Etos Kerja Bulan Puasa
Oleh SOEROSO DASAR
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/21/0901.htm

PADA dekade belakangan ini, produktivitas dunia usaha dan sektor pemerintah 
Indonesia terus menurun. Kajian International Manajemen Development (IMD) 
World Competitiveness Year Book 2005, menyatakan bahwa Indonesia berada pada 
peringkat 59 dari 60 negara yang dijadikan sampel studi. Jauh di bawah 
Thailand (27), Malaysia (28), Korea (29), China (30), India (39), dan 
Filipina (49). Rendahnya produktivitas di Indonesia, sebagian besar karena 
rendahnya produktivitas pelayanan birokrasi. Oleh sebab itu, peningkatan 
produktivitas sektor pemerintah merupakan suatu keharusan yang perlu segera 
diperbaiki. Kita lihat saja bagaimana pelayanan publik dilakukan, dan 
bagaimana berputarnya proses birokrasi yang terjadi di negeri ini. Segala 
urusan bukan dipermudah, tetapi justru dipersulit. Pantaslah apabila kita 
jauh tertinggal dengan negara lain dalam hal produktivitas kerja. Rasio 
input output tenaga kerja di negeri ini harus di dongkrak secara maksimal, 
agar lebih signifikan. Regulasi dilakukan untuk menyederhanakan pelayanan 
publik, hendaknya jangan dijadikan hiasan, tetapi terjadi dalam dunia nyata. 
Karena saat ini, peraturan-peraturan yang sudah disepakati, cenderung masih 
belum banyak membantu. Kehancuran dan kemandekan pembangunan bukan pada 
variabel peraturan, tetapi karena bobroknya mental bangsa. Sudah terlalu 
banyak peraturan dan undang-undang dikeluarkan, namun tetap saja dilanggar.

Bekerja merupakan sesuatu yang sangat mulia dan terpuji dalam pandangan 
Islam. Karena kemuliaan dari bekerja akan diikuti dengan kemuliaan hasilnya. 
Artinya, Islam juga mengukur efek multiplier dari karya seseorang. Seberapa 
jauh karya itu mempunyai dampak sosial ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, 
baik langsung ataupun tidak. Islam memperhitungkan, ada hubungan yang sangat 
erat antara bekerja dengan kesucian akhlak, dan menganggur dengan kerusakan 
akhlak serta kekosongan roh dan pikiran. Bekerja membuat orang lebih mulia 
baik di sisi Allah, dan di sisi manusia, karena dia bermanfaat bagi orang 
lain. (Jejak-jejak Rohani, Murtadha Mutahhari). Seorang muslim sejati 
bukanlah zahid yang tenggelam dalam perenungan tauhid. Bukan juga seorang 
wali yang menolak muamalat dengan orang lain. Seorang muslim sejati adalah 
mereka yang berkiprah, bersosialisasi, dan bekerja untuk membangun bangsa 
ini. Dia membantu pada dhuafa dan mustadh afin (fakir miskin dan orang orang 
lemah). Karena Islam tidak mendikotomi antara kehidupan dunia dan kehidupan 
akhirat. Di sinilah terlihat, bahwa seorang muslim sebenarnya pekerja keras 
dan tidak kenal menyerah. Bukankah Rasul pernah mencium tangan seorang 
pekerja keras yang kasar dan hitam legam? Sebuah penghormatan tertinggi yang 
diberikan Rasul terhadap produktivitas kerja.

Fenomena rendahnya produktivitas sangat terlihat dengan mata telanjang pada 
bulan suci Ramadhan. Padahal, tidak ada alasan kuat dan signifikan yang 
dapat dipertanggungjawabkan apabila terjadi penurunan produktivitas di bulan 
suci ini. Sepanjang kerja merupakan ibadah (goer mahdoh), maka produktivitas 
kerja tetap bertahan, bahkan kalau bisa ditingkatkan. Semuanya ini dilakukan 
karena kita sudah sangat jauh tertinggal dengan negara-negara sahabat. 
Bagaimana tangan sibuk mengurus dunia, dan membiarkan hati sibuk mengingat 
Allah SWT. Itulah etos kerja seorang muslim sejati. Seorang sufi besar 
Muhammad bin Sirin, setiap hari bekerja dengan produktivitas yang tinggi, 
bercanda, dan bergaul biasa. Tetapi ketika malam merangkak memeluk bumi, dia 
seperti yang telah membunuh orang satu kampung. Seolah-olah mempunyai dosa 
yang tidak terampunkan. Malam harinya diisi dengan menangis, berzikir, dan 
shalat malam, memohon ampunan kepada Allah. Bahkan seorang Muhammad Bin 
Wasiselama 20 tahun menangis tanpa diketahui istrinya, karena ia menganggap 
di keheningan malam menghadap Allah adalah sesuatu yang sangat dinantikan. 
Keesokan harinya, mereka bekerja seperti biasa, berdagang, bersosialisasi, 
tanpa harus menurunkan produktivitas. Sosok Muhammad bin Sirin dan Wasi, 
tampaknya perlu kita teladani serta dijadikan rujukan untuk memompa etos 
kerja seorang muslim. Bulan suci Ramadhan, kita tingkatkan ibadah, tanpa 
harus mengurangi produktivitas kerja.

Etos kerja dalam proses pembangunan negeri ini merupakan aset intelektual. 
Dia berada ada posisi otak kanan, bersama dengan kejujuran, harga diri, 
ketekunan, dan lainnya. Hidup ini, memerlukan keseimbangan antara otak kiri 
dan kanan, dunia akhirat, serta ibadah dan bekerja, dilakukan secara 
maksimal. Inilah bentuk penghambaan dan rasa syukur kita terhadap 43.242 
hembusan nafas yang diberikan Allah setiap hari. Meningkatkan produktivitas 
kerja bukan berarti memberhalakan kehidupan dunia atau materi. Dunia memang 
tempat kita melakukan pembelajaran dan menempuh ujian. Dunia ini tidak 
buruk, dia ladang akhirat. Apa yang kita tanam didunia, akan kita petik 
hasilnya nanti di akhirat. Apabila mempunyai keimanan yang teguh, sekeras 
apapun godaan dunia hati tetap tertambat secara kuat kepada Khalik. Ketika 
ada keimanan yang teguh di dalam mata, ada mata batin yang secara terus 
menerus menatap Allah. Pada posisi itulah sebagai pekerja muslim memberikan 
tauladan kepada sekitar, bahwa tangan-tangan muslim sangat terampil untuk 
membangun kembali bangsa ini. Walau ada 400 trilyun 10 ribu bentuk kekuatan 
magic setan disekitarnya, tipu daya dan pengkhianatannya seperti yang ada di 
bumi, udara, api, air, dan alam maya, tidak akan terusik sama sekali. Bulan 
suci Ramadhan tetap akan mampu mengatasi semua godaan itu, karena Ramadhan 
diisi dengan kerja keras, produktivitas yang tinggi, rasa syukur yang 
mendalam, tawakal, serta memuji Allah. (lihat Mr. Bawa Muhayyaddin, Islam 
World Peace, Explanation of a Sufi).

Banyak kisah dan teladan Nabi serta para sahabat tentang etos kerja dan 
produktivitas yang tinggi. Kita diminta setelah sholat subuh segera 
bertebaran diatas bumi Tuhan guna mencari ilmu dan kehidupan. Apabila suatu 
pekerjaan sudah selesai, maka kerjakanlah pekerjaan yang lain. Hampir tidak 
ada waktu jeda bagi muslim untuk bekerja dan berikhtiar. Bukankah ini 
merupakan potret kehidupan dengan produktivitas yang tinggi? Sayangnya, 
justru produktivitas yang tinggi bukan dimulai dengan negeri ini. Kita jauh 
tercecer dibelakang, dan uruta bawah kalau dihubungkan dengan kajian IMD 
diatas. Penelitian yang dilakukan oleh Levine, maha guru psikologi dari 
California State University untuk beberapa negara dengan mengambil sampel 
100 pejalan kaki, semakin memperkuat posisi kita. Waktu tempuh untuk 23,8 m, 
Jepang (20,7) Inggris (21,6), Amerika (22,5), Italia (23,6), Taiwan (24,2), 
dan Indonesia (27,2). Dengan demikian, Indonesia merupakan negara yang 
paling lamban (santai) dalam hal pejalan kaki.

Dalam bulan Ramadan ini hendaknya kita tumbuhkan sikap istiqomah, kerja 
keras, tangguh dan ulet dalam menghadapi gangguan dunia sebagai kepribadian 
muslim sejati. Memang kita mungkin menghindar dari benturan-benturan sosial 
ketika dalam bulan Ramadan etos kerja ditingkatkan. Belum dikatakan sebagai 
Muslim sejati, jika dia belum tegar dan rela atas keputusan dan ketetapan 
Allah yang diberlakukan kepadanya. Begitu banyak dan menyakitkan hati, jika 
sabar dan taqwa itulah hal yang diutamakan. (Q.S. Ali-Imran 186)."Arbait 
Adel Dem mench" pekerjaan mempertinggi derajat manusia dan "leding heitd is 
des devines oorkusen" manusia tanpa kesibukan akan menjadi santapan 
setan.***

Penulis, peneliti senior PPKSDM Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran 
Bandung 

Kirim email ke