20 September, 2008 - Published 12:37 GMT
 
                
Email kepada teman              Versi cetak
Amerika kritik kebebasan beragama Cina
 
        
Uighur
Amerika mengkritik perlakuan pemerintah atas masyarakat Uighur
Tekanan terhadap kebebasan beragama di sebagian wilayah Cina semakin
meningkat, seperti disebutkan dalam sebuah laporan pemerintah Amerika
Seikat.

Laporan tahunan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat tentang
kebebasan beragama di seluruh dunia mengkritik tindakan Beijing di
Propinsi Xinjiang yang jauh dari ibukota, maupun Propinsi Tibet.

Bersama Iran, Birma, Mesir, dan Korea Utara, Cina disebut secara
khusus dalam kritik atas penindasan kebebasan beragama sementara
Yordania dan Aljazair disebut sebagai negara yang lebih toleran.

Laporan itu juga menyebutkan sejumlah perbaikan di Arab Saudi dan Vietnam.

Ketika mengumumkan laporan itu, Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice
mengatakan kebebasan beragama merupakan 'jantung dari bangsa kami.'

"Amerika Serikat menolak tindakan yang menyerang tradisi agama
tertentu, namun kami tidak membatasi kebebasan mengungkapkan pendapat.
Hal itu hanya akan memperlemah masyarakat," tuturnya.

Rice secara khusus mengkritik upaya dalam menempatkan kritik terhadap
agama sebagai sesuatu yang melanggar hukum, seperti yang dikenal
dengan 'penghujatan agama' yang disarankan oleh sejumlah negara Islam
di PBB.

"Bukannya melindungi praktek kebebasan beragama dan mempromosikan
toleransi, konsep tersebut malah membatasi kebebasan berpendapat dan
melemahkan standar internasional tentang kebebasan beragama," kata Rice.

Untuk daftar hitam
        
Uighur
Warga Uighur dilaporkan dilarang melaksanakan tradisi suci agama

Laporan panjang tentang kebebasan beragama itu terdiri dari bagian
tentang masing-masing negara yang mencakup periode Juli 2007 hingga
Juli 2008.

Di Cina, yang menjadi sorotan adalah perlakuan atas masyarakat Uighur,
yang beragama Islam, yang sebagian besar tinggal di kawasan Xinjiang.

"Pemerintah dilaporkan terus menangkat warga Muslim Uighur karena
memiliki naskah agama yang tidak disetujui, memenjarakan mereka karena
kegiatan agama dengan menyebutnya sebagai ekstrimis, dan mencegah
mereka dalam melakukan tradisi suci keagamaan," tulis laporan tersebut.

Tertulis juga kritik atas penanganan Beijing terhadap para pengunjuk
rasa warga Tibet pada Bulan Maret, khususnya penggunaan 'kampanye
pendidikan patriotik' untuk membungkam para pembangkang.

Laporan ini digunakan untuk menyusun daftar 'negara-negara dengan
keprihatinan tertentu' yang akan diumumkan Departemen Luar Negeri
Amerika menjelang akhir tahun nanti.

Cina, Arab Saudi, Iran, Eritrea, dan Birma merupakan negara yang masuk
dalam daftar hitam Tahun 2007.

Kirim email ke