Agama: Pisau Bermata Tolu
Oleh Hamid Basyaib
25/02/2008

Agama, kata Arthur Clarke, juga telah membajak moralitas. Moralitas
primordial yang telah ada jauh sebelum agama lahir, telah mengajarkan
prinsip yang amat sederhana: jangan lakukan pada orang lain hal yang
tak kau sukai dilakukan terhadapmu! 


Agama berpretensi mensistematisasi Tuhan, seperti sekolah
mensistematisasi pengetahuan. Kalau pengetahuan yang amat kaya dan
penuh nuansa tak disistematisasi oleh metode ilmu dan sekolahan,
manusia akan kehilangan arah dan hanya akan mendapat manfaat yang
minimal dari pengetahuan.

Maka setiap upaya ilmiah dengan sendirinya merupakan penyederhanaan
atas kenyataan. Karena itu, ilmu membangun model, tiruan atas
realitas, dan karenanya, pasti bukan realitas itu sendiri. Ini
sepenuhnya disadari oleh kalangan ilmuwan sejak menit pertama kiprah
keilmuan mereka.

Karena itu, kritik lazim dari kalangan agamamawan bahwa ilmu dan
ilmuwan sombong dan lain sebagainya, sebetulnya tidaklah tepat. Kaum
agamawan tidak mengerti, justru para ilmuwan itulah yang rendah hati.
Yang mereka lakukan tak lebih hanya membangun model, bukan memetakan
dan memerangkap kenyataan.

Kaum agamalah yang justru terjebak kecongkakan; mengklaim kebenaran
dan merasa sepenuhnya mengerti tentang realitas. Mereka pun tak lupa
memastikan nasib orang, bukan hanya di dunia ini tapi sampai ke
akhirat nanti. Tampak sombong, memang.

Agamawan kerap kali tidak menyadari bahwa sistematisasinya terhadap
Tuhan justru menggerogoti kekayaan nuansa spiritualitas. Sebab,
sebagai program sosial, agama tak jarang menginginkan segalanya serba
gamblang dan simpel, supaya mungkin diterapkan di tengah kerumunan
umat yang gandrung akan kegampangan.

Tapi agamawan terkadang tak tahu diri; kurang rendah hati dibandingkan
ilmuwan. Sementara ilmuwan cuma berpretensi mendekati kebenaran dengan
cara membangun model (supaya realitas yang superkaya itu bisa
disederhanakan agar lebih mungkin dipahami), agama mengklaim telah
mencapai kebenaran, lalu menggenggamnya bulat-bulat. Kemudian mereka
mengantunginya di saku jubah, menghantamkannya kepada siapapun yang
meragukannya. Di lain sisi, peluang untuk mengembangkan cara-cara
meragukannya telah ditutup rapat-rapat oleh jubah mereka.

Agama, kata Arthur Clarke, juga telah membajak moralitas. Moralitas
primordial yang telah ada jauh sebelum agama lahir, telah mengajarkan
prinsip yang amat sederhana: jangan lakukan pada orang lain hal yang
tak kau sukai dilakukan terhadapmu!

Eh, datanglah kemudian agama, membolak-balik prinsip yang amat
sederhana itu dengan macam-macam uraian teologis, fikih, dan akhlak
yang makin rumit. Dan semakin rumit uraian itu, semakin ia dianggap
canggih dan keren. Lalu prinsip moralitas yang teramat sederhana itu
tertindih di dasar timbunan jutaan lapis uraian yang makin cerewet dan
rewel.

Hasil akhirnya: orang tak tahu lagi mana yang benar, mana yang salah.
Segalanya telah menjadi rumit dan pelik. Moralitas sudah ditaklukkan
oleh agama. Apa yang benar menurut prinsip moralitas yang paling dasar
itu menjadi salah berdasarkan agama dan segala kepentingannya. Yang
sudah jelas salah menurut moralitas -- misalnya membunuh atau mengusir
penganut suatu ajaran spiritual, yang tidak mengganggu dan merugikan
siapapun -- dibenarkan oleh agama.

Pada akhirnya, kita tak jarang menyaksikan agama menjadi pisau bermata
tiga: membacok Tuhan, mencincang ilmu, menusuk moralitas.
^ Kembali ke atas

Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1326

Kirim email ke