> Kuduna mah nu geus biasa kadaharan pokona lain beas mah,
dianggerkeun we,
> teu kudu dirobah .........
> 

Ieu alternatif jang ngaganti beas? 

Stop Mengolok-olok Tiwul…

ardus m sawega

Di tengah pergelaran wayang kulit di daerah Wonogiri, Jawa Tengah,
tahun 2000, Frangky Welirang, kini Wakil Direktur Utama PT Indofood
Sukses Makmur, disuguhi makanan setempat, tiwul. Frangky tertarik,
lalu minta kepada Anton Djuwardi, yang saat itu jadi staf di PT
Bogasari, untuk melakukan riset dan mengembangkannya.

Tiwul dibuat dari tepung gaplek, yaitu ubi kayu alias singkong
(cassava ), yang dikeringkan. Bagi rakyat pedesaan, terutama di Jawa,
gaplek merupakan cadangan pangan di saat paceklik, saat harga beras
tak terjangkau. Gaplek ditumbuk, dijadikan tepung, selanjutnya dikukus
menjadi tiwul sebagai pengganti nasi.

Menurut Anton Djuwardi (63), gaplek rakyat umumnya berkualitas rendah
dan harganya murah karena diproses secara tradisional. Apabila
pengeringan tak cukup baik—karena hanya mengandalkan panas
matahari—hasilnya berkualitas rendah, warnanya kecoklatan, dan
mengandung noda kehitaman.

"Noda hitam pada gaplek umumnya karena jamur E coli. Sedangkan noda
hitam kebiruan itu mengandung racun HCN (hydrogen cyanide) atau asam
sianida yang berbahaya, dan bisa mematikan," paparnya.

Gaplek berkualitas rendah yang tidak ditepung, biasanya dijadikan
jajanan yang disebut gatot—dimakan dengan parutan kelapa, atau dibikin
tape gaplek. Bagi sebagian orang, tiwul, gatot, atau tape gaplek, dan
berbagai olahan lain dengan bahan singkong seperti getuk, roti sumbu,
sawut, klenyem, ande-ande lumut, mendut, lentho, gandamana, hingga
randa gulung, merupakan makanan tradisional yang bisa membawa nostalgia.

Tiwul, misalnya, akan luar biasa nikmat bila disantap dengan sayur
urap, atau sambal goreng rawit yang super pedas, dengan lauk tempe
benguk, ikan asin, atau karak.

"Mengenang makanan-makanan itu rasanya romantis, ya? Apalagi, bagi
orang yang pernah mengalami hidup susah," tutur Anton yang lahir di
Tulungagung, Jawa Timur, 1944. "Bagi orang Jawa, terutama di pedesaan,
tiwul itu merupakan warisan budaya, dan sejak dahulu merupakan makanan
pokok."

Bangsa "tela"

Ketika gaya hidup masyarakat berubah dan budaya makan nasi lebih
dominan, budaya makan tiwul pun terpinggirkan. Gaplek, tiwul, dan
masakan olahan yang menggunakan bahan singkong menjadi makanan "kelas
dua", kehilangan gengsi. Tiwul lalu identik dengan makanan orang
miskin, inferior, bahkan sebagian untuk pakan ternak.

"Karena itu, di berbagai kesempatan, saya mengimbau agar masyarakat
menghapus persepsi yang merendahkan makanan tradisional, seperti
tiwul. Makan singkong diidentikkan sebagai miskin," ujar Anton.
"Hilangkan budaya mengolok-olok dan menyepelekan potensi bangsa
sendiri. Kebiasaan mengolok-olok, 'Dasar tela!', maksudnya orang itu
seperti 'ketela'—bodoh."

Anton, yang sejak lulus dari Fakultas Ilmu Kemasyarakatan Unika Atma
Jaya Jakarta, terjun dalam berbagai kegiatan pembinaan usaha kecil dan
menengah di Departemen Perindustrian (1979-1985) berpendapat, untuk
mengubah budaya yang melecehkan potensi bangsa itu harus diawali dari
pendidikan sejak dini menyangkut makanan.

"Stop mengolok-olok budaya bangsa sendiri dan sebaliknya mengagungkan
budaya bangsa lain. Dengan kebiasaan menista diri sendiri itu, tanpa
kita sadari, kita akan menjadi bangsa yang rendah diri, kurang percaya
diri, takut mandiri, dan tak mampu berkreasi," paparnya.

Ia menekankan bahwa tiwul bisa menjadi makanan bergengsi kalau saja
diolah secara baik dan kualitasnya dijaga. Kalau tiwul—dan makanan
olahan lain yang berdasar bahan singkong—bisa menjadi alternatif
pangan selain nasi, maka akan terjadi penganekaragaman pangan. Itu
akan mengurangi beban ketergantungan kita pada beras yang selama ini
sering kita impor dari luar negeri.

Anton membantah anggapan orang bahwa makan tiwul—sebagai ganti
nasi—membuat pencernaan "panas", atau bikin mencret. "Memang,
kandungan karbohidrat dan serat pada singkong amat tinggi sehingga
orang yang makan akan merasa cepat kenyang dan tahan lama. Tetapi,
kandungan serat yang tinggi itu justru amat baik untuk kesehatan,"
ujarnya.

Berbekal lisensi dari PT Indofood, tahun 2002, Anton—setelah pensiun
dari Bogasari—memimpin PT Sinar Sukses Sentosa yang memproduksi tepung
gaplek (tepung cassava), baik yang lewat fermentasi maupun tanpa
fermentasi. Pabriknya di Semanu, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Risetnya bersama tim Litbang PT Bogasari berhasil mengembangkan gaplek
dan produk tiwul yang lebih "bergengsi". Yaitu dengan cara memperbaiki
proses produksi. Hasilnya berupa tepung cassava yang berkualitas.
Dengan formula khusus; dicampur dengan tepung terigu, tepung jagung
serta ditambah vitamin dan mineral lain, menjadi produk tiwul instan,
disingkat "Titan".

Dibanding tepung gaplek rakyat, menurut pria berputra dua ini, "Titan
lebih berkualitas, lebih enak, higienis, dan bergizi. Juga lebih tahan
lama, dijamin tidak beracun. Produk kami disertifikasi oleh Sucofindo.
Seorang pakar menyebut, Titan merupakan makanan sehat karena antara
lain bisa mencegah diabetes."

Titan adalah tepung kemasan yang cukup dikukus dalam waktu 15-20 menit
menjadi tiwul dan siap santap. Ada pula produk Nutriwul dengan
berbagai rasa. Industri ini juga memproduksi tepung berbahan dasar
cassava untuk pembuatan berbagai roti kering, juga untuk cake, nastar,
kroket, bolu lapis fla coklat, dan sebagainya. Produk-produk itu sudah
dipasarkan, walaupun masih sulit ditemukan di pertokoan umum dan belum
populer di masyarakat.

Anton Djuwardi mengakui bahwa tantangan yang paling berat untuk
memasyarakatkan (kembali) tiwul ibarat perjuangan melawan arus, yaitu
persepsi masyarakat yang telanjur "negatif" atas tiwul…. 

Kirim email ke