Tolak Laptop, Hemat Uang Rakyat

PDI-P Tolak 109 Unit

Jakarta, Kompas - Banyak cara yang bisa dilakukan partai politik untuk
menghemat uang negara. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
memelopori itu dengan menolak pembelian laptop bagi 109 anggotanya
yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat.

Sikap politik tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Pramono Anung kepada Kompas,
Senin (26/3), menanggapi derasnya kritik masyarakat terhadap rencana
pembelian laptop untuk 550 anggota DPR.

"Dewan Pimpinan Pusat PDI-P sudah menginstruksikan ke 109 anggota
Fraksi PDI-P di DPR untuk tidak menerima laptop itu. Anggota fraksi
yang menerima akan diberi sanksi organisasi," ujar Pramono Anung.

DPP PDI-P juga akan meminta Sekretariat Jenderal DPR untuk mengurangi
pembelian laptop sebanyak 109 unit dari semula direncanakan membeli
550 unit.

"Besok (Selasa ini) kami akan memberi surat ke Sekretariat Jenderal
DPR. Kami berharap uangnya nanti dikembalikan ke kas negara dan
digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat untuk masyarakat," kata
Pramono Anung.

Akibat sikap politik yang tegas ini, uang negara yang dihemat cukup
besar. Plafon harga satu unit laptop yang dianggarkan Sekretariat
Jenderal DPR Rp 21 juta. Total anggaran negara untuk pembelian 550
unit laptop adalah Rp 12,1 miliar. Berarti, total uang rakyat yang
bisa dihemat PDI-P sekitar Rp 2,28 miliar.

Tender ditunda

Sementara itu, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera meminta Sekretariat
Jenderal DPR menunda pelaksanaan tender pengadaan 550 laptop yang
menurut rencana dibuka 28 Maret 2007 ini.

"Karena efektivitias penggunaan laptop masih diperdebatkan, pengadaan
laptop itu ditunda saja dulu," kata Ketua F-PKS Mahfudz Siddiq.

F-PKS mengusulkan anggaran laptop ini ditinjau kembali dalam
pembahasan APBN Perubahan. Kemudian, anggaran Rp 12,1 miliar tersebut
dialihkan untuk penambahan staf ahli fraksi.

Sementara itu, Ketua DPR Agung Laksono yang juga Wakil Ketua Umum
Partai Golkar, Minggu (25/3), tetap memastikan pengadaan laptop bagi
anggota DPR kendati banyak menuai kritik. Menurutnya, pengadaan laptop
ini untuk meningkatkan kinerja anggota DPR. Adapun dana yang
dibutuhkan sudah dianggarkan dalam APBN.

Tentang ada anggota anggota DPR yang menolak laptop ini, Agung menilai
hal tersebut wajar. "Jika menolak, ya tak usah ambil," ujarnya saat itu.

Langkah konkret

Sekjen Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia Sebastian Salang
mengapresiasi langkah konkret F-PDIP. Dia berharap fraksi lain pun
melakukan hal sama.

"Anggota DPR yang menolak laptop jangan hanya bicara cari simpati,
tapi harus konkret buat surat penolakan," tuturnya. (SUT) 

Kirim email ke