"Umar bin Khatab juga pernah memberikan teladan yang sangat baik. Saat itu beliau tidak bisa tidur semalaman karena dilapori ada unta yang terpeleset di Irak (Persia). Maka, Umar pun menangis dan mengaku dosa kepada Tuhannya. "Ya Allah, saya menjadi pemimpin, membuat jalan kok tidak bisa, sampai ada unta yang terpeleset". Tentu saja, jika pemimpin sekarang meniru seperti itu, setiap hari para pemimpin tidak bisa tidur."
Pemimpin Pembawa Kesejahteraan Umat Oleh Drs. H. WIJAYANTO, M.A. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/15/01nasihah.htm Nabi sengaja dipilih dari golongan manusia bukan dari golongan jin. Pertama, sesuai dengan Surat At-Taubah ayat 128, supaya kita bisa meniru. Kalau Rasulullah dari golongan jin atau malaikat, sulit bagi manusia menirunya. Contoh kepemimpinan yang bagus, yang diambilkan dari teladan Rasulullah adalah Umar bin Khatab. Beliau sangat resah manakala umatnya tidak sejahtera. Umar berupaya mencontoh Rasul, jika lapar dia pasti orang yang paling pertama merasakannya, sedangkan kalau kenyang, dia orang terakhir yang menikmatinya. Setiap kali Rasulullah diberi makanan, beliau selalu bertanya, "Apakah yang di luar sudah mendapatkan atau belum?" Kalau belum, beliau menyuruh untuk memberikan makanan itu kepada orang yang di luar dulu, baru kemudian Rasulullah menerima yang terakhir. Nabi Muhammad saw. memang pemimpin yang luar biasa. Ketika terjadi Perang Khandak, semua orang merasa kelaparan. Maka, seorang sahabat berjalan di depan beliau dan menjatuhkan dua buah batu. Rasul pun bertanya, "Apa itu yang jatuh?" "Dua buah batu, ya Rasulullah. Ingatlah bahwa saya sudah dua hari tidak makan." Menanggapi ungkapan sahabat, Rasulullah menunjukkan tiga buah batu dan ternyata beliau sudah tiga hari tidak makan. Ketika Nabi diundang makan oleh sahabat Jabir r.a. saat Perang Khandak itu, Rasulullah pun mengundang makan para sahabat yang lain. Setelah semua sahabat makan, baru beliau makan, padahal saat itu sedang di tengah-tengah kelaparan yang luar biasa. Umar bin Khatab juga pernah memberikan teladan yang sangat baik. Saat itu beliau tidak bisa tidur semalaman karena dilapori ada unta yang terpeleset di Irak (Persia). Maka, Umar pun menangis dan mengaku dosa kepada Tuhannya. "Ya Allah, saya menjadi pemimpin, membuat jalan kok tidak bisa, sampai ada unta yang terpeleset". Tentu saja, jika pemimpin sekarang meniru seperti itu, setiap hari para pemimpin tidak bisa tidur. Imam dan umat tidak bisa dipisahkan. Kata "imam" asal katanya dari "um" (ibu). Tugas ibu menciptakan umat yang baik dan taat serta saleh. Tugas ibu membuat imam yang adil, imam dengan umat itu satu akar kata, um. Maka, sesungguhnya hubungan antara imam dan umat itu seperti suami dan istri, karena itu bukan hubungan transaksional. Suami istri bukan hubungan transaksional, maka istilah hubungan mereka pun bukan mahabah (cinta), tetapi mawadah. Mawadah, lebih dalam maknanya dari mahabah. Mahabah itu cinta karena harta dan wajahnya, tetapi kalau mawadah yang dinikahi adalah lahir dan batinnya. Kalau hanya mahabah nanti "rumput" tetangga pasti lebih hijau, bukan hubungan transaksional, bukan hubungan bisnis, dan tidak ada tendensi. Pemerintah dan rakyat, imam dan umat juga seperti itu. Pemimpin menaikkan gaji pegawai negeri agar bisa dipilih lagi. Itu namanya tendensius. Pemimpin baik kepada rakyat memang sudah tugasnya. Rakyat yang baik mendoakan pemimpinnya, itu tugasnya. Tinggal koreksi diri, layakkah pemimpin sekarang didoakan atas kebaikannya kepada rakyat? Kalau ada rakyat yang mendoakan jelek kepada pemimpinnya, tentu itu karena mereka merasa dizalimi. Kadang-kadang, pemimpin mempunyai sifat khayawaniyah. Mereka tidak peduli saat rakyatnya bingung mencari makan. Sementara mereka bisa korupsi ke sana kemari dengan cara dan jumlah yang luar biasa. Makanya, dalam Ramadan ini, para pemimpin perlu introspeksi karena sebaik-baik pemimpin adalah yang disenangi rakyatnya dan didoakan atas semua kebaikannya. Sebaik-baiknya rakyat adalah yang layak disayangi oleh pemimpinnya, sehingga pemimpin tidak tega melihat rakyat menderita. Maka, Ali bin Abi Thalib pernah diprotes. "Mengapa zaman Khalifah Abu Bakar dan Umar tidak pernah ada kekacauan seperti ini?" kata Ali. "Ya..., karena yang jadi pemimpin Abu Bakar, Umar, dan umatnya seperti aku. Sedangkan sekarang yang menjadi kacau seperti ini, saya pemimpinnya dan umatnya seperti kamu. Maka, kita koreksi diri, umat atau pemimpinnya? Saya sudah berbuat begini tetapi jangan-jangan umatnya tidak seperti dulu waktu saya menjadi umat. Kita harus koreksi diri." Padahal, Ali adalah seorang sahabat yang sangat luar biasa dalam menjaga kelembutan hati sehingga kadang-kadang beliau bisa introspeksi keduanya. Beliau mempertanyakan pemimpinnya atau rakyatnya yang tidak beres. Akan tetapi, jauh lebih penting karena agent of change, agen perubahan itu lebih efektif dari atas, maka pemimpin harus melakukan kebaikan lebih dulu. Bila ada bandul digoyang dari atas sedikit, perubahan di bawah luar biasa. Jadi pemimpin adalah agen perubahan, perubahan segala hal. Jadi, lebih efektif perubahan dilakukan dari atas, nanti dibangunnya dari bawah. Maka, pemimpin menjadi tokoh sentral, menjadi uswah, qudwah. Qudwah itu profil, figur yang luar biasa, dan uswah adalah contoh terbaik. Ramadan memang saat untuk berintrospeksi. Karena ada suasana, hampir semua orang yang berbuat jelek itu terproteksi. Makanya banyak orang mengatakan, "Puasa-puasa kok korupsi?" Momentum ini menjadi penting sehingga orang yang mau marah saja bilang, "Maaf saya sedang puasa." Maka kadang-kadang pemerintah pun pintar, misalnya menaikkan tarif tol menjelang Ramadan. Bagaimana pemimpin yang baik bisa menyejahterakan umatnya? Ada empat peran penting. Pertama, menjadi contoh, figur (uswah, qudwah). Kedua, pemimpin menjadi sahabat atau teman. Maka, mereka bukan sekadar disebut teman, tetapi khadimul ummah. Sebaik-baik pemimpin adalah yang bisa melayani. Makanya, orang yang mulia bukan orang yang dimuliakan, tetapi orang yang bisa memuliakan orang lain. Terhormat bukan orang yang dihormati, tetapi orang yang bisa menghormati. Ketiga, pemimpin yang punya peran edukasi. Artinya, pemimpin harus punya visi, selangkah lebih maju. Makanya, pemimpin tidak boleh cacat hukum, cacat moral, tetapi juga harus visioner karenanya dia lebih tahu dari yang dipimpin. Maka, namanya pemimpin, dalam bahasa agama disebut 'alimul ghaib sebagaimana contoh komandan memerintahkan tiarap, karena sudah melihat akan ada serangan. Kita yang disuruh tiarap mungkin tidak tahu, tetapi ikut pemimpin, kita menjadi selamat, bukan malah sebaliknya. Keempat, pemimpin tentu harus menjadi pelopor atau orang terdepan dalam kebaikan.*** Penulis, mubalig, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
