Mrongos
Bukan karena saya melucu bila peserta Kursus Penerjemahan yang
diadakan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Cabang DKI Jaya dalam
kerja sama dengan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) pada sesi sore 3
Januari lalu sering tersenyum, tertawa kecil, bahkan
terpingkal-pingkal. Topik presentasi saya menyangkut hal serius, yakni
kritik terjemahan, yang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama
contoh-contoh suntingan, bagian kedua contoh-contoh terjemahan. Tugas
peserta memperbaiki yang kurang beres dengan kalimat-kalimat yang
teksnya saya bagikan kepada mereka. Tulisan ini hanya terkait dengan
bagian pertama.
Peserta kursus, yang kebanyakan bekerja sebagai editor, pada umumnya
cepat menangkap alasan mengapa kutipan-kutipan itu saya kategorikan
sebagai contoh suntingan yang tak cermat. Namun, pada awalnya di
antara contoh itu ada beberapa kalimat yang tak segera mereka
komentari. Misalnya, kalimat ini. "Karena dianggap lalai menangani
pasien, keluarga Sri kemudian melaporkan pihak rumah sakit tersebut ke
Kepolisian Daerah Metro Jaya pada Sabtu lalu". ("RS Mintohardjo: Kasus
Sri Yumah Bukan Malpraktik", Kompas, 9/11/2006). Baru setelah saya
mengajukan pertanyaan, "Siapa yang dianggap lalai menangani pasien?",
mereka segera melihat keanehan kalimat itu yang seharusnya berbunyi,
"Karena dianggap lalai menangani pasien, pihak rumah sakit tersebut
dilaporkan oleh keluarga Sri ke Kepolisian Daerah Metro Jaya Sabtu lalu."
Penerapan cara analisis seperti itu ternyata membantu para peserta
kursus mengenali kerancuan suatu kalimat untuk lalu memperbaikinya.
Kalimat yang berbunyi "Setelah dijemput, pihak polisi Poltabes Bandar
Lampung sempat melakukan tanya-jawab dengan sembilan anak tersebut"
("Sembilan Anak Jalanan Sudah Kembali," Kompas, 10/11/2006), mereka
sepakati untuk diperbaiki menjadi "Setelah menjemput sembilan anak
tersebut, pihak polisi Poltabes Bandar Lampung sempat melakukan tanya
jawab dengan mereka", atau "Setelah djemput, sembilan anak tersebut
diwawancarai oleh polisi Poltabes Bandar Lampung".
Selain kalimat yang ruwet, pilihan kata yang kurang pas pun bisa
memancing kegelian. Serentak para peserta kursus tertawa ketika saya
membaca keras-keras kalimat, "Dengan tertatih-tatih perempuan tanpa
nama itu merangkak kembali ke rumah kosong yang jaraknya sekitar 50
meter". ("Ibu Itu Membakar dan 'Memakan Bayinya'", Kompas,
27/11/2006). Rupanya mereka sependapat dengan saya bahwa
tertatih-tatih berarti 'berjalan dengan langkah lamban dan agak
terhuyung-huyung'.
Namun, di antara 25 contoh suntingan yang saya sodorkan sore itu, yang
paling membuat para peserta kursus terpingkal-pingkal adalah kutipan
berikut. "Nyeblem, besengut, jegadul, mringis, mrongos. Apa makna
kata-kata itu? Itu hanya sebagian kata-kata dalam bahasa Jawa yang
menggambarkan wajah seseorang yang sedang 'tidak senang'"
("Kegelisahan dari Penutur Bahasa Mayoritas", Kompas, 25/9/2006).
Tentu saja kelucuan itu hanya ditangkap oleh mereka yang tahu bahasa
Jawa. Maklumlah, mrongos adalah kata bahasa Jawa yang menggambarkan
mulut orang yang struktur tulangnya berlebihan menjorok ke depan.
Jadi, dalam suasana senang pun, mulut mrongos tetap mrongos.
Alfons Taryadi Pengamat Bahasa Indonesia