TPG 
IMAGES<http://www.kompas.com/read//xml/2008/10/21/20580555/unpad.gagas.kamus.kesehatan.berbahasa.sunda.#>
 
/<http://www.kompas.com/read//xml/2008/10/21/20580555/unpad.gagas.kamus.kesehatan.berbahasa.sunda.>
  Selasa, 21 Oktober 2008 | 20:58 WIB

*BANDUNG, SELASA -* Universitas Padjadjaran berencana membuat kamus
kesehatan berbahasa Sunda. Hal ini dilakukan guna memperkaya khazanah
pengobatan sekaligus melestarikan bahasa sekaligus aksara Sunda.

Menurut Rektor Universitas Padjadjaran Ganjar Kurnia, Selasa (21/10), ide
membuat kamus ini karena banyaknya istilah kesehatan dalam bahasa Sunda yang
belum terdata dengan baik. Meskipun artinya sama tapi karena perbedaan
kultur tertentu, seringkali diucapkan berbeda.

Ganjar mencontohkan beberapa istilah dalam masyarakat sunda untuk sakit
kepala. Di beberapa daerah lazim disebutkan *lieur * tapi ada anggota
masyarakat kerap mengatakan *leneng * bahkan di Kuningan, masyarakat
mengatakan pusing dengan sebutan *menit *.

Ganjar yakin, banyaknya istilah kesehatan dalam bahasa Sunda bisa memperkaya
khazanah dunia kedokteran. Hal ini tentu akan menjadi sumber pengetahuan
baru bagi tenaga dokter atau tenaga kesehatan lainnya, ketika berhadapan
dengan anggota masyarakat S unda yang menggunakan istilah dari daerahnya
untuk menyebutkan suatu penyakit.

Untuk teknis pembuatan, tahap awal 3 6 bulan ke depan, akan bekerjasama
dengan berbagai pihak, seperti ahli bahasa dan ahli dunia kedokteran mendata
kosakata apa saja yang kerap digunakan masyarakat. Selain itu, akan dicari
data kesehatan melalui naskah Sunda kuno yang belum diterjemahkan.
Diharapkan setelah terkumpul dan terdata dengan baik bisa segera
diperkenalkan dengan baik bagi tenaga kesehatan dan masyarakat umum.

"Diharapkan hal itu bisa memudahkan tenaga kesehatan untuk mengerti dan
mendeskripsikan sakit apa yang diderita pasiennya," katanya.

Selain itu, Ganjar juga berharap agar adanya kamus kesehatan ini bisa
menjaga kelestraian bahasa Sunda. Sangat disayangkan bila banyak istilah
atau aksara Sunda terkikis akibat jarang digunakan.

"Prinsip saya, sesuatu yang kuno, bila sudah jarang digunakan lebih baik
dimasukan ke museum sehingga bisa dinikmati sewaktu-waktu. Hal itu lebih
baik ketimbang hilang tidak berbekas," katanya.
http://www.kompas.com/read//xml/2008/10/21/20580555/unpad.gagas.kamus.kesehatan.berbahasa.sunda
.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke