Ini Mesti Mas Hendro Ga Kebagian Yang Jelas.makanya mengikuti beritanya.
  kalau aku sih kebagian walau dikit he he jadi ga komen..... inimah 
mengometari mas Hendro Doangan He he he he......
   
  Bekakak
  Bebek ga jelas

hendro cahyono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Gunung esnya Maria Eva ini tentu tidak mak nyusss..., seperti 
gunung es campurnya "Pak San" di Cilacap. Tapi ini kisah tentang sebuah 
fenomena, yang bisa jadi benar, bisa jadi salah. Bukan hanya penderita HIV/AIDS 
saja yang bisa membentuk fenomena gunung es, tapi penderita (sebenarnya lebih 
tepat disebut penyuka, karena memang tidak menderita) selingkuh juga bisa 
membentuk fenomena gunung es. 

Ini hanya sebuah unek-unek tentang semangat yang rada mengada-ada, mungkin 
su'udzdzon (berprsangka buruk), tapi mungkin juga make sense.....!

*** 

Hari-hari ini sebagian besar penonon televisi di Indonesia sedang "terjebak' 
untuk terpaksa mengambil bagian dalam menggunjing aib orang lain. Sebut saja 
penggunjing pasif. Pasalnya tidak turut ngomong, melainkan ter-fait-acompli 
untuk turut mengikuti perkembangan ceritanya. Kemanapun saluran TV 
di-ceklek-kan, kisah aib orang lainlah yang muncul pathing pecothot....., 
berhamburan tak terkendali. 
Puncak tangganya diduduki oleh beredarnya film adegan saru (lebih enak didengar 
ketimbang mesum) perselingkuhan yang berujung perseteruan, antara Maria Eva 
versus Yahya Zaini. Keduanya public figure (meskipun sebelumnya saya juga tidak 
pernah tahu kiprah maupun seluk dan beluknya kedua orang itu). 
Karena itu, tentu saja tidak bebas dari kepentingan, baik kepentingan diri 
sendiri maupun (apalagi) orang lain.. 

Anggap saja aib perselingkuhan itu sebagai sebuah "insiden" (tapi 
direncanakan), yang kalau dijabarkan menjadi : sebuah insiden perselingkuhan, 
yang konangan (ketahuan) istri dari pelaku laki-laki, sempat direkam, hasil 
rekamannya sempat beredar, dan pilem itu jadi pembicaraan orang (karena 
menyangkut tokoh atau selebriti). 

Anggap saja "insiden" Maria Eva ini bak sebuah puncak gunung es, maka lereng, 
tebing, lembah dan kaki gunung es yang berada di bawah permukaan air itu bisa 
jadi lebih nggegirisi (mengerikan). Ambil saja perbanyakannya mengikuti deret 
ukur kelipatan sepuluh, maka rekonstruksi ceritanya bisa menjadi demikian : 

Ada sebuah "insiden" Maria Eva.
Ada sepuluh "insiden" yang filmnya tidak menjadi pembicaran orang.
Ada seratus "insiden" yang filmnya tidak sempat beredar.
Ada seribu "insiden" yang tidak sempat direkam. 
Ada sepuluh ribu "insiden" yang tidak konangan istri atau keluarganya.

Lalu, bagaimana kalau ternyata kaki gunung es yang berada di bawah permukaan 
air laut itu membentuk dataran yang mbleber kemana-mana seperti lumpur Lapindo? 
Perbanyakannya bisa-bisa lebih dari deret ukur kelipatan sepuluh, melainkan 
eksponensial? 

Barangkali ada seratus ribu, sejuta atau lebih banyak lagi, "insiden" yang 
tidak direncanakan,
"just-in-time", ujug-ujug terjadi begitu saja........., dimana-mana, tak kenal 
papan lan panggonan (waktu dan tempat), dan pakaian seragam (toh akan dilepas 
juga). 

*** 

Waktu terus berlalu. Yang sudah terjadi akan tetap terjadi, tidak bisa 
di-tip-ex atau di-delete. "Maria
Eva" lainnya yang kini masih thenguk-thenguk (diam tepekur) di dasar lautan 
semakin hari semakin gerah. 
Bukan soal salah siapa. Melainkan kalau ada sepasang pelaku "insiden", kenapa 
satu pihak tetap tampak disubyo-subyo (disanjung-sanjung) dan malah menikmati 
aneka keistimewaan. Sementara pihak lainnya menanggung derita batin, tenggelam 
dalam nasi yang sudah kadung jadi bubur. Itu tentu karena kepentingan telah 
berganti antara yang dulu dan sekarang. 
  Kepentingan (interest) memang tidak tak lekang oleh panas, tidak tak lapuk 
oleh hujan, apalagi gempa atau banjir lumpur. Belum lagi karena karir, 
prestise, kemapanan dan kenyamanan yang berfluktuasi dari waktu ke waktu. 

Mudah-mudahan kaki gunung esnya Maria Eva tidak mencair, yang lalu mbleber ke 
wartawan infotainment. 
  Pertama, agar waktu dan energi bangsa ini tidak terbuang percuma. Kedua, agar 
saya tidak perlu menjual TV di rumah yang gambarnya sudah agak rusak akibat 
digulingkan oleh Gempa Yogya dan kini semakin rusak gambarnya oleh tayangan aib 
orang lain, plus dengan lugu-nya (maksudnya : lu guoblok...) dimunculkannya 
cuplikan adegan saru itu. Ya, hanya oknum televisi guoblok saja yang menganggap 
cuplikan tayangan itu pantas muncul di tengah keluarga. 

Jagad....jagad......., yang namanya aib memang tidak ada yang sopan. Sama aib 
dan tidak sopannya adalah mereka yang suka mengutak-atik aib orang lain, lalu 
mengumbarkannya kepada tetangganya sebangsa dan setanah air. 
  Seolah berkata : Mari kita melakukan aib rame-rame seperti potong padi di 
sawah atau berjama'ah seperti jum'atan..... 
salam,

-- 
Ryolix Kienka
BekaKak #004
AA 5377 LA
=================================   

         

 __________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 

Kirim email ke