Hehehe kalo Aa mah wajib berbuka sama yang manis Kang :)... tiada lain tiada 
bukan berbuka dengan Neneng Charlize, si manis tea hehehe.

BTW, kalo kolek Pisang, Umbi Boled, Kolang Kaling, dll gimana tah Kang? Pan 
kalo dilembur mah biasa ngolek tea :). Gulanya tea pake gula beureum... 
manis juga sih. Apa perlu diilangin gulanya ya?

Salam Manis,
A

----- Original Message ----- 
From: taufikw

Anda pintar & cerdas ???

----- Original Message ----- 
Janganlah Berbuka Puasa Dengan Yang Manis

BENTAR lagi Ramadhan. Di bulan puasa itu, sering kita dengar kalimat 
'Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,' katanya. Konon, 
itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?
Dari Anas bin Malik ia berkata : "Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab 
(kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau 
berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau 
meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
Nabi Muhammad Saw berkata : "Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah 
berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah 
dengan air, maka sesungguhnya air itu suci."

Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau 
berbuka puasa dengan air.
Samakah kurma dengan 'yang manis-manis'? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat
kompleks (complex carbohydrate) . Sebaliknya, gula yang terdapat dalam 
makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai 
makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate).

Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak jelas.
Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan berbuka puasa
dengan makanan atau minuman yang manis adalah 'sunnah Nabi'.
Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka puasa dengan makanan 
manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak 
kesehatan.

Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka puasa 'disunnahkan'
minum atau makan yang manis-manis. Sependek ingatan saya, Rasulullah
mencontohkan buka puasa dengan kurma atau air putih, bukan yang manis-manis.

Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis.
Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi berkalori
rendah, sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di sini). Tapi kurma
yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhan sudah
berupa 'manisan kurma', bukan lagi kurma segar. Manisan kurma ini justru
ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam
perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang masih
asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya menjadi
sangat mahal.

Kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak kesehatan?
Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang
dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula (karbohidrat
sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses
sehingga makan waktu.
Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak
naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks seperti
kurma asli, naiknya pelan-pelan.

Mari kita bicara 'indeks glikemik' (glycemic index/GI) saja. Glycemic Index
(GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin
tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu dirubah
menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respons
insulin.

Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat
menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa
mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah. Kenapa?
Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun lemak.
Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari mereka.

Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan gula
(makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya) , sehingga respon
insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh akan sangat
cepat merespon untuk menimbun lemak.

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi Allah
'ilm tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata Beliau, bila berbuka
puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas, lalu sholat
maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti biasa. Jangan pernah makan yang
manis-manis, karena merusak badan dan bikin penyakit. Itu jawaban beliau.

Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di Indonesia
adalah 'manisan kurma', bukan kurma asli. Manisan kurma kandungan gulanya
sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.

Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks.
Perlu waktu untuk diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh
juga tidak melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan
tubuh untuk menabung lemak juga rendah.

Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan puasa yang justru lemaknya
bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut, pinggang, bokong, paha,
belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena langsung membanjiri tubuh
dengan insulin, melalui makan yang manis-manis, sehingga tubuh menimbun
lemak, padahal otot sedang mengecil karena puasa.
Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat seperti
'buah pir', penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham umum masyarakat
yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah 'sunnah', maka
puasa bukannya malah menyehatkan kita.

Banyak orang di bulan puasa justru menjadi lemas, mengantuk, atau justru
tambah gemuk karena kebanyakan gula. Karena salah memahami hadits di atas,
maka efeknya 'rajin puasa = rajin berbuka dengan gula.'

Ingin 'Kurus'

Melenceng dikit dari topik blog ya. Dikit aja. Itung-itung bonus.

Untuk sahabat-sahabat yang ingin kurus: jangan diet (dalam pengertian
mengurangi frekuensi makan). Diet justru menambah kecenderungan tubuh untuk
menabung lemak karena 'dilaparkan' . Ketika diet memang makanan tidak masuk,
tapi begitu makanan masuk, kecenderungan tubuh untuk menimbun lemak dari
makanan justru lebih besar.

Rahasia kurus sebenarnya adalah menjaga agar respon insulin dalam tubuh
stabil, tidak melonjak-lonjak. Caranya, hanya makan makanan yang memberi 
respon insulin rendah, yaitu yang indeks glikemiknya rendah.

Respon insulin tubuh meningkat bila:

(1) Makin tinggi jumlah karbohidrat yang dimakan dalam satu porsi, makin
tinggi pula respon insulin tubuh (ini umumnya porsi kita di Indonesia: lebih
dari 70 persen dari satu porsi makannya adalah nasi).

Makanya, makanlah dengan karbohidrat cukup lima puluh persennya saja.
Sisanya protein, dan 5-10 persennya lemak. Lemak ini cukup dari lemak yang
terkandung dalam daging yang kita makan, misalnya. Atau kuning telur. Tidak
perlu menambah minyak atau memakan lemak hewan (yang justru buruk
pengaruhnya bagi tubuh).

Lemak (sedikit!) masih diperlukan untuk mengolah beberapa nutrisi dan
vitamin, dan untuk membawa nutrisi ke seluruh tubuh.

(2) Semakin tinggi GI (Glycemic Index) karbohidrat yang dikonsumsi, semakin
meningkat pula respon insulin tubuh. Makanya, makan hanya makanan yang
GI-nya rendah. Nanti saya jelaskan di bawah.

(3) Semakin jarang makan, semakin meningkat respon insulin setiap kali
makan.

Ini sebabnya diet (dalam pengertian: mengurangi frekuensi makan supaya
kurus) tidak akan pernah berhasil untuk jangka lama. Setelah diet selesai,
tubuh justru akan cenderung lebih gemuk dari sebelum diet. Supaya kurus
(baca: supaya respon insulin tidak melonjak) justru harus makan lebih sering 
(4-5 kali
sehari) tapi dengan porsi setengah atau sepertiga porsi biasa, dengan
karbohidrat maksimal 50 persen saja setiap porsi.

Kalau respon insulin tubuh sudah stabil, maka tinggal diatur: kalau ingin 
kurus, kalori yang masuk harus lebih sedikit dari kalori makanan yang 
dibutuhkan untuk aktivitas sehari hari. Tambah dengan olahraga teratur untuk 
membakar lemak berlebih dalam tubuh, dan memperbesar otot. Otot membutuhkan 
energi, maka makin terlatih otot, ia akan makin mengkonsumsi lemak dalam 
tubuh kita untuk energi.

Sebaliknya kalau ingin memperbesar otot (bukan gemuk) atau mengencangkan
badan, maka kalori yang masuk harus agak lebih banyak dari jumlah kalori
yang akan kita pakai untuk aktivitas selama sehari, agar otot mengalami
pertumbuhan. Otot sendiri dirangsang pertumbuhannya dan 'kekencangannya'
dengan olahraga teratur. Perbanyak protein agar pertumbuhan otot optimal.
Karbohidrat cukup diposisikan sebagai bahan pemberi energi, bukan untuk
mengenyangkan perut.
Lucu ya: kalau ingin kurus atau memperbaiki bentuk badan, termasuk
menumbuhkan otot, justru harus makan lebih sering dengan porsi kecil. Makan
yang mengandung lemak, goreng-gorengan, kanji, atau karbohidrat sederhana
seperti gula, manisan, minuman ringan bersoda dan sebangsanya itu sudah out
of the question.

Kalau kita jarang makan, atau makan tidak teratur dan sekalinya makan 'balas
dendam habis-habisan' , ya justru respon insulin kita juga melonjak dan
membuat tubuh jadi menimbun lemak.

Sekali lagi, baik ketika berbuka puasa atau dalam makanan keseharian,
makanlah makanan yang seimbang: 50 persen karbohidrat kompleks, 40-45 persen
protein dan 5-10 persen lemak dalam setiap porsinya. Jauhilah karbohidrat
sederhana sebisa mungkin. Kalaupun harus makan karbohidrat sederhana karena
butuh energi cepat carilah yang nilai indeks glikemiknya rendah.

Karbohidrat kompleks membutuhkan waktu untuk diubah tubuh menjadi energi.
Dengan demikian, makanan diproses pelan-pelan dan tenaga diperoleh sedikit
demi sedikit. Dengan demikian, kita tidak cepat lapar dan energi tersedia
dalam waktu lama, cukup untuk aktivitas sehari penuh. Sebaliknya,
karbohidrat sederhana menyediakan energi sangat cepat, tapi akan cepat
sekali habis sehingga kita mudah lemas. Maka, ketika makan sahur, jangan
makan yang banyak mengandung gula, karena kita akan cepat lemas.

Makanlah karbohidrat kompleks (protein jangan dilupakan!) sehingga kita 
tetap berenergi sampai waktu berbuka. Karbohidrat sederhana, GI tinggi 
(energi sangat cepat habis, respon insulin tinggi: merangsang penimbunan 
lemak) adalah: sukrosa (gula-gulaan) , makanan manis-manis, manisan, minuman 
ringan, jagung manis, sirop, atau apapun makanan dan minuman yang mengandung 
banyak gula. Hindari, puasa atau tidak puasa.

Karbohidrat sederhana, GI rendah (energi cepat, respon insulin rendah):
buah-buahan yang tidak terlalu manis seperti pisang, apel, pir, dan
sebagainya. Sekarang ngerti kan, kenapa para pemain tenis dunia, pemain
bola, pemain basket atau pelari sering terlihat 'ngemil pisang' di pinggir
lapangan? Karena mereka butuh energi cepat, tapi nggak ingin badannya gembul
berlemak.

Karbohidrat Kompleks, GI tinggi (energi pelan-pelan, tapi respon insulinnya
tinggi): Nasi putih, kentang, jagung.

Karbohidrat Kompleks, GI rendah (energi dilepas pelan-pelan sehingga tahan
lama, respon insulin juga rendah): Gandum, beras merah, umbi-umbian, 
sayuran.
Ini yang paling dicari para praktisi fitness.

Makanan yang diproses pelan-pelan (karbohidrat kompleks) akan membuat kita 
tidak cepat lapar dan energi dihabiskan cukup untuk aktivitas satu hari 
penuh; respon insulin rendah membuat tubuh kita tidak cenderung untuk 
menabung lemak.
Kalau saya pribadi, sahur cukup dengan oatmeal gandum (ditambah gula
sedikiiiiiit) , atau roti coklat gandum, dua atau tiga butir telur rebus
(kuningnya saya hancurkan dan ditebarkan di rumput untuk makanan semut-semut
di halaman rumah), sayuran segar, dan air putih. Ini sudah cukup untuk
membuat tenaga saya tidak habis sampai buka puasa karena energi dari
karbohidrat kompleksnya (gandum) akan dilepas pelan-pelan ke dalam tubuh
sepanjang hari. Ketika berbuka, sesuai anjuran Rasulullah dan sufi tadi,
saya biasanya minum segelas air, lalu shalat maghrib. Setelah shalat makan
nasi seperti biasa, sebisa mungkin dengan porsi karbohidrat- protein-lemak- 
air proporsional. Dan tentu tidak untuk 'balas dendam' karena puasa 
seharian. Ini justru saat yang penting untuk melatih melawan keinginan hawa 
nafsu 'makan sekenyang-kenyangnya'.

Belajar sabar. Waham Umum. Oke, kembali ke topik. Nah, saya kira, 
"berbukalah dengan yang manis-manis"itu adalah kesimpulan yang terlalu 
tergesa-gesa atas hadits tentang berbuka diatas. Karena kurma rasanya manis, 
maka muncul anggapan bahwa (disunahkan) berbuka harus dengan yang 
manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi waham dan memunculkan 
budaya berbuka puasa yang keliru di tengah masyarakat. Yang jelas, 
'berbukalah dengan yang manis' itu disosialisasikan oleh slogan advertising 
banyak sekali perusahaan makanan di bulan suci Ramadhan.

Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang menemukan hadits
yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan berbuka dengan yang
manis-manis, mohon ditulis di komentar di bawah, ya. Saya, mungkin juga para
sahabat yang lain, ingin sekali tahu.

Semoga tidak termakan waham umum 'berbukalah dengan yang manis'. Atau lebih
baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang agama. Periksa dulu
kebenarannya.

Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah: "Makanlah hanya ketika lapar, 
dan berhentilah makan sebelum kenyang." Juga,isi sepertiga perut dengan 
makanan, sepertiga lagi air, dan sepertiga sisanya biarkan kosong.

"Kita (Kaum Muslimin) adalah suatu kaum yang bila telah merasa lapar barulah
makan, dan apabila makan tidak hingga kenyang," kata Rasulullah.
"Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk daripada
perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkokoh tulang
belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari, cukuplah
sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan 
sepertigalagi untuk nafasnya."

(HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya yang bersumber dari
Miqdam bin Ma'di Kasib)

Kirim email ke