All

Bencana datang lagi....!!!

Regards
Ophet
BekaKak-003

---------------------- Forwarded by Eddy Yulianto/MKI on 07/18/2006 10:38 AM
---------------------------


"Widyatama, Indra" <[EMAIL PROTECTED]> on 07/18/2006 09:44:40 AM

Please respond to [EMAIL PROTECTED]

To:
cc:    (bcc: Eddy Yulianto/MKI)

Subject:  [EBC] [OOT] Seputar Tsunami Pangandaran




Sudah 68 Orang Tewas di Pangandaran
Jumlah korban tewas akibat gelombang tsunami, khusus di Pantai Pangandaran,
Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, hingga Selasa (18/7) pagi pukul 08.30 tercatat
berjumlah 68 orang. Dua korban terakhir ditemukan di Jalan Bulak Laut
Pangandaran, sementara 72 orang luka-luka dan lebih dari seratus orang
lainnya masih belum ditemukan.
Informasi dari Posko Aju Penanggulangan Bencana Alam di Pantai Pangandaran,
sebagian besar korban masih berada di Puskesmas Pangandaran, sementara
pencarian korban kembali dilakukan sejak sekitar pukul 06.00 WIB. Jumlah
korban sebanyak itu ditemukan dari sepuluh daerah bencana, yakni Pantai
Krapyak, Pantai Barat, Pantai Timur, Batu Hiu, Karang Tirta, Bojong Salawe,
Batu Karas, Bulak Banda, Legok, dan Bulak Laut Pangandaran.
Sementara itu pencarian sejak Selasa pagi dilakukan secara intensif oleh
sedikitnya 450 personil TNI dari Kodim 0613 Ciamis dan 111 relawan serta
ratusan warga setempat, terutama yang anggota keluarganya belum ditemukan
akibat diterjang tsunami pada Senin (17/7) sore itu.
Personil TNI dan para sukarelawan juga sejak Senin sore telah mendirikan
Posko Pengungsian di berbagai tempat yang relatif aman seperti di daerah
Cijulang, Kali Pucung, Parigi, dan Cidamulih serta memfasilitasi pengungsian
ke Masjid Agung Pangandaran.

Sumber: Antara
Penulis: damanik

"Kami Melihat Ombak Setinggi Pohon Kelapa..."
Tidak ada yang mengira kawasan wisata pantai Pangandaran diterjang gelombang
tsunami hari Senin (17/7) sore. Air bah tiba-tiba datang memporak-porandakan
hampir semua bangunan yang berada di dekat pantai.
Seorang saksi mata, Min Laeni (36) yang saat ini tengah dirawat di RS Daerah
Banjaran, mengatakan, saat tsunami terjadi, ia bersama dua rekannya sedang
berjalan-jalan di kawasan Pantai Barat Pangandaran sambil minum es kelapa
muda. Min tengah mengikuti pelatihan pemberdayaan masyarakat di Hotel Bumi
Nusantara Pangandaran. Min Laeni adalah salah seorang karyawan pada Badan
Pemberdayaan Masyarakat Daerah (BPMD) Pemerintah Provinsi Jabar.
"Senin sore itu, sekitar pukul setengah empat, kami melihat ombak di pantai,
kira-kira setinggi pohon kelapa, dan kami segera berlari
sekencang-kencangnya untuk menyelamatkan diri. Dua rekan saya selamat, tapi
saya diterjang ombak, dan ketika sadar telah tersangkut di mobil yang
terbalik. Lalu saya dibawa warga ke RS Daerah Banjaran karena hampir sekujur
tubuh saya terluka, terutama di bagian tangan," tuturnya.
Ia mengaku belum mengetahui bagaimana keadaan dan nasib rekan-rekannya
sesama instruktur serta para peserta pelatihan yang berjumlah 92 orang. Saat
tsunami terjadi, dan air bah menerjang hotel Bumi Nusantara, pelatihan masih
berlangsung. "Bencana tsunami benar-benar menakutkan. Tapi saya bersyukur
masih diselamatkan Tuhan," kata warga Perumahan Cincin Permata Indah Soreang
Kabupaten Bandung itu.


Sumber: Antara
Penulis: damanik

Memahami Tsunami di Pangandaran
JAKARTA, KCM - Aceh kebobolan dan sekali lagi Pangandaran pun sedikit lepas
dari perhatian saat gempa dan tsunami lewat di sekitar pekarangan kita.
Ibarat tamu tak diundang, gempa dan tsunami selalu datang tiba-tiba. Sampai
sekarang, tidak seorang ahli pun yang terbukti mampu mendeteksi
kedatangannya dengan tepat.
Ancaman tsunami di Pangandaran, Jawa Barat memang telah diprediksi jauh-jauh
hari seperti halnya gempa dan tsunami seperti di Aceh atau gempa merusak di
Yogyakarta. Namun, tidak dapat dipastikan dengan tepat kapan datangnya, bisa
ratusan tahun, puluhan tahun, bahkan hitungan bulan dan hari.
Sejauh ini, para ahli geologi, geofisika, dan disiplin ilmu lain yang
mendukung telah dapat memperkirakan terjadinya gempa dan tsunami di sutau
kawasan berdasarkan siklus catatan sejarah. Sayangnya belum semua daerah
teramati dan memiliki catatan sejarah kegempaan. Maka, pemahaman mengenai
terjadinya gempa dan tsunami menjadi hal yang sangat penting untuk
mengantisipasi jatuhnya korban.
Pangandaran dan Aceh
Ketidaktahuan masyarakat atau pemahaman yang bermacam-macam sering
menimbulkan kebingungan dan keresahan saat terjadi bencana. Pemahaman yang
tepat perlu ditanamkan, misalnya, tidak semua gempa bisa menimbulkan
tsunami. Menurut Kepala Bidang Seismologi Teknik dan Tsunami Badan
Meteorologi dan Geofisika (BMG) Fauzi, Ph. D., tsunami umumnya dipicu gempa
yang berkekuatan lebih dari 6,5 Skala Richter (SR) dan pusat gempa berada di
laut.
Gempa yang terjadi Senin (17/7) pukul 15.19 WIB, misalnya, berpusat di
selatan Pulau Jawa, tepatnya 9,46 Lintang Selatan (LS) dan 107,19 Bujur
Timur (BT) pada kedalaman 33 kilometer. Terukur dengan kekuatan 6,8 Skala
Richter (SR) oleh BMG dan 7,2 Mw (momen magnitude) yang kemudian direvisi
menjadi 7,7 Mw oleh United States Geological Survey (USGS), gempa terjadi di
laut sehingga berpotensi menghasilkan tsunami.
Pacific Tsunami Warning System di Hawaii juga sempat mengingatkan potensi
tsunami karena gempa. Alat pengukur tinggi gelombang (tide gauge) terdekat
yang terpasang di Benoa, Bali mengukur kenaikan muka air laut setinggi 4
centimeter yang menunjukkan potensi terjadinya tsunami di pantai-pantai
terdekat dari pusat gempa baik di Indonesia maupun Australia.
Proses terjadinya tsunami di Pangandaran dan sebagian pantai selatan Pulau
Jawa pada dasarnya tidak berbeda dengan tsunami di Aceh. Keduanya sama-sama
dipicu gempa tektonik di sekitar zona subduksi atau penunjaman lempeng
Indo-Australia dan Eurasia. Hanya saja, kekuatan gempa yang lebih kecil dan
jarak yang jauh dari daratan membuat tsunami yang menyapu sebagian pantai
selatan Pulau Jawa itu lebih lemah daripada tsunami di Aceh.
Pusat gempa berada di sekitar zona penunjaman yang merupakan ujung pertemuan
lempeng Indo-Asia dengan Australia. Pergeseran lempeng ini sebenarnya terus
terjadi sejak terbentuknya lempeng-lempeng tersebut jutaan tahun lalu.
Seiring berjalannya waktu, gaya dorong mendorong kedua lempeng menyebabkan
energi terkumpul di titik tersebut. "Karena kedua lempeng tidak sanggup lagi
menahan energi yang terkumpuk, energi dilepaskan sehingga menghasilkan
gempa," kata Fauzi.
Saat energi dilepaskan, lempeng Eurasia yang berada di atas lempeng
Indo-Australia terangkat sehingga mendorong gejolak air laut di atasnya.
Gejolak air laut akan mengalir ke segala arah dalam bentuk gelombang yang
merambat dengan kecepatan hingga 800 kilometer perjam. Air laut di daratan
terdekat sempat surut karena tertarik energi gelombang yang terangkat di
atas zona penunjaman.
"Ketinggian gelombang saat masih di dekat epicenter (pusat gempa) hanya
sekitar 1 hingga 1,3 meter," kata Fauzi. Namun, ketinggian gelombangnya akan
semakin tinggi ketika mendekati pantai yang mendangkal. Sebagaimana
dilaporkan masyarakat di lapangan, tinggi gelombang saat memecah bibir
pantai mencapai 4 meter hingga 10 meter.
Beruntung gempa tidak sebesar di Aceh dan pusat gempa tidak dekat daratan
sehingga tidak terjadi tsunami hebat seperti di Aceh. Karena jaraknya cukup
jauh energi yang dibawa gelombang juga meredam. Namun, begitu memecah bibir
pantai, air laut masih menyisakan energi untuk menyapu daratan hingga sejauh
100 hingga 200 meter.
Karena pantai lebih rendah daripada daratan, air laut akan kembali dengan
arus balik yang kecepatannya mungkin lebih tinggi daripada saat masuk ke
darat. Arus balik setelah tsunami inilah yang bisa menjadi penyebab
terseretnya korban manusia maupun benda-benda di dekat pantai ke laut.

Penulis: Wah
 <<gempajawa.jpg>>


IMPORTANT NOTICE:

The information in this email (and any attachments) is confidential.
If you are not the intended recipient, you must not use or disseminate the
information.
If you have received this email in error, please immediately notify me by
"Reply" command
and permanently delete the original and any copies or printouts thereof.
Although this email and any attachments are believed to be free of any virus
or
other defect that might affect any computer system into which it is received
and opened,
it is the responsibility of the recipient to ensure that it is virus free
and no responsibility
is accepted by American International Group, Inc. or its subsidiaries or
affiliates either
jointly or severally, for any loss or damage arising in any way from its
use.



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

****************************************************************************
Mailing list bekakak  : [email protected]
Website bekakak     : www.bekakak.or.id
Hubungi BOM           : [EMAIL PROTECTED]
Hubungi Pengurus    : [EMAIL PROTECTED]

"BekaKak Peduli Yogya - Jateng" dengan no rek. BCA A/n HENDRO CAHYONO BCA 
CAB.DANAU SUNTER 4191 286 965. Rekening ini akan di buka sampai dengan 13 
Agusutus 2006
**************************************************************************** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bekakak/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
Title: [OOT] Seputar Tsunami Pangandaran

Sudah 68 Orang Tewas di Pangandaran
Jumlah korban tewas akibat gelombang tsunami, khusus di Pantai Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, hingga Selasa (18/7) pagi pukul 08.30 tercatat berjumlah 68 orang. Dua korban terakhir ditemukan di Jalan Bulak Laut Pangandaran, sementara 72 orang luka-luka dan lebih dari seratus orang lainnya masih belum ditemukan.

Informasi dari Posko Aju Penanggulangan Bencana Alam di Pantai Pangandaran, sebagian besar korban masih berada di Puskesmas Pangandaran, sementara pencarian korban kembali dilakukan sejak sekitar pukul 06.00 WIB. Jumlah korban sebanyak itu ditemukan dari sepuluh daerah bencana, yakni Pantai Krapyak, Pantai Barat, Pantai Timur, Batu Hiu, Karang Tirta, Bojong Salawe, Batu Karas, Bulak Banda, Legok, dan Bulak Laut Pangandaran.

Sementara itu pencarian sejak Selasa pagi dilakukan secara intensif oleh sedikitnya 450 personil TNI dari Kodim 0613 Ciamis dan 111 relawan serta ratusan warga setempat, terutama yang anggota keluarganya belum ditemukan akibat diterjang tsunami pada Senin (17/7) sore itu.

Personil TNI dan para sukarelawan juga sejak Senin sore telah mendirikan Posko Pengungsian di berbagai tempat yang relatif aman seperti di daerah Cijulang, Kali Pucung, Parigi, dan Cidamulih serta memfasilitasi pengungsian ke Masjid Agung Pangandaran.


Sumber: Antara
Penulis: damanik

"Kami Melihat Ombak Setinggi Pohon Kelapa..."
Tidak ada yang mengira kawasan wisata pantai Pangandaran diterjang gelombang tsunami hari Senin (17/7) sore. Air bah tiba-tiba datang memporak-porandakan hampir semua bangunan yang berada di dekat pantai.

Seorang saksi mata, Min Laeni (36) yang saat ini tengah dirawat di RS Daerah Banjaran, mengatakan, saat tsunami terjadi, ia bersama dua rekannya sedang berjalan-jalan di kawasan Pantai Barat Pangandaran sambil minum es kelapa muda. Min tengah mengikuti pelatihan pemberdayaan masyarakat di Hotel Bumi Nusantara Pangandaran. Min Laeni adalah salah seorang karyawan pada Badan Pemberdayaan Masyarakat Daerah (BPMD) Pemerintah Provinsi Jabar.

"Senin sore itu, sekitar pukul setengah empat, kami melihat ombak di pantai, kira-kira setinggi pohon kelapa, dan kami segera berlari sekencang-kencangnya untuk menyelamatkan diri. Dua rekan saya selamat, tapi saya diterjang ombak, dan ketika sadar telah tersangkut di mobil yang terbalik. Lalu saya dibawa warga ke RS Daerah Banjaran karena hampir sekujur tubuh saya terluka, terutama di bagian tangan," tuturnya.

Ia mengaku belum mengetahui bagaimana keadaan dan nasib rekan-rekannya sesama instruktur serta para peserta pelatihan yang berjumlah 92 orang. Saat tsunami terjadi, dan air bah menerjang hotel Bumi Nusantara, pelatihan masih berlangsung. "Bencana tsunami benar-benar menakutkan. Tapi saya bersyukur masih diselamatkan Tuhan," kata warga Perumahan Cincin Permata Indah Soreang Kabupaten Bandung itu.



Sumber: Antara
Penulis: damanik

Memahami Tsunami di Pangandaran
JAKARTA, KCM - Aceh kebobolan dan sekali lagi Pangandaran pun sedikit lepas dari perhatian saat gempa dan tsunami lewat di sekitar pekarangan kita. Ibarat tamu tak diundang, gempa dan tsunami selalu datang tiba-tiba. Sampai sekarang, tidak seorang ahli pun yang terbukti mampu mendeteksi kedatangannya dengan tepat.

Ancaman tsunami di Pangandaran, Jawa Barat memang telah diprediksi jauh-jauh hari seperti halnya gempa dan tsunami seperti di Aceh atau gempa merusak di Yogyakarta. Namun, tidak dapat dipastikan dengan tepat kapan datangnya, bisa ratusan tahun, puluhan tahun, bahkan hitungan bulan dan hari.

Sejauh ini, para ahli geologi, geofisika, dan disiplin ilmu lain yang mendukung telah dapat memperkirakan terjadinya gempa dan tsunami di sutau kawasan berdasarkan siklus catatan sejarah. Sayangnya belum semua daerah teramati dan memiliki catatan sejarah kegempaan. Maka, pemahaman mengenai terjadinya gempa dan tsunami menjadi hal yang sangat penting untuk mengantisipasi jatuhnya korban.

Pangandaran dan Aceh
Ketidaktahuan masyarakat atau pemahaman yang bermacam-macam sering menimbulkan kebingungan dan keresahan saat terjadi bencana. Pemahaman yang tepat perlu ditanamkan, misalnya, tidak semua gempa bisa menimbulkan tsunami. Menurut Kepala Bidang Seismologi Teknik dan Tsunami Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Fauzi, Ph. D., tsunami umumnya dipicu gempa yang berkekuatan lebih dari 6,5 Skala Richter (SR) dan pusat gempa berada di laut.

Gempa yang terjadi Senin (17/7) pukul 15.19 WIB, misalnya, berpusat di selatan Pulau Jawa, tepatnya 9,46 Lintang Selatan (LS) dan 107,19 Bujur Timur (BT) pada kedalaman 33 kilometer. Terukur dengan kekuatan 6,8 Skala Richter (SR) oleh BMG dan 7,2 Mw (momen magnitude) yang kemudian direvisi menjadi 7,7 Mw oleh United States Geological Survey (USGS), gempa terjadi di laut sehingga berpotensi menghasilkan tsunami.

Pacific Tsunami Warning System di Hawaii juga sempat mengingatkan potensi tsunami karena gempa. Alat pengukur tinggi gelombang (tide gauge) terdekat yang terpasang di Benoa, Bali mengukur kenaikan muka air laut setinggi 4 centimeter yang menunjukkan potensi terjadinya tsunami di pantai-pantai terdekat dari pusat gempa baik di Indonesia maupun Australia.

Proses terjadinya tsunami di Pangandaran dan sebagian pantai selatan Pulau Jawa pada dasarnya tidak berbeda dengan tsunami di Aceh. Keduanya sama-sama dipicu gempa tektonik di sekitar zona subduksi atau penunjaman lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Hanya saja, kekuatan gempa yang lebih kecil dan jarak yang jauh dari daratan membuat tsunami yang menyapu sebagian pantai selatan Pulau Jawa itu lebih lemah daripada tsunami di Aceh.

Pusat gempa berada di sekitar zona penunjaman yang merupakan ujung pertemuan lempeng Indo-Asia dengan Australia. Pergeseran lempeng ini sebenarnya terus terjadi sejak terbentuknya lempeng-lempeng tersebut jutaan tahun lalu. Seiring berjalannya waktu, gaya dorong mendorong kedua lempeng menyebabkan energi terkumpul di titik tersebut. "Karena kedua lempeng tidak sanggup lagi menahan energi yang terkumpuk, energi dilepaskan sehingga menghasilkan gempa," kata Fauzi.

Saat energi dilepaskan, lempeng Eurasia yang berada di atas lempeng Indo-Australia terangkat sehingga mendorong gejolak air laut di atasnya. Gejolak air laut akan mengalir ke segala arah dalam bentuk gelombang yang merambat dengan kecepatan hingga 800 kilometer perjam. Air laut di daratan terdekat sempat surut karena tertarik energi gelombang yang terangkat di atas zona penunjaman.

"Ketinggian gelombang saat masih di dekat epicenter (pusat gempa) hanya sekitar 1 hingga 1,3 meter," kata Fauzi. Namun, ketinggian gelombangnya akan semakin tinggi ketika mendekati pantai yang mendangkal. Sebagaimana dilaporkan masyarakat di lapangan, tinggi gelombang saat memecah bibir pantai mencapai 4 meter hingga 10 meter.

Beruntung gempa tidak sebesar di Aceh dan pusat gempa tidak dekat daratan sehingga tidak terjadi tsunami hebat seperti di Aceh. Karena jaraknya cukup jauh energi yang dibawa gelombang juga meredam. Namun, begitu memecah bibir pantai, air laut masih menyisakan energi untuk menyapu daratan hingga sejauh 100 hingga 200 meter.

Karena pantai lebih rendah daripada daratan, air laut akan kembali dengan arus balik yang kecepatannya mungkin lebih tinggi daripada saat masuk ke darat. Arus balik setelah tsunami inilah yang bisa menjadi penyebab terseretnya korban manusia maupun benda-benda di dekat pantai ke laut.


Penulis: Wah
<<gempajawa.jpg>>


IMPORTANT NOTICE:

The information in this email (and any attachments) is confidential.
If you are not the intended recipient, you must not use or disseminate the information.
If you have received this email in error, please immediately notify me by "Reply" command
and permanently delete the original and any copies or printouts thereof.
Although this email and any attachments are believed to be free of any virus or
other defect that might affect any computer system into which it is received and opened,
it is the responsibility of the recipient to ensure that it is virus free and no responsibility
is accepted by American International Group, Inc. or its subsidiaries or affiliates either
jointly or severally, for any loss or damage arising in any way from its use.

<<attachment: gempajawa.jpg>>

Kirim email ke