"Ini semua atas jerih payah saya selama 16 tahun. Saya kumpulkan uang dari 
hasil sebagai perajin batu kecubung di Desa Paringkan, dan baru tahun ini 
Tuhan memberi izin untuk menunaikan ibadah haji," kata Samiji yang kelihatan 
kental logat Dayak-nya. Untuk naik haji ini biayanya sangat besar, 
sedikitnya harus menyiapkan Rp35 juta, meskipun ONH hanya sekitar Rp27 juta. 
"Pengantar calon haji di kampung saya cukup meriah. Warga yang melaksanakan 
ibadah haji bagaikan prajurit yang akan maju perang," kata Samiji.

Samiji Harus Tunggu 16 Tahun Untuk Ibadah ke Tanah Suci
Oleh Bambang Dwi Marwoto
http://www.antara.co.id/arc/2007/11/23/samiji-harus-tunggu-16-tahun-untuk-ibadah-ke-tanah-suci/

Palangkaraya (ANTARA News) - Salah seorang Jemaah Calon Haji (JCH) asal 
Kalimatan Tengah (Kalteng) mengaku sudah belasan tahun berniat untuk 
menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah.

Perajin permata asal Desa Paringkan, Pangkalan Bun Kalteng, Achmad Samiji 
(65), ketika ditemui di Asrama Haji Donohudan, mengatakan, dirinya sangat 
bersyukur niatnya untuk pergi ke Tanah Suci akhirnya terkabul pada tahun 
ini.

"Ini semua atas jerih payah saya selama 16 tahun. Saya kumpulkan uang dari 
hasil sebagai perajin batu kecubung di Desa Paringkan, dan baru tahun ini 
Tuhan memberi izin untuk menunaikan ibadah haji," kata Samiji yang kelihatan 
kental logat Dayak-nya.

Samiji menceritakan, sejak dirinya masih mempunyai anak dua dua sudah punyai 
cita-cita untuk naik haji ke Tanah Suci, tetapi dia sempat tidak yakin 
mengingat pekerjaannya hanya sebagai seorang perajin kecil.

Perajin itu hasilnya tidak tentu, kadang-kadang dia mendapatkan uang hanya 
Rp25 ribu per hari, namun kalau lagi ramai pesanan, dia bisa menghasilan 
sekitar Rp200 ribu per hari.

Samiji yang juga seorang kakek enam cucu itu juga sempat frustrasi karena 
setelah mempunyai delapan anak beban hidupnya semakin bertambah. Anak itu 
masih tanggung jawab orang tua selama dia belum mampu hidup sendiri.

Namun, dirinya masih percaya bahwa Tuhan akan memberi jalan untuk 
keluarganya. Dia terus melakukan pekerjaan yang sudah digeluti selama 
puluhan tahun itu.

Pada tahun 2000, usahanya mengalami peningkatan. Selain itu, empat anaknya 
juga sudah berkeluarga sehingga bebannya semakin berkurang," katanya.

"Saya sudah bisa mulai menabung sedikit demi sedikit untuk memenuhi 
cita-cita," katanya.

Samiji mengaku, dirinya naik haji hanya sendiri, tidak ditemani salah satu 
keluarganya, misalnya istrinya. Samiji terdiam dan tidak mau mengaku ketika 
ditanyai tentang istrinya.

Untuk naik haji ini biayanya sangat besar, sedikitnya harus menyiapkan Rp35 
juta, meskipun ONH hanya sekitar Rp27 juta.

Namun, dia bersama sejumlah calon haji lainnya sangat bersyukur karena 
diberikan batuan oleh Bupati Pangkalan Bun, berupa tiket pesawat dari 
Pangkalan Bun ke Semarang.

Sementara itu, Samiji bersama jemaah calon haji (JCH) lainnya asal Kalteng 
sebanyak 223 orang yang tergabung kelompok terbang (kloter) 11, diberangkat 
melalui Embarkasi Adisumarmo Solo, pada Rabu (21/11).

Sebelumnya, 223 orang JCH asal Kalteng itu diberangkatkan dari Bandara 
Iskandar Pangkalan Bun ke Badangar A. Yani Semarang secara bertahap mulai 
Jumat (16/11) hingga Selasa (20/11), karena terbatasnya pernerbangan di 
jalur tersebut.

"Kami berkumpul di Kota Solo bersama JCH lainya asal Kaltim, kemudian 
bersama-sama masuk ke Asrama Haji Donohudan," kata Samiji yang terdengar 
agak terbata-bata berbahasa Indonesia.

Menurut adat di kampungnya, kata Samiji, setiap calon haji yang mau 
berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, mengumpulkan sanak-keluarga 
dan tetangganya untuk berpamitan dan mohon doa restu.

Selain itu, ada calon haji dari hulu ketika mereka akan berangkat dan keluar 
dari kampung dengan di antar sanak-saudara, dan tetangga mengiringi dengan 
puluhan perahu hingga sampai berkumpulnya para calon haji lainnya.

"Pengantar calon haji di kampung saya cukup meriah. Warga yang melaksanakan 
ibadah haji bagaikan prajurit yang akan maju perang," kata Samiji. (*) 

Kirim email ke