Membaca berita penipuan melalui SMS sudah polusi dimedia masa. Namun melihat dengan mata kepala sendiri peristiwa yang berlangsung begitu cepat. Ya baru kali ini.
Saat memarkirkan kendaraan di kawasan AlfaMart Jati Warna, Pondok Gede untuk mengambil uang di ATM BCA, sempat melihat sedikit kepanikan. Pasalnya mbak Imah (sebut saja begitu) sedang dituntun oleh seseorang melalui tilpun untuk mengisi voucher yang sebetulnya adalah nomor rekening sang penipu. Kami segera sadar penipuan sedang berjalan. Namun mbak Imah yang sudah ditowel berkali-kali oleh pengantri lainnya bahwa ia ditipu, nampaknya bergeming. Dia baru sadar setelah saldonya tinggal 100.000 rupiah sehingga tidak cukup untuk membeli pulsa lagi. Padahal semula kami masih melihat 7 digit lalu mundur menjadi 6 digit didepan koma. Semula ia heran mendengar suara penilpun yang seperti mengubah intonasi suaranya. Namun keburu tersihir lantaran iming-iming "Hadiahnya cuma-cuma, tidak dikenai pajak, apalagi batas hari pengambilan hadiah tinggal hari ini." Arisan di kantor saja, kalau pesertanya tidak muncul, langsung digeser ke peserta lainnya. Mana ada hadiah sampai menunggu berhari-hari untuk diambil. "Mudah sekali orang menipu saya?" tanyanya lemas. Mungkin maksudnya mengapa ia mudah tertipu. Dia mengaku sering dapat SMS gelap, namun karena dibombardir terus menerus, tergoda juga rupanya untuk coba-coba. "Karena masih ada orang percaya bahwa kalau kita tidak pernah menipu orang, kita tidak akan ditipu...tanpa pernah menggunakan sikap kritis" saya menambahkan. "Iyalah, pengalaman ya Pak!" - lalu ia melihat ke layar handphone sesekali untuk memastikan bahwa ia tidak bermimpi. Toh dia masih memencet hanphonenya sambil bertanya "Mas kamu nipu aku ya?" salam hendro -- BekaKak #004 =================================
