Suleiman Mohamed, Produk Indonesia
TONNY D WIDIASTONO
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/22/Sosok/3861051.htm

Kemajuan yang dicapai Malaysia sekarang tak bisa lepas dari peran Indonesia. 
Dalam bidang pendidikan, misalnya, Indonesia amat berperan dalam mengantar 
sejumlah orang Malaysia meniti karier yang lebih terbuka. Kesempatan 
menikmati pendidikan lebih tinggi di Indonesia itu terbuka selepas 
konfrontasi Indonesia-Malaysia berakhir.

Banyaknya orang muda Malaysia menuntut ilmu di luar negeri didasari minimnya 
prasarana pendidikan yang dimiliki Malaysia saat itu. Hingga 1969, jumlah 
universitas di Malaysia bisa dihitung dengan lima jari. Universiti Malaya, 
perguruan tinggi pertama dan tertua di Malaysia, menjadi rebutan lulusan 
SMA. Bila etnis Melayu harus mengikuti kompetisi masuk universitas, mereka 
akan kalah dengan etnis China yang menguasai hampir 83 persen mahasiswa 
Universiti Malaya.

"Saya angkatan pertama yang pergi ke Indonesia tahun 1968. Saat itu saya 
bersama dua teman mendarat di Halim Perdana Kusumah. Dari Jakarta melalui 
Puncak, kami bertiga menuju Bandung. Melalui tes, tahun 1969 saya masuk 
Jurusan Publisistik Universitas Padjadjaran, Karlimah masuk Fakultas 
Sastra-Antropologi Unpad, dan Nurdin meninggal karena tabrakan di Bandung," 
cerita Suleiman Mohamed PhD.
Sampai tahun 1969, jumlah mahasiswa Malaysia yang belajar di Bandung 
mencapai 500 orang lebih. Dari jumlah itu, 70 persen mahasiswa dibiayai 
negara, sisanya membiayai sendiri.

"Ini berarti Indonesia kami jadikan Mekkah pendidikan. Kami yakin dengan 
taraf pendidikan di Indonesia saat itu, kami pun bisa berkembang. Coba kalau 
kami tidak bisa masuk universitas, akan menjadi apa?" kata Suleiman Mohamed.

Sampai dua-tiga tahun lalu, ada lima lulusan universitas di Indonesia yang 
menjadi rektor perguruan tinggi di Malaysia, di antaranya Prof Dr Saleh 
Yazin (Rektor Universiti Kebangsaan Malaysia) dan Moh Nuh Dalimin (Rektor 
Universiti Malaya-Sarawak).

Kini, mereka yang pernah menuntut ilmu di Indonesia membuat semacam 
perkumpulan, lembaga Persatuan Alumni Pendidikan Tinggi Indonesia (PAPTI). 
Kegiatan PAPTI terutama adalah memelihara hubungan dengan almamaternya di 
Indonesia.

Menjiplak
Meski oleh berbagai pihak pendidikan di Malaysia dinilai relatif maju, masih 
sekitar 4.500 mahasiswa Malaysia yang menuntut ilmu di Indonesia. Mereka 
umumnya belajar pada fakultas kedokteran.

"Mengenai kemajuan pendidikan di Malaysia, kami belajar dari Indonesia. Saat 
itu Indonesia memiliki pendidikan yang bagus. Kami menjiplaknya untuk 
diterapkan di Malaysia. Hasilnya kini bisa dinikmati banyak pihak. Maka, 
sepatutnya kami berutang budi kepada Indonesia," tuturnya.

Selepas meraih gelar sarjana dengan penguji rektor Unpad saat itu, Prof Dr 
Mochtar Kusumaatmadja, dan dekan Astrid Susanto Sunaryo, Suleiman mengawali 
karier sebagai wartawan pada media Utusan Malaysia. Ia lalu bergelut di 
bidang politik dan bergabung dengan United Malay National Organization 
(UMNO).

Kariernya menanjak. Suleiman pernah menjadi Timbalan (wakil) Menteri pada 
Jabatan Perdana Menteri, Timbalan Menteri Penerangan, dan Timbalan Menteri 
Kesehatan. Semua itu pada masa Mahathir Mohammad menjadi perdana menteri.

"Kami lulusan Indonesia berjaya naik. Datuk Moh Rachmad, lulusan Universitas 
Indonesia, pernah menjadi Menteri Penerangan. I am the product of Indonesia. 
Saya bangga menjadi alumnus pendidikan Indonesia. Tanpa itu, bagaimana 
mungkin saya meraih PhD dari Universiti Kebangsaan Malaysia?" ujarnya 
menambahkan.

Memang, banyak orang muda Malaysia lulusan perguruan tinggi Indonesia yang 
kemudian menduduki tempat-tempat strategis. Ada yang menjadi menteri, 
profesor, doktor, dosen, bekerja mengembangkan Petronas, dan menjadi polisi, 
seperti Datuk Sofian Ahmad yang menjadi Kepala Polisi Kedah.

Paku Buwono
Suleiman mengaku masih memiliki darah Minang-Riau dan Jawa. Darah Jawa 
diterima dari Paku Buwono VI yang dibuang dan dibunuh Belanda di Ambon. 
Ketika Perang Padri, keturunan Paku Buwono VI, Raden Mas Wijayakusuma, 
diantar Belanda ke Sumatera untuk menumpas Imam Bonjol. Kenyataannya, mereka 
justru berkawan dan balik melawan Belanda.

Wijayakusuma lalu pergi ke Kanagarian Lubuk Sikaping, Sumbar, dan menikahi 
putri Raja, Bungo Satangkai. Bungo Satangkai mempunyai empat anak, tiga 
perempuan dan si sulung lelaki, Tulung, yang kemudian diangkat menjadi 
Tuanku Lareh di Lubuk Sikaping.

Tuanku Lareh mempunyai anak bernama Suki. Suki punya anak perempuan, Nilam. 
Saat berumur 11 tahun, Nilam diambil pamannya, Katib Koyan, yang menjadi 
penghulu Kuala Lumpur pertama.

"Nilam itulah emak saya. Pada 9 Oktober 2002 saya bersama Gus Dur 
dianugerahi gelar bangsawan, Kanjeng Pangeran oleh Paku Buwono XII. 
Penelusuran silsilah ini dikaji secara historis, ilmiah, dan dengan batin," 
paparnya.

Cinta Bandung
Saat wawancara, telepon genggam Suleiman Mohamed yang menggunakan nada 
sambung degung berkali-kali menyela pembicaraan. "Saya tak bisa melupakan 
Bandung. Bagi saya, degung itu memberi isi. Setiap malam, kalau sudah sepi, 
saya menyetel degung, dan hati ini seperti disiram kembali," tuturnya.

Suleiman ingat betul, selain sebab dorongan ingin maju, ada daya tarik lain 
yang membuatnya ingin ke Indonesia.

"Selepas konfrontasi, lagu-lagu Ernie Djohan begitu populer di Malaysia. 
Salah satu yang ikut menarik banyak orang belajar ke Indonesia adalah Teluk 
Bayur. Simak kata-katanya, Ku kan mencari ilmu di negeri orang, bekal hidup 
kelak di hari tua.. Itu amat berkesan. Juga lagu Lambaian Bunga oleh Koes 
Hendratmo, Bunga Nirwana oleh Said Effendi, Lilis Suryani, Ivo Nila Khrisna 
dan yang lain," ungkap Suleiman.
Sampai sekarang Suleiman tetap membina hubungan dengan teman-teman di 
Indonesia.

"Saya dulu pemalu. Sekarang menyesal mengapa dulu tidak mengambil mojang 
Sunda sebagai istri. Bahasa Sunda saya pun cuma saetik. Rasanya hidup saya 
seperti pepatah Melayu lama: Tempat Jatuh Lagi Dikenang, Ini Kan Pula Tempat 
Bermanja. Artinya, saya tak akan pernah melupakan tempat-tempat yang 
berperan besar dalam hidup saya," tutur Suleiman.

Bunyi degung dari nada sambung telepon bimbit pun berbunyi lagi.... 

Kirim email ke