Bangsa Pelupa

Budiarto Shambazy

Tak sulit mencari orang yang bertanggung jawab atas berita bohong
tentang lokasi reruntuhan pesawat AdamAir. Fitnah itu boleh jadi
disengaja karena sangat terinci dengan menyebut angka pas 90 korban
tewas dan 12 selamat.

Mudah menebak fitnah keterlaluan itu disampaikan penduduk di sekitar
lokasi. Namun, mereka tak lagi bersalah saat fitnah itu "naik jenjang"
birokrasi dari desa sampai ke pusat.

Aneh, tak ada yang berusaha melakukan verifikasi. Makin aneh, banyak
pejabat, Selasa (2/1) pagi sampai petang, berlomba mengeluarkan
berbagai pernyataan post factum untuk keluarga korban.

Oke, Menteri Perhubungan Hatta Rajasa dan Komandan Pangkalan Udara
Hasanuddin Makassar Marsekal Pertama Eddy Suyanto minta maaf. Seperti
biasa, masalahnya dianggap selesai.

Media massa yang ikut menyiarkan fitnah itu perlu meminta maaf juga.
Stasiun televisi CNN, Rabu (3/1), meminta maaf kepada Senator Barack
Obama karena di layar televisi menulis kalimat "Di mana Obama?" dalam
item berita tentang Osama bin Laden.

Tahun 1970, para pejabat, termasuk Menlu Adam Malik, ditipu skandal
"Bayi Ajaib". Cut Zahara Fonna mengaku mengandung janin yang bisa
berbicara dari perut dan mereka berduyun-duyun menempelkan telinga ke
perutnya untuk mendengar sabda si janin.

Sang janin dianggap jelmaan dari langit yang layak disembah. Tak
sedikit yang mengeluarkan sumbangan supaya karier dan bisnis lancar.

Selama berpuluh-puluh tahun kita ditipu Orde Baru yang berkampanye
China komunis negara terbelakang, pemerintahnya jahat, dan rakyatnya
miskin. Pemerintah melarang hurufnya di tempat umum dan keturunan
China di sini diminta mengganti nama Indonesia.

Setelah normalisasi hubungan bilateral, ketahuan jika Beijing jauh
lebih makmur, modern, dan tertata rapi dibandingkan dengan ibu kota
negara kita.

Sekarang saja masih ada hoax yang bertujuan menakut-nakuti rakyat
seperti munculnya spanduk-spanduk "Awas Komunis Bangkit Kembali" yang
banyak dipasang di Jakarta. Udara di sekitar kita makin hari makin
dikotori oleh aneka kebohongan publik.

Dengan sendirinya masyarakat terjangkit penyakit "katanya". Penyebab
utamanya pemerintah, seperti kata iklan, sering gagal bersikap "terus
terang, terang terus".

Sejarah dibelokkan demi langgengnya kekuasaan. Ketika Orde Baru
tumbang, satu per satu rahasia berhamburan dan menyebarkan bau yang
menusuk hidung.

Hati sedih pemerintah melarang pemutaran film Saijah and Adinda yang
diambil dari novel Multatuli yang kritis terhadap sistem penjajahan
Belanda yang memperalat Bupati Lebak, Banten, Jawa Barat.
Ilmuwan-ilmuwan politik kita mustahil menulis karya-karya kritis
terhadap Orde Baru kecuali kalau mau dikarungin.

Pers dan publik dibombardir dengan berbagai pernyataan tak jujur.
Kekuasaan yang manja dan antikritik sudah terlalu lama mendominasi
ruang publik.

Contohnya, pemerintah menyalahkan kapten dan awak kapal Tampomas II
yang tenggelam di Selat Makassar, 17 Januari 1981, dan memakan korban
sekitar 500 tewas. Para pejabat di Departemen Perhubungan yang KKN
dalam pembelian kapal yang tidak safe itu malah lenggang kangkung.

Pers mengkritik pembelian 39 kapal selam yang tak jelas kualitasnya
dari bekas Jerman Timur dan telah menghambur-hamburkan dana. Hasilnya,
majalah Tempo dibredel.

Pejabat selalu mempunyai alasan atau kambing hitam untuk menutup aib
mereka. Mereka akan dengan serampangan menuduh siapa pun sebagai
kelompok ekstrem kiri atau kanan, ikut aliran sesat, atau jadi anggota
Organisasi Tanpa Bentuk (OTB).

>small 1<>small 0

Jika pemerintah tak berterus terang, rakyat mencari sumber- sumber
berita lain, termasuk pergunjingan "katanya". Apalagi sebagian
masyarakat lebih memercayai hal yang gaib ketimbang bukti empiris dan
lebih senang gosip daripada fakta.

Jika sopir mobil melindas kucing ia akan berhenti, mengelilingi mobil
tujuh kali, dan berhenti menyopir selama 40 hari. Kalau menabrak
penyeberang jalan, ia kabur karena tak mau bertanggung jawab atau
dihakimi massa.

Ada yang yakin penyebab tsunami di Aceh ledakan uji coba senjata
nuklir bawah laut. Bom Bali pertama merupakan konspirasi karena ada
saksi mata yang melihat "sinar biru" di udara saat bom meledak dan
ratusan warga asing tiba-tiba meninggalkan Pulau Dewata.

Semua orang di dunia telanjur percaya pada fitnah tentang lokasi
pesawat AdamAir yang disebarkan oleh pemerintah. Aneh tetapi nyata.

Udara kita disesaki huruf-huruf beterbangan yang menimbulkan
kesimpangsiuran. Isinya, pernyataan awut-awutan dari mulut pejabat
yang semua orang sudah tahu (stating the obvious) dan hanya ingin
membuat senang setiap kalangan (to whom it may concern).

Maka berdatanganlah bantuan dari luar negeri. Dan betapa kurangnya
perhatian pada berita tenggelamnya kapal-kapal yang menyeberangi Laut
Jawa, termasuk Senopati Nusantara.

Semua orang berteori, mulai dari yang masuk akal sampai yang
spekulasi. Dan sebentar lagi semua tak ingat lagi karena tertelan
kesulitan hidup sehari- hari. 

Kirim email ke