24-12-2008 16:39 WIB Badri Ismaya, dari Pembalak Liar ke Pecinta Lingkungan Sadar setelah Setetes Air Jatuh di Kepalanya
Pada 2002, Badri Ismaya menerima apresiasi istimewa dari presiden dan dianugerahi penghargaan Kalpataru sebagai sosok yang peduli terhadap kelestarian lingkungan. Bogor pun ikut harum di kancah nasional. Siapakah Badri Ismaya itu? SELAIN Frans Manansang, Au Bintoro dan Elang Gumilang, Badri Ismaya menjadi salah seorang yang mendapat penghargaan Radar Bogor Urang Bogor Boga Prestasi pada HUT ke-10 Radar Bogor. Malam penghargaan Radar Bogor di IPB International Convention Centre (IICC), Rabu (17/12) malam lalu menjadi salah satu bukti kepedulian Radar Bogor terhadap Badri Ismaya yang sudah mengharumkan Bogor. Eksistensi dan konsistensinya terhadap pelestarian lingkungan hidup dan penghijauan tetap terjaga hingga sekarang. Badri mempunyai cerita yang cukup panjang dan berliku. Badri bahkan tidak pernah bermimpi menjadi seorang pelestari lingkungan karena dulu seorang pembalak liar. Rumahnya sekarang seperti rumah pohon. Ada ratusan jenis bibit jamur dan pepohonan yang berjejer hingga menghiasi jalanan. Kediaman Badri berada di tengah-tengah pegunungan teh Gunung Mas Puncak. Rumah mungil di Kampung Kaliwung Kalimuncar Desa Tugu Utara Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor itu menjadi saksi bisu perjuangannya melestarikan lingkungan. Di kampung itulah Badri berjuang memerangi pembabatan hutan dengan melakukan penghijauan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS), khususnya Sungai Ciliwung. “Padahal dulu saya ini tukang nyuri kayu di hutan, kalau istilah sekarang mah pembalak liar,” katanya mengenang. Masa lalunya memang kontras dengan sekarang. Dulu sekitar 1975 saat usianya 25 tahun dan baru saja menikah, Badri muda menjadi pembalak liar di hutan-hutan Bogor demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Itu adalah saat-saat kelam Badri menjalani kehidupan. Kakek bercucu empat itu menjadi jagoan di hutan belantara. Bersama rekan-rekannya membabat pepohonan alias mencuri dan merusak lingkungan hidup. Dalam sebulan Badri bisa membabat puluhan pohon dengan peralatan seadanya, seperti kampak dan golok. Lalu, dijual dan uangnya untuk kehidupan sehari-hari. “Pohon-pohon itu kan milik semua orang, sebab tumbuh dengan sendirinya karena tidak ada yang merawat hutan. Itu pendapat saya saat itu,” sambungnya. Profesinya sebagai pembalak liar makin menjadi, entah sudah berapa banyak pohon yang ditebang. Sampai akhirnya Tuhan menunjukkan suatu pertanda yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidup. Saat itu, kata dia, tepat Jumat, 6 Oktober 1979, saat orang lain salat Jumat dirinya malah mencuri kayu. Tapi itulah awal dari semuanya. Pukul 12:00 WIB di pundaknya ada sebatang pohon yang baru saja dicuri. Dalam perjalanan tiba-tiba setetes air jatuh ke kepalanya. Saat itu pula Badri terhentak dan terdiam. Saat matahari bersinar terik dan tepat berada di atas kepala ada kesejukan dan kesegaran yang dirasakannya dari percikan air itu, rasa letihnya seketika hilang. “Saya sempat tertegun dan heran darimana air itu bisa jatuh. Setelah saya perhatiakn air itu ternyata keluar dari akan pohon yang saya curi,” ungkapnya. Kejadian dan rupanya sangat membekas. Badri merenung hingga sore hari memikirkan apa yang sudah dirasakannya dan tersadar pohon adalah sumber kehidupan. “Kayu yang saya bawa langsung dibuang. Sejak saat itu, bertekad akan menanam pohon di manapun. Alhamdulillah saya mendapat penghargaan dari presdien dan menerima Kalpataru tahun 2002 lalu,” ujarnya. Saat ini, entah sudah berapa banyak pohon dan berapa luas lahan yang sudah dihijaukan Badri. Menanam pohon jadi hobi dan kebiasaannya setiap hari. “Sekarang saya selalu menyempatkan waktu untuk menanam pohon di sepanjang Sungai Ciliwung dari hulu sampai hilir. Sekarang saya semakin tahu bahwa selalu ada hikmah di balik sebuah pristiwa. Kita harus banyak berenung dan berpikir,” kata Badri. Setiap hari Minggu sanga kakek ini mempunyai kesibukan mengajak anak-anak SD untuk menanam pohon demi pelestarian alam. Cikal bakal perjuangan sang ayah pun rupanya menurun ke anak-anaknya. Bukan saja Badri yang suka menanam pohon tapi juga anak-anaknya.(*) (Hendra Sudrajat ) Cite: http://www.radar-bogor.co.id/?ar_id=MjM5MTA=&click=Nw==
