Kita ini Bangsa Keledai?
Oleh SUWARDJOKO P. WARPANI

SAYA bingung, bangsa kita ini lebih bodoh dari pada keledai atau lebih
dungu; atau saya yang paling bebal di antara berjuta anak bangsa.
Konon, seekor keledai tak akan pernah terperosok di lubang yang sama,
sedangkan kita bukan tidak pernah, tetapi seringkali terperosok (atau
memerosokkan diri) justru di lubang yang sama. Sangat aneh bukan?
Dengan bahasa yang lebih halus, kita tak pernah mau belajar dari
pengalaman, kecuali harus mengalami lebih dahulu; itu pun belum tentu
cukup menjadi pelajaran bahkan setelah beberapa kali mengalaminya.

Mengapa kita harus belajar dari A padahal A sampai P bisa kita
pelajari dari pengalaman orang lain, sehingga kita bisa memulai dari
titik Q? Keledai pun bisa menghindar dari lubang yang sama. Banyak
sekali kebijakan kita berkesan tak bisa belajar dari pengalaman masa
lampau. Dalam mengatasi akibat bencana, kita selalu seperti
tergagap-gagap, seperti baru pertama kali mengalaminya, seperti salah
tingkah, dan yang paling "istimewa" adalah hampir selalu melemparkan
tanggungjawab kepada pihak lain, bahkan sering kepada "alam semesta"
yang tak kuasa membela dengan kata.

Alam murka karena kita memanfaatkannya tanpa "cinta". Ruang hijau
dikalahkan oleh bangunan beton, situ/rawa dianggap tak ekonomis lantas
ditimbun menjadi daratan yang laku jual dan laris, bantaran sungai
"diserbu" menjadi permukiman, sungai menjadi ciut dan dangkal;
permukaan resapan air di perkotaan nyaris habis dilanda kepentingan
bisnis.

Banjir dan Pariwisata

Banjir Jakarta mengimbas sektor pariwisata Bandung (PR, 5 Feb. 2007).
Kata salah seorang karyawan toko oleh-oleh khas Bandung omzet
penjualannya turun hingga 90%. Inilah penggunaan bahasa yang kurang
cermat sehingga bermakna ganda. Siapa yang bisa memastikan; jualannya
berkurang 10% atau tinggal 10% ? Struktur bahasa seperti ini juga yang
kerap menjebak kita pada saat melihat potongan harga suatu
produk/barang di toko; yang ditulis ialah "diskon hingga 75%".

Bila yang terjadi omzet jualannya tinggal 10 %, sungguh penurunan yang
drastis dan sangat fantastis. Katakanlah makna pertama yang dimaksud,
jualannya hanya berkurang 10%, itu pun sudah besar artinya. Banjir
Jakarta berimbas pada jualan oleh-oleh. Lho, kok bisa ? Bukan
`mungkin' karena Jakarta banjir, melainkan `dapat dipastikan' karena
Jakarta banjir; itulah yang terungkap dari pernyataan Kepala Dinas
Pariwisata Kota Bandung, H. Moh. Askary, dan sangat masuk akal. Bahwa
sejumlah orang Jakarta yang bermaksud berakhir pekan di Bandung telah
membatalkan atau menunda kepergiannya, juga sangat mudah dipahami.
Sektor pariwisata Jawa Barat, khususnya Bandung, terkena imbas banjir
Jakarta.

Di sisi lain, Jawa Barat menuai berkah banjir. Orang-orang berduit
yang rumahnya terlanda banjir mengungsi. Mereka tidak mengungsi ke
jalan tol, tetapi hengkang melalui jalan tol mencari hotel sesuai
dengan seleranya. Yang terdekat adalah Jawa Barat dan Banten. Belum
ada penelitian seberapa besar dampaknya terhadap sektor perhotelan,
namun keluarga Jamal Mirdad pasti tidak mengungsi ke tenda di lapangan
terbuka. Menurut info, Kak Seto pun ngungsi di hotel.

Di banyak negara, bantaran sungai dapat menjadi arena wisata yang
nyaman dan menyenangkan, bahkan kanal-kanal di Belanda dapat menjadi
jalur wisata yang menghasilkan uang dan kesempatan kerja. Masyarakat
turut memelihara karena mereka menyadari fungsi bantaran sungai
tersebut bagi kehidupan dan penghidupan mereka. Sangat berbeda dengan
bantaran sungai di kota-kota kita, khususnya Jakarta sebagai ibukota
negara, pintu gerbang wisata, wajah depan negara, dan entah berapa
puluh lagi atribut yang disandang Jakarta, tetapi bantaran
sungai-sungainya, kotor, jorok, kumuh, serta tak sedap baunya.

Sungai-sungai di Jakarta meluap jauh melampaui daya tampungnya karena
hujan, ditambah air "kiriman" dari daerah hulu, plus saluran tersumbat
dan permukaan resapan banyak yang raib. Salah satu daerah hulunya
adalah Bandung. Jadi, berkurangnya orang Jakarta yang berakhir pekan
di Bandung, sedikit banyak adalah akibat saham daerah Bandung juga,
dan semua penduduk di sepanjang aliran sungai yang kemudian mengalir
di wilayah DKI. Hulu sungai-sungai itu ada di Jawa Barat dan Banten.

Menurut Gubernur DKI, banjir ini adalah bencana periodik lima tahunan.
Artinya, setiap lima tahun dapat dipastikan terjadi dan
sekurang-kurangnya kita sudah tahu sejak lima tahun yang lalu. Sayang,
upaya selama lima tahun yang lalu --kalau ada-- rupa-rupanya masih
jauh dari memadai.

Masyarakat pun tampaknya adem ayem selama lima tahun yang lalu.
Kebiasaan buang sampah seenaknya masih menjadi pemandangan
sehari-hari, bantaran sungai tetap saja ditempati atas nama ketiadaan
lahan dan kemiskinan. Pembangunan (pengalihan guna lahan) jalan terus
tanpa Amdal, industri tetap saja mengotori badan air, tanah, dan
udara. Otomotif terus berkembang tanpa hirau pada persediaan BBM,
pencemaran udara dan suara, tingkat kecelakaan, dsb. Sekarang kita
amat sulit mengenali wajah polisi karena hidung dan mulutnya tertutup
masker, apalagi bila mengenakan kacamata hitam yang lebar.

Tata ruang wilayah

Perkembangan fisik Jakarta telah "meluap" dan tumpah melimpah di Jawa
Barat dan Banten. Maka volume penglaju dari Jawa Barat dan Banten ke
Jakarta sangat besar dengan akibat kemacetan lalu-lintas yang terjadi
setiap hari.

Persoalan lain adalah pembangunan perumahan skala besar oleh para
pengembang cenderung hanya mengejar keuntungan bisnis dan mengabaikan
keselamatan lingkungan. Namanya juga bisnis, jadi pola dasarnya tentu
mencari laba sebesar-besarnya. Bukan semata-mata salah mereka bila
sepak terjangnya memanfaatkan kelemahan kontrol dan mencari celah
kelemahan perundang-undangan yang ada.

Tidak kalah penting fungsinya ialah pembangunan di daerah hulu. Dari
sini saja tampak --dan tak ada satu pun orang yang tidak tahu-- bahwa
tata ruang wilayah suatu daerah jangkauannya melampaui batas wilayah
administrasi pemerintahan. Tata ruang wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan
Banten, bahkan lebih luas lagi, tidak dapat dilihat terpisah-pisah.
Yang bisa dipisahkan ialah tanggungjawab administrasi kepemerintahan.

Penyebab banjir Jakarta ditimpakan kepada Jawa Barat dan Banten tentu
tidak sepenuhnya benar, Jawa Barat dan Banten pun tidak bisa serta
merta `cuci tangan'. Bandung pun yang berada di dataran tinggi juga
dilanda banjir. Aneh tapi nyata dan juga terjadi setiap tahun. Musim
kemarau, air PAM macet karena rendahnya debit air, sawah merana karena
kekeringan, sedangkan di musim hujan kelimpahan air tidak terkendali.
Kita miskin manajer air.

Tidak taat pada rencana tata ruang itulah kata kunci yang pelan-pelan
mulai disadari. Sayangnya belum tentu dituruti oleh yang kebetulan
sedang menduduki kursi penentu kebijakan. Wilayah hulu adalah satu
wilayah pengunungan yang, nota bene, berada di bawah naungan beberapa
daerah otonom (wilayah administrasi pemerintahan), menyandang fungsi
ekologi lingkungan bagi wilayah di bawahnya. Wilayah ini tidak dapat
diiris-iris lantas dibangun sesuai dengan selera masing-masing daerah
atas nama otonomi. Bayangkan, di Indonesia, setiap menit 5,3 ha hutan
rusak; lahan kritis di Kab. Bandung mencapai 17.000 ha (PR, 5Feb. 2007).

Semangat yang sekarang sedang mencuat ke permukaan adalah semangat
pemekaran daerah. Pemekaran daerah harus dilakukan dengan sangat
hati-hati dan cermat ditinjau dari berbagai aspek. Yang amat terasa
kini, pemekaran daerah hanya untuk memperluas peluang jabatan. Untuk
tujuan memakmurkan masyarakat, masih perlu dikaji ulang. Sangat
terbuka untuk perdebatan panjang.

Tidak semua daerah perlu dimekarkan, apalagi "pemekaran daerah" selalu
bermakna pada "penciutan wilayah" dan muaranya pada pembagian sumber
daya daerah. Sementara itu, pejabat dan para wakil partai yang harus
'dihidupi' dari daerah yang semakin ciut wilayahnya justru bertambah.

Kesimpulan

Daerah otonom bukan berarti daerah tertutup semacam "negara" di dalam
negara yang mempunyai kewenangan dan hak tak terbatas dalam mengatur
tata ruang wilayahnya. Koordinasi adalah kata indah dengan harga
mewah, tampaknya hanya mungkin dilaksanakan di negara tetangga kita,
yakni Republik BBM. Semua orang, baik pejabat maupun awam, paham benar
makna koordinasi dan mendambakannya. Namun sungguh amat sangat sulit
melaksanakan koordinasi di negara RI. Otda bukannya meningkatkan
kemampuan pembangunan melainkan justru malah menjauhkan koordinasi,
meningkatkan arogansi sektoral dan kedaerahan, dan yang lebih parah
lagi adalah merangsang nafsu pemekaran daerah.

Menhut, Ka'ban mengingatkan, "Kini bukan saatnya berdebat tentang
otoritas, melainkan harus bersinergi antara semua pihak dengan tujuan
yang sama". Yang dimaksud tentunya kesejahteraan masyarakat secara luas.

Wilayah perbatasan yang memiliki karakter geografis homogen tak dapat
diiris-iris seperti kue serabi dibagi-bagi dan dimakan
sendiri-sendiri. Wilayah itu harus ditangani bersama, dikelola
bersama, diperlakukan sama untuk kepentingan bersama yang lebih luas
jangkauannya; bukan harus sesuai dengan selera daerah masing-masing.
Sekali lagi, kepentingan bersama, bukan selera (penentu kebijakan) daerah.

Belakangan disadari bahwa ada yang salah dengan pembangunan Jakarta.
Ruang hijau dilabrak pembangunan, situ ditimbun, bahkan rawa pun
ditimbun. Jalan tol Sedyatmo dengan konstruksi cakar bangau menjadi
tidak berfungsi dengan baik karena rawa tempat sang bangau bertengger
sudah menjadi kawasan daratan Pantai Indah Kapuk. Jalan Sedyatmo
merosot turun dengan akibat yang sudah menjadi rahasia umum. Yang
salah ya kita semua, karena membangun bukan di atas landasan
kepentingan kesejahteraan rakyat, melainkan melulu di atas landasan
politik.

Penyelesaiannya tidak begitu mudah meskipun jelas di depan mata.
Tambah ruang terbuka hijau, bangun waduk, dan perbanyak situ. Lantas
yang di hulu jangan main babat hutan dan membangun yang berakibat air
mudah lari ke hilir. Jelas tidak mudah karena arogansi sektoral dan
kedaerahan yang menjadi kendala utama koordinasi, plus politikus yang
berkeliaran di semua jenjang proyek.

Marilah kita hidup cinta lingkungan, agar lingkungan mencintai kita,
agar penduduk di hilir tidak menderita, agar mereka dapat berwisata di
daerah hulu (pegunungan), agar pariwisata tetap bisa diandalkan, agar
orang kota di pesisir tetap bisa tenang "naar boven" setiap akhir
pekan dan liburan.***  

Penulis, dosen Program Perencanaan Wilayah dan Kota ITB, Itenas, dan
Unikom Bandung.

Kirim email ke