Pernah Memotong Rambut SBY

KEMAMPUAN mencukur rambut didapat para pria di Desa Bagendit,
Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, lewat tradisi ngampung.
Biasanya, se-orang yang sudah memantapkan hati untuk menjadi tukang
cukur mencoba hidup di kampung-kampung terpencil dan mulai menawarkan
jasa potong rambut.

Dengan kepala anak-anak atau warga setempat sebagai ’bangku sekolah’,
kemampuan mencukur rambut akan terasah. Meski bagi pemula, sangat
sulit mendapat kepala yang bersedia menjadi lahan uji coba potongan
rambut.

"Bahkan awalnya, bukan pencukur yang minta bayaran, tetapi malah
membujuk orang dengan uang agar mau dicukur sebagai bahan percobaan,"
ujar Bubung Hizbullah (21), yang baru saja selesai ngampung.

Menjalani kehidupan multikonflik di Jakarta tak cukup hanya modal
nekat. Oleh karena itu, para tukang cukur perlu memperdalam ilmunya
agar mampu bertahan di tengah ganasnya ibu kota. Jika dirasa ilmu yang
didapat dari ngampung masih belum cukup, para pemula diharuskan magang
di tempat cukur di ibu kota dan diberi pelajaran tambahan untuk
memantapkan kemampuan cukur rambut mereka.

Meski berasal dari kampung, namun mereka juga mengikuti tren potongan
rambut. Jika dulu gaya rambut polka, cepak, atau bahkan golep sahedeng
banyak diminati, kini mode rambut bergeser pada bentuk skin head, dan
sebagainya. "Sebenarnya, model rambut sekarang variasi dari tahun
dulu, hanya ada perubahan pada bentuk muka depan saja. Selebihnya
sama," kata Bubung.

Bahkan, model rambut bisa diciptakan tergantung feeling tukang cukur.
Sedikitnya terdapat 1.500 kepala dengan 1.500 jenis rambut yang
berbeda, sehingga setiap potongan rambut tidak akan menimbulkan
tampilan yang sama bagi tiap orang.

Sama dengan garis tangan, semua rambut dan kepala punya karakter
masing-masng. Makanya, tukang cukur perlu punya kemampuan membaca
kepribadian dan menyarankan bentuk potongan rambut kepada pelanggan,
meski kadang tidak diterima.

"Di situ uniknya tukang cukur, sebisa mungkin mengikuti kemampuan
pelanggan dengan bentuk rambut seperti yang diinginkan, berbagai cara
potong dilakukan untuk memunculkan tampilan yang serupa. Kalau
pelanggan puas, rasanya bangga luar biasa," ujar Dede Saepudin.

Kebanggaan lain bagi tukang cukur, yaitu ketika mendapatkan pelanggan
pejabat negara. Bahkan, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun
berlangganan kepada tukang cukur asal Desa Bagendit. "Saat melayani
pejabat negara, ada kebanggaan tersendiri bagi kami. Asal bisa ngobrol
meski hanya sebentar juga sudah senang," ucapnya.

Dede sempat menjadi tukang cukur pribadi mantan Pangkopkamtib di era
Soeharto, yaitu Laksamana TNI (Purn.) Sudomo dan mantan
Menhankam/Pangab Jenderal TNI Purn. Faisal Tandjung. Bagi dia, mereka
sama saja dengan pelanggan lainnya.

"Kalau terlalu hati-hati, malah pekerjaan kita tidak akan memuaskan.
Karena itu, saya berprinsip, siapa pun orang yang berada di depan
saya, dia butuh pertolongan mengenai rambutnya. Ya sudah, saya
jalankan saja sesuai dengan permintaan. Kalau sepertinya kurang ajar,
itu karena bisa mengacak-acak rambutnya sesuka hati," katanya
berseloroh.

Tukang cukur itu seperti guru. Mereka harus terampil dan menyenangkan.
Jika berwajah sangar dan jutek, biasanya tidak disukai. Tukang cukur
juga harus berpengetahuan luas agar nyambung ketika berdialog dengan
pelanggannya.

Mereka juga menyiapkan semua perlengkapannya sendiri, dari gunting,
bedak, sisir, pisau cukur, sapu, pemotong rambut listrik, bahkan sabun
wangi.

Seorang tukang cukur memiliki kuasa luar biasa, bahkan di atas
presiden atau raja sekalipun. Dia bebas memegang, menggoyang,
mengolengkan kepala, bahkan bisa menjambak rambut sesuka hati.

Sementara itu, orang yang meminta jasanya, hanya duduk diam pasrah
dengan mata terpejam, berselimutkan kain pelapis yang terikat di
lingkar leher. Maka, mulailah jari-jemari tukang cukur menari-nari
dengan sisir dan gunting, sesekali pisau cukur di tangan mencoba
mencipta mahakarya seni rambut.

Tugas tukang cukur cukup berat. Jika mata meleng, kepala pelanggan
bisa lecet terkena pisau cukur yang terkenal tajam itu. Kalau tukang
cukur tidak amanah, bisa sekali sret… tewaslah orang itu.

Tidak ada manusia di dunia yang bisa mencukur rambutnya sendiri dengan
rapi. Oleh karena itu, semua butuh tukang cukur. Profesi mulia yang
tidak pernah sirna, hidup tukang cukur! (Ririn N.F./"PR")***

cite: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=106680

Kirim email ke