Sejarah
Kota-kota Lama di Jawa Barat (2000), yang menyadarkan kita bahwa
sejarah Jawa Barat juga bervarian. Terbentuknya Banten, Cirebon,
Galuh-Ciamis, Sumedang, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Bogor
ternyata tidak merupakan suatu kesatuan peristiwa meskipun kadang ada
hubungannya, tetap merupakan "cerita" tersendiri. Berbeda kalau orang
mau menulis sejarah kota-kota lama di Jawa, misalnya, mau tak mau
tentu mengacu pada pusat kekuasaan yang sama. Kota-kota itu berkembang
sebagai bagian-bagian sejarah pusat yang sama meskipun mempunyai
cerita yang berbeda pula.

Sekarang ini masyarakat Sunda Cianjur misalnya, dapat menyusun sejarah
daerahnya sendiri yang tipis kaitannya dengan sejarah Banten atau
sejarah Cirebon. Begitu pula artefak-artefak seni setiap daerah
berbeda-beda. Bahasa Sunda juga bervarian. Namun semua
perbedaan-perbedaan itu menuju satu kesepakatan bahwa itu semua Sunda.
Genealogi Sunda itu kaya meskipun ada genealogi dasarnya yang sama,
yakni budaya masyarakat peladang (huma).

Geografi Pasundan ini berbukit-bukit dan kaya hujan. Tantangan alam
ini dijawab oleh masyarakat Sunda dengan mengembangkan teknologi
pertanian ladang. Huma adalah ladang berpindah karena tanaman padi
mengandalkan humus tanah dan hujan sehingga kesuburan tanah berusia
terbatas sekitar 4-5 tahun. Sesudah itu harus dicari lahan baru dengan
membuka hutan lagi.

Mobilitas ini tidak memungkinkan pembentukan kelompok besar, mungkin
hanya sekitar 40-50 keluarga dalam satu kelompok. Kelompok kecil ini
membentuk kesatuan dengan kelompok lain, yang biasanya pengembangan
dari kelompok (kampung) aslinya. Masyarakat Sunda membentuk kesatuan
kelompok itu dalam sistem tripartit. Di sini kebebasan dan keterikatan
saling mengisi. Ke dalam, bebas dan otonom, tetapi ke luar, terikat
oleh dua kelompok yang lain. Hubungan itu bersifat pembagian fungsi
dan otoritas.

Silih asah, silih asih, silih asuh. Saling mengasuh berarti ada yang
mengasuh dan diasuh. Pengasuh dipegang oleh kelompok asli tertua.
Inilah penguasa adat yang amat dihormat. Kampung inilah pemilik mandat
otoritas kekuasaan, namun ia tidak menjalankan mandat itu. Pelaku
mandat adalah kampung Silih Asih, yakni eksekutif yang menyatukan
ketiga kampung. Silih Asah dipegang oleh kampung ketiga. Asah berarti
mengasah, menajamkan karena otoritas menjaga keamanan dan pertahanan
ketiga kampung. Inilah kampung para ahli silat.

Kehidupan berladang ini merupakan embrio lahirnya konsep kebebasan
dalam keterikatan. Plural tetapi tunggal. Tiga tetapi satu. Satu
tetapi tiga. Pola ini masih hidup sampai hari ini di daerah perdesaan
Sunda, dengan susunan kampung adat (buhun), kampung nagara
(administrasi modern), dan kampung Islam di mana masjid besar berada.
Varian-varian Sunda muncul dari sistem tripatit ini. Bebas tetapi
menyatu. Sunda sini dan Sunda sana, namun satu Sunda. Secara
eksistensi banyak Sunda, namun substansinya satu Sunda.

Dalam sistem Sunda semacam itu, pancakaki merupakan asas penting
kekeluargaan atau kekerabatan. Hubungan darah lebih bermakna daripada
kesatuan lokal. Inilah sebabnya lokal-lokal Sunda boleh banyak dan
beragam, namun semua itu disatukan oleh darah Sundanya. Tidak heran
apabila hitungan pituin tidaknya darah seseorang akan menentukan
eratnya ikatan kekeluargaan. Sunda sejati adalah semua yang berdarah
Sunda sejak awalnya.

Sistem ini juga menyulitkan untuk mencari satu tokoh Sunda yang
mewakili seluruh kesundaan, justru karena kayanya varian. Satu-satunya
tokoh yang mewakili seluruh Sunda ialah Prabu Siliwangi karena raja
ini menyatukan seluruh Sunda dalam otoritas mandat sakralnya.
Siliwangi adalah Sunda dan Sunda adalah Siliwangi. Ketika tokoh yang
demikian itu tidak muncul lagi, kedudukannya digantikan lembaga agama
Islam yang memang menyatukan seluruh kesundaan. Islam adalah Sunda dan
Sunda adalah Islam.

Mungkinkah tokoh seperti Prabu Siliwangi akan muncul kembali sebagai
simbol Sunda yang baru? Dalam hubungan ini jelaslah bahwa tokoh
semacam Kartalegawa seperti ditulis Rosihan Anwar itu tentu tidak
dibaca sebagai mewakili Sunda.

Sistem tripartit ini juga menyebabkan orang Sunda sangat ekologis.
Gunung dan hutan dilestarikan. Pembukaan hutan selalu terbatas, bukan
babad hutan. Kelestarian hutan menjamin tersedianya air dan hujan.
Hutan-hutan sakral masih dapat disaksikan beberapa puluh tahun yang
lalu di Pasundan ini. Orang dilarang menebangi hutan semacam itu,
bahkan memasukinya pun dilarang.

Sebuah kesatuan tiga kampung atau enam atau sembilan, selalu dikaitkan
dengan keberadaan hutan sakralnya. Kampung dan hutan (bukit) adalah
pasangan kembar kehidupan. Keduanya saling mengisi dan memberi. Hutan
memberi air, manusia melestarikan hutan. Tidak heran apabila
gunung-gunung dan bukit-bukit (pasir) di tanah Pasundan terjaga
keberadaannya sampai beberapa puluh tahun lalu. Hutan, dalam pikiran
orang Sunda, dihuni oleh roh-roh raja. "Hati-hati kalau memasuki hutan
Anu dan Anu karena bisa bertemu dengan Putri Anu dari Pajajaran",
begitu bunyi pesan penduduk kampung dekat hutan. Berbeda dengan
pandangan orang Jawa yang melihat hutan sebagai tempat bersemayamnya
segala jin dan demit setan yang angker-angker. Hanya manusia sakti
mampu memasuki hutan semacam itu.

Lestarinya hutan-hutan menyebabkan keterpisahan antarkelompok kampung
juga semakin kuat. Hal ini menyebabkan varian Sunda semakin diperkuat.
Varian bahasa berkembang. Kemandirian kesenian menyebabkan suatu
daerah memiliki jenis seni tertentu, sedangkan daerah lain memiliki
jenis seni yang lain. Peta varian budaya Sunda ibarat sebuah tapestry
yang berisi jalinan varian-varian warna dan bentuk, yang muncul di
sudut ruang kemudian menghilang dan muncul di sudut yang lain. Semua
itu merupakan mozaik yang saling berkelindan, muncul, hilang
bermetamorfosa di tempat lain. *** 

Penulis, budayawan tinggal di Bandung.

Kirim email ke