Tah eta Bah,
Rerencangan abdi aya dua urang istri anu nganggo Jilbab ayeuna tinggal di 
Amrik... nu hiji di New York nu hiji deui di Washington DC nyingcet 
hehehe... nu teu di jilbab oge seueur... tah Alhamdulillah ceunah marenahna 
aman tengtram weh kitu dugika ayeuna. Hehehe maklum ari Nu KAsep mah 
seuseurna babaturana istri nu geulis ;))... nya pan siap-2 lamun nyandung 
tos diwajibkeun ku pamarentah kandidatna tos siap heuheuheu... pan istri 
langkung sakedik ti lalaki jadi mun engke diwajibkeun pasti parebut geura... 
dari pada dipanjara pan!! Mending siap-2 ti ayeuna (Mode KAsep tur Ateul ON 
;)). Tah ari Bah S... mah wayahna tos sepuh mah kudu ngelehan hehehe... 
pasihan kasempetan ka nu ngora  ;)). Kade ulah salah hartos engke kalahka 
jadi hayang neangan nu ngora deuih ;)).

Salam,
KAsep

----- Original Message ----- 
From: Surtiwa

Ti milis tatanga kisah gadis alit Cianjur di NAGARA
KAPITALIS....kulantaran kamiskinan di Ibu Pertiwai RI......

Jilbab Di Pelukan Bendera
Amerika.
Oct 19, '07 12:42 PM
for everyone

(Catatan
suka-duka dunia kerja di USA)


Menapakkan kaki yang entah ke berapa puluh kalinya di
sana - selalu ada rasa itu. Rasa yang sulit untuk dijabarkan
seperti ketika membaca tulisan Office of the Immigration Judge
tertatah
di marmer hitam itu. Marmer dingin itu pernah aku duduki
sampai petugas keamanan menghampiriku, melarangku duduk di sana.
Tersipu malu ketika menyadarinya, dengan kata maaf kuseret tas
kerjaku
dan pindah duduk ke kursi taman. Beberapa perahu cantik
dengan tenang melintas di sungai besar di tepi gedung pengadilan
imigrasi Miami
di pojokan One River View Square itu, seolah tak perduli pada
sibuknya
wajah-wajah lalu lalang yang silih berganti melewati pintu
penjagaan. Wajah-wajah itu tak beda banyak dengan wajahku,
berkulit coklat hangat - juga seperti kulitku. Wajah-wajah
Hispanic seperti wajah-wajah anak negeriku itu terasa begitu dekat
di
hati.

Kuhabiskan
Cuban coffee yang kubeli dari café di dalam ruang tunggu dan kulirik
jam
tanganku. Sudah waktunya untuk masuk ke ruang sidang.
Di lantai tujuh ada satu ruang besar khusus untuk para
penerjemah, tapi setiap aku menengok ke ruangan itu selalu saja
gelap dan
sepi. Akupun jadi lebih suka menunggu di
luar gedung pengadilan di tepian sungai sambil minum kopi khas Miami
dan
memandangi perahu yang lewat, melamun dan mereka-reka apa kiranya
kasus yang
akan disidangkan pada hari itu.

Kebanyakan kasus
orang Indonesia adalah over stay karena masa berlaku visa yang sudah
kadaluwarsa. Banyak orang yang bertahan untuk berada di
Amerika sampai melewati batas waktu yang
diberikan. Krisis moneter yang menggoncang ibu pertiwi
beberapa tahun silam adalah salah satu penyebab utama kenekatan
mereka.
Banyak yang mati-matian mempertahankan
kenyamanan bekerja di negeri Paman Sam ini meski itu secara illegal.
Meski itu harus kucing-kucingan dengan FBI dan petugas negara
lainnya. Akibatnya, ketika harus duduk di ruang pengadilan
imigrasi, sebagian besar dari mereka dideportasi karena melanggar
hukum dan
aturan yang berlaku di negeri ini.

Untuk menghindari
kemungkinan dipulangkan itu, banyak yang meminta suaka politik
dengan mengacu
pada rentetan tragedi 1998 antara lain pemerkosaan
wanita-wanita keturunan Cina, pembakaran gereja-gereja, diskriminasi
terhadap
kaum minoritas, penembakan mahasiswa universitas Trisakti dan
reformasi yang
mengawali lengsernya kepemimpinan pemerintah orde baru.

Sementara itu
dari sudut Amerika sendiri tragedi 911 telah meluluh lantakkan
kepercayaan
Amerika pada dunia luar dan khususnya pada negara-negara berbasis
Islam.
Bila keadaan ini dihubungkan dengan politik luar negeri dan
situasi keamanan Indonesia, maka peristiwa pemboman yang beruntun
dari bom di
Bali, bom di hotel Marriott, bom di kedutaan Australia, dan
bom di Bali yang lebih besar lagi - dan entah daftar perilaku
kebiadaban yang
menewaskan orang tak bersalah yang mana lagi - mengakibatkan
negeriku masuk
daftar 25 negara yang dicurigai sebagai "sarang" teroris.
Sungguh fakta sejarah kelabu negeriku yang menyesakkan hati.

Pemikiranku
tentang kekalutan politik Indonesia dan terorisme langsung lenyap
ketika mataku
tertuju pada kursi di sebelah kursi pengacara. Seorang
wanita muda, kurus kecil dan tampak pucat sepucat jilbabnya, duduk
di kursi itu.
Kepalanya tertunduk memandangi jari-jarinya yang berkaitan satu
dengan
lainnya. Dari bahasa tubuhnya yang resah dan gelisah, ia
kelihatan takut dan tak nyaman duduk di kursi kulit warna merah
marun gelap dan
berada di ruangan pengadilan yang dingin itu.

"Nama saya
Neneng, asal dari Cianjur. Usia tujuhbelas
tahun. Orang tua saya miskin dan tidak punya pekerjaan.
Waktu saya umur 12 tahun saya dijual oleh orang tua saya
kepada tetangga dengan bayaran limapuluh kilogram beras.
Lalu saya dibawa ke agen tenaga kerja di Jakarta.
Setelah training bahasa Arab dan pekerjaan rumah tangga lainnya saya
dikirim ke Arab Saudi untuk menjadi pembantu sebuah keluarga dengan
lima anak
kecil-kecil. Tadinya saya senang karena saya kira saya akan
punya kesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Tapi ternyata
majikan saya mendapat pekerjaan di sini maka sayapun dibawa ke
negeri
ini."

Ruangan hening.
Semua pertanyaan dari hakim dijawabnya dengan suaranya yang
pelan dan terdengar gemetaran.

"Majikan saya
punya adik yang berdekatan apartemennya. Mereka juga punya
anak lima yang seusia dengan anak-anak majikan saya. Tiap
hari mereka datang ke apartemen kami, dan saya harus mengasuh dan
menjaga
semuanya. Total sepuluh anak. Kalau ada
anak yang berkelahi, jatuh atau terluka, maka saya dipukuli,
ditendang, atau
ditampar oleh majikan saya. Kadang pakai sepatu, pakai kayu,
pakai tangan atau apa saja yang bisa dipukulkan ke badan saya.
Kadang anak-anaknya juga memukuli saya, meniru ibunya.
Sampai akhirnya saya tidak tahan lagi dan waktu mereka tidur saya
lari ke
masjid di dekat apartemen mereka." Suara Neneng putus-putus
menahan isak. Sesekali ia mengambil nafas kala suaranya mulai
menyesak di lehernya, dan berulangkali mengusap mata basahnya
dengan ujung jilbab putihnya.

"Dan di masjid itu kamu bertemu dengan istri
bapak ini?" Tanya hakim seraya menunjuk pada seorang lelaki setengah
baya,
dokter anak dari Mesir - yang duduk di bangku panjang di belakang
ruangan,
mengikuti jalannya persidangan dengan tenang.

"Ya.
Dan istri bapak ini membawa saya ke rumahnya, dan sampai sekarang
saya
tinggal bersama mereka dan belum kembali ke rumah majikan saya.
Saya takut kembali ke sana lagi. Saya takut dipukuli
lagi. Saya tahu saya salah karena melarikan diri dari rumah
majikan saya. Saya mau dihukum penjara, tapi tolong jangan
kembalikan saya pada majikan saya." Tanpa bisa dihentikan,
Neneng menangis tergugu. Hakim sesaat terpaku sebelum
memberikan waktu istirahat setengah jam, lalu menyelinap ke luar
ruang
sidang.

Neneng adalah
wajah dalam cermin kemiskinan negeriku. Refleksi bayangan
ketidakmampuan bangsaku untuk mengayominya dan keluarganya.
Ekonomi carut marut negara memaksa anak sebelia itu untuk
jadi tenaga kerja di negeri orang. Tanpa digaji, malah
disiksa. Ternyata jiwa perbudakan di mana-mana masih juga
ada! Pikiran Neneng sangat sederhana. Yang
dia tahu orang tuanya sudah melakukan transaksi jual beli atas
dirinya.
Ada sebersit harapan sewaktu datang ke Arab Saudi untuk bisa
menunaikan ibadah haji. Meski seumur hidup hanya sekali.
Menginjakkan kakinya di tanah suci adalah hal yang sungguh
tak ternilai dalam hidupnya. Dan bila ketidakmengertianny a
bahwa kepergiannya ke Arab Saudi itu tak ada hubungannya dengan naik
haji karena
ia adalah pembantu rumah tangga yang tak punya hak diri, itu
tanggung jawab
siapa?

Negeriku adalah
negeri yang konon bangga dengan jumlah Muslimnya yang terbesar di
dunia.
Tapi apakah jumlah itu punya daya, mampu memberikan hak dan
perlindungan pada anak-anak seperti Neneng dan jutaan Neneng
lainnya? Aku tercenung lama dan terbersit tanya, kapan
negeriku yang gemah ripah loh jinawi bisa memberikan ketentraman
pada
anak-anak bangsanya sendiri, sehingga tak perlu mereka mencari dan
mengais
rejeki di negeri orang. Sebagai anak bangsa Indonesia aku
sungguh malu. Tapi sesungguhnya adakah pilihan itu? Andaipun ada,
Neneng tak
pernah memiliki pilihan itu.

Amerika tak bisa
dipungkiri - adalah negara yang dibenci banyak negara lain di dunia.
Ia dikutuk! Dihujat! Dimaki!
Tapi seiring dengan itu Amerika juga adalah bangsa yang dicintai,
perlindungan dan keamanannya dicari, stabilitas ekonominya
diingini.
Dan dengan seribu satu macam alasan dan tujuan, manusia dari seluruh
penjuru dunia berlomba untuk hijrah ke negara ini. Dan rasa
yang kulihat di wajah-wajah bertaburan keluar masuk di pintu
pengadilan imigrasi
itu adalah rasa yang berkecamuk antara harapan untuk menetap,
bekerja keras dan
berpenghidupan yang lebih baik di Amerika atau harus pulang dan tak
tahu
kehidupan apa yang menanti di negara asalnya masing-masing.

Kasus Neneng, bukanlah kasus di mana orang yang ketahuan overstay
lalu minta suaka dengan merekayasa cerita tentang kebobrokan bangsa
atau
kebiadaban manusia di tanah air. Kasus Neneng bukanlah kasus
di mana dia ingin mendapatkan green card dan visa kerja di Amerika -
sementara apa itu green card dan apa itu social security Neneng
tak pernah tahu dan dengar. Kasus Neneng, adalah akibat
penjajahan kemiskinan dan kebodohan yang makin merajalela di
negerinya, yang
juga adalah negeriku. Dan Amerika pun dengan tulus memunguti
serpihan luka yang berhamburan di benuanya ini dan melindungi Neneng
ini dan
Neneng-Neneng lainnya dalam rengkuhan senyum tipis Lady Liberty yang
bersahaja tapi sarat makna: Give me your tired, your
poor.

Hakim kembali ke
ruang sidang siap dengan keputusannya, atas nama negara Amerika.
Kudengar suara lembut keibuannya yang tak pernah kubayangkan akan
terdengar dari sidang pengadilan seperti ini ketika Neneng
memberikan
persetujuannya dijadikan anak negara. Neneng diberi hak
untuk bersekolah dengan biaya negara, diberikan pekerjaan dengan
gaji minimum,
mendapat tempat tinggal, diberi jaminan pelayanan kesehatan seumur
hidupnya. Dan
Neneng diberi kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan
agamanya. Terdengar dokter Mesir itu membisikkan puji
syukur, "Allahu Akbar"

Sore itu,
sementara menunggu taksi untuk kembali ke bandara udara, dengan hati
menyesak
rindu pada kampung halaman kuguratkan tulisan di lembar kertas
kuning lagu yang
kuingat sebagai penutup acara televisi di masa
kecilku, "Tanah airku Indonesia . Negeri elok amat kucinta. Tanah
tumpah darahku yang mulia. Yang kupuja sepanjang masa. Tanah
airku aman dan makmur. Pulau kelapa yang amat subur. Pulau
melati pujaan bangsa sejak dulu kala. " dari tempat
dudukku di tepian sungai di sudut One River View
Square.

Dan Neneng,
sekuntum melati bangsaku yang tak pernah hidup dalam negeri yang
aman dan makmur
itu kini jauh dari Indonesia, negeri elok yang hanya ada dalam lagu
penutup
acara di tivi itu. Hari ini dan hari esoknya bergantung pada
belas kasih dan perlindungan negara ini. Ketika kulihat
taksiku datang aku segera beranjak. Sekilas kuletakkan
tanganku di marmer hitam di depan gedung pengadilan imigrasi itu.
Dan bayangan wajah bercahaya Neneng yang berjilbab putih mengenakan
toga
dan merengkuh selembar diploma di tangannya, dengan latar belakang
bendera
Amerika - melintas di mataku yang mulai berembun.

__________________________________________________________

Kirim email ke