27 November, 2008 - Published 12:39 GMT
 
                
Email kepada teman              Versi cetak
Dampak krisis bagi komoditi Indonesia
 
        
Sastra Wijaya di perkebunan kopi PT Sulutko di Tana Toraja
Sastra Wijaya di perkebunan kopi PT Sulutko di Tana Toraja
Krisis keuangan global dunia saat ini berdampak besar terhadap harga
komoditi perkebunan utama di Indonesia.

Yang paling menderita dan mendapatkan pemberitaan media massa adalah
harga kelapa sawit.

Namun harga kopi, karet dan coklat pun menurun, sesuai dengan
menurunnya permintaan pasar dunia.

Selain karena harga yang turun, para petani komoditas perkebunan ini
juga mengalami masalah lainnya.

Di tanaman coklat, misalnya, para petani di Pinrang Sulawesi Selatan
dipusingkan dengan hama penggerek batang yang menyerang tanaman coklat
mereka.

Di perkebunan kopi di Sumatera Utara, misalnya, masalah yang dihadapi
petani adalah masalah klasik, dimana mereka tidak bisa menentukan
harga sendiri, karena sangat tergantung pada pedagang, disebabkan biji
kopi segar mereka dijual ke luar daerah.

Di perkebunan karet, sebagai usaha untuk mengurangi produksi,
pemerintah Indonesia sudah meminta kepada para petani untuk mengurangi
penyadapan maupun melakukan peremajaan karet.

Tetapi banyak petani yang takut bahwa bibit baru yang mereka tanam
akan terkena jamur, karena akar karet dari tanaman lama tidak
sepenuhnya dicabut dari dalam tanah.

        
Petani coklat di Pinrang Sulawesi Selatan

Sastra Wijaya selama bulan Oktober dan November mengunjungi beberapa
sentra produksi komoditi perkebunan di Indonesia.

Dia mengunjungi perkebunan coklat di Kabupaten Pinrang, Sulawesi
Selatan, dan melihat industri pengolahan biji coklat di Tangerang
Propinsi Banten.

Untuk melihat kopi, dia mengunjungi Dairi di Sumatera Utara, dan Tana
Toraja di Sulawesi Selatan.

BBC juga berbicara dengan para petani kelapa sawit di Kabupaten Batang
Hari, dan Kabupaten Muara Jambi di propinsi Jambil dan di Kabupaten
Langkat di Sumatera Utara.

Sementara untuk karet, daerah yang dikunjungi adalah petani di kota
Jambi, dan Kabupaten Batang Hari.

Jambi adalah propinsi terbesar kelima penghasil karet di Indonesia.

Kirim email ke