Media.... kekecapan.... TERPAKSA... kudu diganti tah! RH


Nasi Dicampur Tiwul
Di Sumatera Selatan Warga Terpaksa Makan Oyek

Pekanbaru, Kompas - Warga Kampung Palas Kanan, Kelurahan Rumbai Bukit,
Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, menyiasati mahalnya harga beras
dengan mencampur nasi dan tiwul sebagai makanan harian. Sebagian
mengaku belum pernah menikmati beras murah karena informasi OP sering
terlambat.

Saat ini harga beras yang dijual di warung-warung sekitar itu Rp 6.000
per kilogram (kg).

Suharni (30), warga Kampung Palas Kanan, mengatakan, harga beras
tergolong tinggi bagi keluarganya. Mereka selama ini menggantungkan
hidup dari hasil pertanian serta upah sebagai buruh bangunan. Karena
itu, untuk memenuhi kebutuhan pangan, keluarganya terpaksa makan nasi
yang dicampur dengan tiwul.

Nasi yang dicampur tiwul ini bisa mengurangi kebutuhan beras dari 1 kg
jadi 0,5 kg per hari untuk satu keluarga yang beranggotakan empat
orang. "Singkong untuk bahan baku tiwul ini kami ambil dari kebun
sehingga tidak perlu mengeluarkan uang," kata Suharni, yang berasal
dari Pacitan, Jawa Timur.

Operasi pasar

Tumini (36) mengatakan bahwa pembelian beras dilakukannya ketika
keluarganya mendapatkan uang dari penjualan hasil pertanian atau upah
buruh. Namun, hingga kini ia mengaku belum pernah membeli beras murah.
"Kami belum pernah mendapatkan beras hasil operasi pasar (OP) karena
tidak ada pemberitahuan bila dilakukan operasi pasar di kampung ini,"
ujarnya.

Ketua Komisi II DPRD Kota Pekanbaru Marzuki yang meninjau langsung
kondisi warga, bersama Sekretaris Komisi II DPRD Pekanbaru Haris
Jumadi, mengatakan, kebiasaan makan tiwul ini seharusnya bisa menjadi
bagian dari upaya diversifikasi makanan pokok.

Dari Palembang, Sumatera Selatan, dilaporkan, tertundanya masa panen
akibat banjir di Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir,
akhir Januari lalu menyebabkan sebagian warga di Lempuing terpaksa
mengonsumsi oyek. Mereka terpaksa mengganti beras dengan oyek karena
sudah habis-habisan mengeluarkan modal untuk tanam ulang dan terbebani
lonjakan harga beras.

Oyek adalah makanan terbuat dari singkong yang biasa dimakan sebagai
campuran nasi. Oyek dibeli di pasar dengan harga Rp 3.000 per kg atau
lebih murah dibandingkan dengan harga beras yang Rp 5.000 per kg.

Kepala Cabang Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kecamatan Lempuing
Supratman, Senin, menuturkan, makan oyek sebenarnya sudah merupakan
tradisi warga, terutama dalam kondisi keuangan yang minim.

Kemarin harga beras di Kabupaten Kerinci, Jambi, dilaporkan melangit.
Padahal, daerah ini merupakan lumbung pangan yang selalu surplus
beras. Harga beras lokal saat ini naik hampir Rp 1.000 per kg.
(ART/LKT/ITA) 

Kirim email ke