pangesto, sehat Ambu, aya we noong nuju diajar mapatkeun "jampe simpe", hehehe.

salam,
mh

2008/5/15 richadiana kartakusuma <[EMAIL PROTECTED]>:
> eta ABAH, na kamana waeeeeeeeeee...nyileungleum teh mana lami2 teuing kumaha 
> damang...nuuuuuuuuuun
>
> mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             ---------- 
> Forwarded message ----------
>  Dedi Turmudi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>  Punten para wargi, artikelna dina bahasa Indonesia
>  Wilujeng ngaos, pamugi aya manfaatna...
>
>  HARGA BBM NAIK, APAKAH RAKYAT DIKIBULI?
>
>  Tulisan
>  Kwik Kian Gie di bawah ini membeirkan gambaran bahwa Pemerintah
>  sebenarnya tidak rugi akibat naiknya harga BBM di pasar dunia. Aku suka
>  argumennya, karena pake angka yang jelas. Ternyata selama ini kita
>  dikibuli abis. Aku baru tahu masalah perminyakan dari baca tulisan si
>  Akang Kwik. Silakah di baca..
>
>  Subsidi BBM Bukan Pengeluaran Uang.
>  Uangnya Dilarikan Kemana?
>  Jumat, 11 April 08
>  http://www.koraninternet.com/ web/index. php?pilih= lihat&id=3760
>
>  Dengan melonjaknya
>  harga minyak mentah di pasaran dunia sampai di atas US$ 100 per barrel, DPR 
> dan
>  Pemerintah menyepakati mengubah pos subsidi BBM dengan jumlah Rp. 153 
> trilyun.
>  Artinya Pemerintah sudah mendapat persetujuan DPR mengeluarkan uang tunai
>  sebesar Rp. 153 trilyun tersebut untuk dipakai sebagai subsidi dari kerugian
>  Pertamina qq. Pemerintah. Jadi akan ada uang yang dikeluarkan?
>
>  Saya sudah
>  sangat bosan mengemukakan pendapat saya bahwa kata "subsidi BBM" itu tidak 
> sama
>  dengan adanya uang tunai yang dikeluarkan. Maka kalau DPR memperbolehkan
>  Pemerintah mengeluarkan uang sampai jumlah yang begitu besarnya, uangnya
>  dilarikan ke mana?
>
>  Dengan asumsi-asumsi untuk mendapat pengertian yang
>  jelas, atas dasar asumsi-asumsi, pengertian subsidi adalah sebagai
>  berikut.
>
>  Harga minyak mentah US$ 100 per barrel.
>  Karena 1 barrel = 159
>  liter, maka harga minyak mentah per liter US $ 100 : 159 = US$ 0,63. Kalau 
> kita
>  ambil US$ 1 = Rp. 10.000, harga minyak mentah menjadi Rp. 6.300 per
>  liter.
>
>  Untuk memproses minyak mentah sampai menjadi bensin premium kita
>  anggap dibutuhkan biaya sebesar US$ 10 per barrel atau Rp. 630 per liter. 
> Kalau
>  ini ditambahkan, harga pokok bensin premium per liternya sama dengan
>  Rp. 6.300 +
>  Rp. 630 = Rp. 6.930. Dijualnya dengan harga Rp. 4.500. Maka rugi Rp. 2.430 
> per
>  liternya. Jadi perlu subsidi.
>
>  Alur pikir ini benar. Yang tidak benar
>  ialah bahwa minyak mentah yang ada di bawah perut bumi Indonesia yang 
> miliknya
>  bangsa Indonesia dianggap harus dibeli dengan harga di pasaran dunia yang US$
>  100 per barrel. Padahal tidak. Buat minyak mentah yang ada di dalam
>  perut bumi Indonesia , Pemerintah dan Pertamina kan tidak perlu
>  membelinya? Memang ada yang
>  menjadi milik perusahaan minyak asing dalam rangka kontrak bagi hasil. Tetapi
>  buat yang menjadi hak bangsa Indonesia , minyak mentah itu tidak perlu 
> dibayar.
>  Tidak perlu ada uang tunai yang harus dikeluarkan. Sebaliknya, Pemerintah
>  kelebihan uang tunai.
>
>  Memang konsumsi lebih besar dari produksi sehingga
>  kekurangannya harus diimpor dengan harga di pasar internasional yang
>  mahal, yang
>  dalam tulisan ini dianggap saja US$ 100 per barrel.
>
>  Data yang
>  selengkapnya dan sebenarnya sangat sulit atau bahkan tidak mungkin diperoleh.
>  Maka sekedar untuk mempertanyakan apakah memang ada uang yang harus 
> dikeluarkan
>  untuk subsidi atau tidak, saya membuat perhitungan seperti Tabel
>  terlampir.
>
>  Nah kalau perhitungan ini benar, ke mana kelebihan yang Rp. 35
>  trilyun ini, dan ke mana uang yang masih akan dikeluarkan untuk apa yang
>  dinamakan subsidi sebesar Rp. 153 trilyun itu?
>
>  Seperti terlihat dalam
>  Tabel perhitungan, uangnya yang keluar tidak ada. Sebaliknya, yang
>  ada kelebihan
>  uang sebesar Rp. 35,31 trilyun.
>
>  PERHITUNGAN ARUS KELUAR MASUKNYA UANG
>  TUNAI TENTANG BBM (Harga minyak mentah 100 doll. AS)
>
>  DATA DAN
>  ASUMSI
>
>  Produksi : 1 juta barrel per hari
>
>  70 % dari produksi
>  menjadi BBM hak bangsa Indonesia Konsumsi 60 juta kiloliter per tahun Biaya
>  lifting, pengilangan dan pengangkutan US $ 10 per barrel
>  1 US $ = Rp.
>  10.000
>  Harga Minyak Mentah di pasar internasional Rp. US $ 100 per
>  barrel
>  1 barrel = 159 liter
>  Dasar perhitungan : Bensin Premium dengan
>  harga jual Rp. 4.500 per liter
>
>  PERHITUNGAN
>
>  Produksi dalam liter
>  per tahun : 70 % x (1,000.000 x 159 ) x 365 = 40,624,500,000 Konsumsi dalam
>  liter per tahun 60,000,000,000 Kekurangan yang harus diimpor dalam liter per
>  tahun 19,375,500,000 Rupiah yang harus dikeluarkan untuk impor ini 
> (19,375,500,
>  000 : 159) x 100 x 10.000 121,900,000, 000,000 Kelebihan uang dalam rupiah 
> dari
>  produksi dalam negeri 40,624,500,000 x Rp. 3.870 157,216,815, 000,000 
> Walaupun
>  harus impor dengan harga US$ 100 per barrel Pemerintah masih kelebihan uang
>  tunai sebesar 35,316,815,000, 000
>
>  Perhitungan kelebihan penerimaan uang untuk setiap liter bensin
>  premium yang dijual, Harga Bensin Premium per liter
>  (dalam rupiah) 4,500 Biaya lifting, pengilangan dan transportasi US $
>  10 per  barrel atau per liter :
>  (10 x 10.000) : 159 = Rp. 630 (dibulatkan) 630
>  Kelebihan uang per liter 3,870
>
>  Oleh Kwik Kian Gie
>
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> ------------------------------------
>
> http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
> http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda
>
>
> [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]Yahoo! Groups Links
>
>
>
>

Kirim email ke