Harapan Besar Pada "Mesjid Kecil"
Oleh Luthfi Assyaukanie
12/02/2007

Hijab atau pemisah dalam salat adalah salah satu problem teologis yang
sampai hari ini masih terus diperdebatkan kaum Muslim. Film itu
membawa pesan yang jelas, bahwa aturan hijab adalah buatan ulama dan
para imam yang kepalanya terlalu banyak dipenuhi khayalan-khayalan
tentang perempuan. "Hijab diperlukan karena perempuan mengganggu salat
kita," kata imam tua yang terus menggerutu. 

Serial komedi situasi "Little Mosque on the Prairie" (Mesjid Kecil di
Padang Rumput) yang penayangan perdananya dilakukan pertengahan
Januari silam di stasiun televisi Kanada, CBC, menuai sukses luar
biasa. Komedi yang judulnya diambil dari drama sangat populer tahun
1980an, "Little House on the Prairie" itu ditonton tak kurang dari 2,5
juta orang. Untuk ukuran sebuah serial baru di Kanada, angka itu cukup
fantastis. Tak pernah ada pemutaran perdana tayangan serial sejenis
yang mendapat perhatian begitu besar.

"Little Mosque" atau "Mesjid Kecil," memang sudah lama dinanti banyak
orang. Tak hanya di Kanada, di Amerika Serikat, koran-koran besar
seperti the New York Times dan the Washington Post telah jauh-jauh
hari mengulas film itu dengan sangat antusias. Film itu memang tidak
ditayangkan di Amerika Serikat. Tapi, sejak penayangan perdana dan
copy-nya menyebarluas di internet, banyak orang Amerika berharap bahwa
serial komedi itu juga ditayangkan di stasiun TV mereka.

Saya menonton dua episode pertama serial itu, lewat Youtube, sebuah
situs internet yang memuat klip-klip video pilihan. Ada banyak klip
serupa di sana, dan rata-rata, satu klip "Mesjid Kecil" episode
perdana telah ditonton oleh sekitar 70 ribu orang, padahal klip-klip
itu baru mampir di Youtube kurang dari seminggu. Saya menduga akan ada
jutaan orang yang akan mengakses klip-klip itu dalam waktu dekat.

Menepis Streotip

"Mesjid Kecil" adalah komedi situasi (sitcom) yang dibuat dengan
sangat apik. Temanya mengangkat kehidupan sebuah masyarakat Muslim di
sebuah kota kecil Kanada bernama Mercy. Di kota ini, selain komunitas
Muslim, ada komunitas Kristen yang hidup berdampingan secara damai.
Mesjid kecil yang menjadi fokus film ini adalah sebuah serambi milik
gereja yang disewa seorang Muslim keturunan Libanon bernama Yasir
Hamoudi (dimainkan oleh Carlo Rota, pernah membintangi "Queer as Folk"
dan "Mission to Mars").

Banyak kritikus film mengomentari bahwa sitcom itu cukup mengena dalam
menyentil streotip-streotip tentang Islam yang selama ini beredar di
tengah masyarakat Barat. Setelah peristiwa 9/11, Islam memang menjadi
sebuah stigma di mata orang-orang Barat. Media massa dan film selama
ini begitu gencar mengaitkan Islam dengan terorisme atau Islam dengan
kebodohan dan keterbelakangan. Tapi, dalam komedi ini, semua citra itu
dijawab dengan sentuhan-sentuhan humor yang cerdas dan memikat.

Pada episode pertama, misalnya, seorang anak muda ganteng yang akan
menjadi imam di mesjid kecil harus berurusan dengan polisi, karena di
airport, ia dicurigai berbicara lewat telepon dengan ibunya dan
melontarkan kata-kata "suicide." Kata itu tidak ada sangkut-pautnya
dengan aksi terorisme, karena sang anak muda sebetulnya sedang
menenangkan ibunya yang khawatir bahwa dengan menjadi imam, karirnya
tak akan hancur.

Kritik terhadap sikap xenofobia terhadap Islam terlihat dalam sebagian
besar adegan episode perdana itu. Ketika baru memulai menjalani
karirnya sebagai imam (dimainkan dengan bagus oleh Zaib Shaikh, pernah
membintangi "A Man for All Seasons" dan "Julius Caesar"), anak muda
itu harus berhadapan dengan koran dan radio yang menuduhnya sebagai
"teroris." Semua tuduhan itu tentu saja berangkat dari kesalahpahaman
dan kegilaan media Barat untuk mengaitkan Islam dengan terorisme.

Dalam sebuah wawancara dadakan, seorang wartawan bertanya pada
keluarga Hamoudi, "apa hubungan kalian dengan al-Qaeda," yang dijawab
oleh Rayyan, anak perempuan Hamoudi yang modern dan cerdas, "apa
hubungan Anda dengan jurnalisme?" Di mata orang Barat, Islam dan
al-Qaeda punya kaitan erat, sama eratnya kaitan antara wartawan dan
jurnalisme.

Merombak Tabu

Menepis streotip Islam bukanlah satu-satunya misi dari sitcom garapan
Zarqa Nawaz, penulis skrip dan produser film keturunan Pakistan itu.
Komedi itu juga berusaha membidik komunitas Islam lewat dialog-dialog
dan aksi-aksi yang menyentil. Nawaz yang hidup di tengah keluarga
Islam konservatif tahu betul bagaimana kaum Muslim menjalani kehidupan
mereka, dan bagaimana cara terbaik untuk membenahinya.

Dialog-dialog dan aksi-aksi yang menjewer kaum Muslim bisa disaksikan
pada episode kedua berjudul "The Barrier" (rintangan). Episode ini
mengisahkan perdebatan kaum Muslim soal apakah perempuan dan laki-laki
harus dipisah dengan hijab dalam salat berjamaah. Imam tua (dimainkan
oleh Manoj Sood, "Romeo Must Die") bersikeras harus ada hijab
(penutup). Sementara imam muda cenderung menolak hijab dengan alasan
bahwa "di masjidil haram tidak ada hijab."

Pandangan imam muda itu didukung oleh Rayyan, yang membuat Imam tua
marah dan serta-merta menjambaknya. "Anda tidak boleh menyentuh saya,"
kata Rayyan, yang cepat disadari sang imam yang langsung meminta maaf.
Ini benar-benar khas problem kaum Muslim. Mereka rela berantem dan
melukai orang lain demi sebuah pendapat yang sesungguhnya masih
diperdebatkan.

Akhirnya, hijab yang menjadi rintangan dan bahan percekcokan itu
dibongkar. Amaar, sang imam muda, menemukan sebuah hadis dalam
Kumpulan Bukhari, bahwa hijab itu tak pernah dikenal pada zaman Nabi.
Sebagian besar orang akhirnya bisa menerima pandangan yang melegakan itu.

Hijab atau pemisah dalam salat adalah salah satu problem teologis yang
sampai hari ini masih terus diperdebatkan kaum Muslim. Film itu
membawa pesan yang jelas, bahwa aturan hijab adalah buatan ulama dan
para imam yang kepalanya terlalu banyak dipenuhi khayalan-khayalan
tentang perempuan. "Hijab diperlukan karena perempuan mengganggu salat
kita," kata imam tua yang terus menggerutu.

Selain soal pembatas dalam salat, adegan-adegan lain seperti jilbab,
aurat perempuan, dan makanan, juga diangkat dalam episode kedua itu.
Nawaz tampaknya tak akan kekurangan bahan untuk mengeksplorasi
persoalan-persoalan kontroversial dalam kehidupan kaum Muslim. Orang
Islam adalah komunitas yang paling sulit ketika bergaul dengan
masyarakat Barat. Aturan-aturan yang begitu pelik, yang sebagian besar
sebetulnya adalah karangan para ulama, diangkat dalam sitcom ini
secara jenaka.

Menonton dua episode itu, saya berpikir bahwa sitcom ini sarat dengan
misi pembaruan pemikiran Islam. Semangat utama film ini jelas sekali;
selain menghapus streotip-streotip tentang Islam, ia mencerahkan dan
menyadarkan kaum Muslim akan pentingnya rasionalitas dalam beragama.
Doktrin agama yang dianut secara membabi-buta tidak akan menghasilkan
apa-apa kecuali kebencian, permusuhan, dan kebodohan yang tak berujung.

Saya berharap film ini segera diputar stasiun TV kita, dan semoga ada
sineas kita yang mau mengikuti langkah brilian Zarqa Nawaz, dengan
membuat film-film Islam yang bermutu tinggi.

Kirim email ke