Ekonomi Islam: Di Luar Spektrum Kapitalisme dan Sosialisme?
(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)
Oleh Ari A. Perdana
28/05/2007

Ini membawa implikasi dari aspek normatif: apa yang baik dan buruk,
apa yang harus dilakukan atau dihindari bukan semata-mata dilihat dari
aspek efisiensi sebagaimana dikenal dalam ekonomi konvensional,
melainkan bagaimana agar tindakan di kehidupan duniawi juga
menghasilkan imbalan di akhirat. 

Dalam sejarah peradaban manusia, ada beberapa bentuk sistem ekonomi
yang pernah ditemukan sebagai solusi atas persoalan ekonomi umat
manusia. Bentuk paling primitif adalah despotisme, dimana ekonomi
diatur oleh sebuah otoritas tunggal, baik seorang atau sekelompok
orang yang menjadi pemimpin. Sistem despotik bukannya tidak berhasil.
Peradaban-peradaban besar di masa lalu dibangun di atas sistem ini.
Problem dengan despostisme adalah ia tidak berkelanjutan. Sistem ini
tidak mampu mengatasi problem yang makin kompleks dihadapi umat
manusia. Karena itu, sistem ini kemudian punah. Sistem ini setidaknya
hanya eksis di tingkat masyarakat yang terbatas.

Ketika bicara soal sistem ekonomi modern, kita biasanya merujuk pada
dua sistem besar: kapitalisme pasar dan sosialisme terpimpin.
Kapitalisme adalah sistem yang didasarkan atas pertukaran yang
sukarela (voluntary exchanges) di dalam pasar yang bebas. Sebaliknya,
sosialisme mencoba mengatasi problem produksi, konsumsi dan distribusi
melalui perencanaan atau komando. Hal yang perlu digarisbawahi adalah:
fakta bahwa ada dua sistem besar dalam ekonomi modern tidak berarti
adanya dikotomi atau bipolarisasi.

Dua sistem itu lebih merupakan dua titik ekstrem dalam sebuah spektrum
ide. Dalam praktek, sistem ekonomi yang dijalankan oleh negara-negara
di dunia saat ini ada di sepanjang spektrum itu. Apa yang disebut
"kapitalisme" dan "sosialisme", sesungguhnya punya banyak varian di
dalamnya. Selain itu, banyak juga varian dari sistem ekonomi yang
tidak didasarkan oleh salah satu atau kedua ide besar itu, misalnya
sistem adat di beberapa komunitas.

Bagaimana dengan "ekonomi Islam"? Diskusi mengenai ekonomi Islam dalam
kaitannya dengan sosialisme dan kapitalisme bukanlah soal "apakah
(whether) ekonomi Islam itu sosialisme atau kapitalisme", tapi lebih
kepada "di mana (where) ia berada dalam spektrum tersebut".
Pertanyaannya: apakah ada perbedaan dari apa yang ditawarkan ekonomi
Islam dibandingkan kedua sistem tersebut, serta apakah (bagaimanakah)
ekonomi Islam bisa berjalan.

Tinjauan Kritis Terhadap Ekonomi Islam

Deskripsi paling sederhana dari ekonomi Islam adalah "suatu sistem
ekonomi yang didasarkan pada ajaran dan nilai-nilai Islam", dimana
"keseluruhan nilai tersebut sudah tentu Alquran, Sunnah, ijma dan
qiyas" (Nasution dkk, 2006). Secara umum, lahirnya ide tentang sistem
ekonomi Islam didasarkan pada pemikiran bahwa sebagai agama yang
lengkap dan sempurna, Islam tentulah tak hanya memberi penganutnya
aturan-aturan soal ketuhanan dan iman saja, tapi juga jawaban atas
berbagai masalah yang dihadapi umat manusia, termasuk ekonomi.

Ayat Alquran, hadits dan berbagai literatur Islam klasik, memang
memuat berbagai pemikiran mengenai filsafat, perilaku dan institusi
ekonomi. Namun, ide tentang adanya sebuah disiplin atau sistem ekonomi
yang 'islami' dalam arti spesifik dan unik, sebenarnya adalah fenomena
baru, menurut ekonom dari University of Southern California, Timur
Kuran (2004). Menurut Kuran juga, ide ini bisa ditelusuri tidak lebih
lama dari awal abad ke-20. Dengan kata lain, pemikiran-pemikiran Islam
klasik dalam hal ekonomi sebenarnya lebih merupakan ide-ide terpencar,
belum merupakan sebuah desain komprehensif mengenai sistem ekonomi
yang islami.

Terlepas dari kapan sebenarnya ide sistem ekonomi Islam lahir,
pertanyaan lain adalah di mana posisinya relatif terhadap kapitalisme
dan sosialisme? Sebenarnya, sistem ekonomi Islam punya sejumlah
karakteristik yang sama baik dengan kapitalisme maupun sosialisme.
Dibolehkannya hak milik pribadi dan kebebasan untuk melakukan
pertukaran merupakan elemen yang penting dalam kapitalisme. Tapi
selain itu, para proponen ekonomi Islam juga menekankan pentingnya
intervensi negara, terutama dalam hal keadilan distributif, yang juga
menjadi semangat utama sosialisme. Artinya, sistem ekonomi Islam
sebenarnya masih berada dalam spektrum yang kita bicarakan. Ia
bukanlah sebuah sistem yang benar-benar otentik, berbeda atau ada di
luar himpunan sistem ekonomi yang dijalankan di dunia.

Meski demikian, para proponen ekonomi Islam umumnya memandang sistem
ini tetap memiliki perbedaan dengan kedua sistem besar itu. Perbedaan
yang utama dan pertama adalah: secara epistemologis ekonomi Islam
dipercaya sebagai bagian integral dari ajaran Islam itu sendiri,
sehingga pemikiran ekonomi Islam langsung bersumber dari Tuhan. Kedua,
ekonomi Islam dilihat sebagai sistem yang bertujuan bukan hanya
mengatur kehidupan manusia di dunia, tapi juga menyeimbangkan
kepentingan manusia di dunia dan akhirat.

Ini membawa implikasi dari aspek normatif: apa yang baik dan buruk,
apa yang harus dilakukan atau dihindari bukan semata-mata dilihat dari
aspek efisiensi sebagaimana dikenal dalam ekonomi konvensional,
melainkan bagaimana agar tindakan di kehidupan duniawi juga
menghasilkan imbalan di akhirat. Ketiga, sebagai konsekuensi dari
landasan normatif itu, sejumlah aspek positif atau teknis dalam
ekonomi konvensional tak bisa diaplikasikan karena bertentangan dengan
nilai-nilai yang dibenarkan oleh Islam.

Tiga perbedaan ini membuat proponen ekonomi Islam memandang bahwa
sistem ini lebih superior dibandingkan sistem-sistem lain. Tentunya
pandangan ini menyisakan sebuah pertanyaan penting. Jika benar sistem
ekonomi Islam superior, tentunya ia akan lebih mampu mengatasi masalah
dan tantangan peradaban manusia modern. Tapi faktanya, saat ini sistem
tersebut bukanlah (atau belum?) merupakan sistem ekonomi yang dominan
di dunia, bahkan bukan juga di negara-negara meyoritas Muslim. Kalau
ia adalah sistem yang sempurna, mengapa tidak ada rujukan sejarah
dimana sistem ini bisa dibilang berhasil dan masih tetap relevan di
masa sekarang?

Ekonomi Islam vs. Konvensional

Diskusi mengenai apakah itu ekonomi Islam, dan apa bedaannya dengan
sistem yang sudah ada (sosialisme atau kapitalisme) bisa menjadi
diskusi yang panjang dan rumit. Masalahnya, itu harus dimulai dari
pekerjaan awal yang juga tak mudah: mendefinisikan apa itu ekonomi
Islam, dan apa itu sosialisme maupun kapitalisme.

Untuk memudahkan urusan, saya tak akan masuk ke tataran definisi dan
filosofi masing-masing. Saya akan membahas tataran praktek; bagaimana
ekonomi Islam berbeda dengan ekonomi konvensional secara praktek.
Sebagai catatan, yang saya maksud sebagai "ekonomi konvensional" di
sini merujuk pada sistem kapitalisme yang secara teori dibangun atas
dasar teori ekonomi neoklasik. Ini adalah teori ekonomi yang menjadi
acuan standar sebagian besar fakultas ekonomi di seluruh dunia. Saya
tak membuat klaim bahwa sistem ini yang terbaik atau sempurna. Tapi
kenyataannya adalah: dalam diskursus ekonomi, teori ekonomi neoklasik
sudah menjadi arus utama.

Dari berbagai aspek pemikiran mengenai praktek ekonomi Islam, dalam
konteks perbandingan dengan ekonomi konvensional, ada tiga hal yang
menjadi isu utama. Pertama, praktek transaksi keuangan dan posisi
sistem bunga. Kedua, pemikiran tentang keadilan distributif dan
implikasi kebijakannya. Ketiga, pemikiran mengenai landasan moral
dalam setiap kegiatan dan keputusan ekonomi.

Pembahasan lebih detail tentang ketiganya akan saya lakukan dalam
tulisan mendatang. Secara spesifik, diskusinya akan saya fokuskan pada
kritik yang diajukan proponen ekonomi Islam terhadap teori ekonomi
konvensional vis-a-vis kapitalisme, dan kritik balik terhadap
"proposal" yang ditawarkan para proponen ekonomi Islam. 

Kirim email ke